Menulis Jurnal Bukanlah Sekedar Dear Diary

Menulis jurnal membantu seseorang membangun dirinya sendiri

Menulis Jurnal Bukanlah Sekedar Dear Diary
Photo by Evie S. from Unsplash

Bagi millenial kelahiran 90an dan di atasnya, kita masih sempat merasakan anjuran untuk menulis jurnal setiap harinya. Dulu, kebiasaan ini lebih dikenal sebagai menulis diary. Anjuran ini tidak hanya diberikan oleh guru bahasa Indonesia, tetapi juga melalui berbagai eksposur di media, entah melalui tayangan anak-anak atau apapun.

Dan, kebiasaan ini sebenarnya masih cukup didukung karena waktu kita masih SD dulu, di awal tahun 2000an, ada berbagai macam note lucu yang sanga populer di kalangan anak-anak, dan ini sering disebut orgy

Tapi, semakin kita tua, kebiasaan ini semakin tertinggal. Malah bagi generasi Z di bawah kita, mereka hampir tidak ada yang akrab dengan hal ini karena lebih bersentuhan dengan benda digital.

Padahal, menulis jurnal setiap harinya adalah sebuah kebiasaan yang sangat berimbas bagi perkembangan diri sendiri. Dan sebagai generasi digital, orang sudah banyak terbantu karena sekarang banyak aplikasi digital penyedia layanan menulis jurnal. Sehingga, kamu tidak perlu lagi membuka buku dan menyiapkan alat tulis. 

Kebiasaan yang sering diremehkan ini sama sekali tidak bisa disepelekan. Setidaknya ada beberapa manfaat umum yang dirasakan. 

Membantu mengenali diri sendiri

Menulis jurnal untuk mengenal diri sendiri
Ketika kamu menulis jurnal setiap harinya, kamu bisa melihat sesuatu yang sudah kamu lalui dan yang akan kamu lakukan. Ketika kamu menuliskan hal-hal tersebut, yang terjadi bukanlah hanya proses menulis, tapi juga menalar ulang segala sesuatu yang terjadi seiring bertambahnya kalimat .

Artinya, menulis jurnal adalah sbeuah proses yang sangat bagus untuk merefleksikan kehidupanmu. Kamu dibantu untuk lebih mengenali diri sendiri melalui proses menulis tersebut. 

Ketika kamu menulis sebuah jurnal harian, kamu dalam situasi yang paling jujur.

Kondisi di mana kamu menjadi dirimu sendiri inilah yang akan membuatmu memikirkan ulang diri yang ingin kamu bentuk. 

Saat ini, banyak dari kita yang kehilangan diri sendiri bukan hanya karena rasa takut akan kesepian, tapi juga karena ketiadaan waktu untuk memikirkan diri sendiri.

Jadi, menulis jurnal adalah sebuah cara untuk kembali mendefiniskan siapa dirimu dan berjalan pada track yang ingin kamu lalui. Dan karena otak tidak suka ambiguitas, menulis jurnal membantumu memperjelas segala sesuatunya. 

Melatih kemampuan menulis

Menulis jurnal melatih kemampuan menulis
Kemampuan menulis masih dianggap sebagai skill eksklusif yang tidak semua orang bisa memilikinya. Padahal, layaknya bicara, kemampuan menulis juga bersifat inklusif, semua orang bisa melakukannya, dengan catatan kontinuitas.

Kemampuan menulis tidak hanya menambah materi CVmu. Pada dasarnya sebagai sebuah cara komunikasi, kemampuan menulis adalah sbeuah hal yang krusial. Salah satunya adalah karena lahan menulis kita saat ini tidak hanya di atas kertas, tapi karena justru sebagian besar di kolom sosial media.

Karena itulah, kemampuan menulis bisa diandaikan jalan beraspal bebas hambatan. Ketika seseorang memiliki kemampuan menulis yang baik, ia bisa menyampaikan maksud yang disampaikannya secara jelas dan minim interpretasi yang tidak sesuai maksud sebenarnya.

Kelihatannya sih ini hal sepele karena pasti banyak yang berpikir bahwa bahasa sosial media adalah bahasa informal. Padahal, baik itu penyampaian secara formal atau informal, kemampuan menulis membuat komunikasi lebih efektif. 

Membantu mengosongkan pikiran

Mengosongkan pikiran dengan menulis jurnal
Mencari hiburan atau sesuatu yang bisa mengaburkan fokus kita terhadap sumber masalah adalah cara paling umum yang dilakukan banyak orang. Namun, hal itu tidak selalu menjamin perasaan stres dan pikiran berkabut tidak kembali datang. Menulis jurnal, sekali lagi, membantu memperjelas, setidaknya dua hal, yaitu pikiran dan perasaan kita.

Membantu mengosongkan pikiran lewat menulis jurnal adalah suatu metide katarsis di mana dalam prosesnya, kamu dibantu memahami perasaan lewat kata-demi kata yang ditulis.

Bagaimana bisa? Hal itu dikarenakan saat menulis, baik nalar atau perasaanmu saling bekerja sama. Karena itulah menulis jurnal sangat membantu seseorang yang sedang kesulitan memahami perasaan yang ia rasakan. 

Menulis jurnal juga mengosongkan sesampahan yang tersimpan dalam pikiranmu sehingga tentu saja mengurangi stres. Sambil menulis, kamu tidak hanya membuang segala carut marut di sana, tapi kamu juga bisa mendapat pencerahan karena menulis adalah sebuah pekerjaan yang berimbas elaboratif terhadap pikiran.

Sangat mungkin, dan hampir selalu, ketika kamu menulis jurnal, kamu tidak hanya menemukan wadah menumpahkan rasa tertekan dan pikiran yang amburadul, tapi juga solusi bagi mereka. 

Membuat blueprint kehidupan mulai dari skala sehari-hari hingga beberapa tahun mendatang

Menulis jurnal sehari-hari
Alasan terakhir mengapa menulis jurnal begitu penting adalah, kegiatan ini membantumu membuat janji dengan dirimu sendiri. Dibanding hanya membayangkan atau merencanakan di awan-awan pikiranmu, membuat segalanya tertulis jelas akan mendorong dirimu untuk membangun komitmen terhadap diri sendiri.

Karena itulah mungkin kamu sering melihat berbagai motivator mengkisahkan orang-orang besar yang sukses dengan kebiasaan menulis jurnal. Ini bukan segmen yang sengaja ditambahkan untuk melambungkan daya tarik motivator itu sendiri kok. Ini memang nyata.

Menulis jurnal memang mendorong seseorang untuk bersikap lebih realistis terhadap kehidupannya. Dalam artian untuk tidak hanya membuat segala perencanaan hanya sebatas awang-awang dan mimpi, tapi benar-benar merealisasikannya. 

Jurnal yang dibuat dalam skala masa depan memang membuatmu lebih fokus. Tapi, fungsinya berbeda dengan jurnal yang ditulis sehari-hari.

Jurnal sehari-hari bisa kamu buat tidak hanya berisi tumpahan pikiran dan perasaan, tapi juga agenda tentang apa-apa yang akan kamu lakukan di hari tersebut dan hari berikutnya. Sehingga, kamu akan tetap fokus di hari tersebut dan tidak banyak hal yang harus kamu ingat.

Artinya, menulis jurnal juga membantumu merawat otak.


Kebiasaan ini sangat umum dilakukan oleh orang dewasa di negara lain, terutama Eropa dan Amerika. Sangat banyak dari mereka yang membuat artikel tentang manfaat menulis jurnal sehari-hari. Dan secara umum, manfaat-manfaat di ataslah yang didapatkan.

Tapi, dalam proses menulis jurnal itu sendiri, kamu bisa memikirkan ulang dan mengkoreksi berbagai pandangan hidup yang selama ini kamu percaya. Intinya, menulis jurnal bukan hanya soal meluapkan perasaan, tapi juga mengekskalasi kedewasaan dan pengembangan diri.