Menulis Memang untuk Keabadian!

Menulis untuk keabadian, menulis adalah membuat sejarah!

Menulis Memang untuk Keabadian!
Photo by Luca Laurence from Unsplash

Seperti kata Pram, menulis adalah bekerja untuk keabadian. Bukan hanya si penulis saja yang abadi, tetapi apa dan siapa yang ia tulis juga akan abadi. Karena itu, mungkin kamu pernah mendengar ungkapan romantis atau bahkan gombalan yang mengatakan, "Aku akan menikahi seorang penulis, dengan begitu aku akan abadi".

Memang benar adanya, tidak jarang seorang penulis mengabadikan pasangannya sebagai muse untuk karyanya sendiri, entah itu tertuang secara eksplisit atau tidak. Mungkin bagi kamu yang iseng-iseng-serius bisa menjadikan ini sebagai kriteria mencari pasangan (?).

Sebenarnya, menulis untuk keabadian tidak hanya berlaku absolut untuk penulis yang karyanya terpublikasi saja. Meskipun kamu juga menulis untuk dirimu sendiri, katakanlah dalam buku harian, pada hakikatnya itu juga merupakan menulis untuk keabadian. Lhoh, kenapa bisa?

Menulis adalah merupa sesuatu yang abstrak maupun wujud dari sekitar, batin serta pikiranmu. Ketika kamu menulis sebuah jurnal atau catatan harian, sesuatu yang pernah berlalu akan menjadi abstrak di masa kini, karena itulah aksara membuatnya tetap wujud dan abadi.

Tapi, kalau bisa menulis bukan hanya untuk diri sendiri, kenapa tidak? Meskipun kamu hanyalah satu dari miliaran penulis di periode digital saat ini, tetap saja, membuatnya terpublikasi, sama dengan merekam sejarahmu sendiri. Di zaman ini, tulisan siapapun sangat bisa terjamah, jadi kamu bisa cukup optimis untuk memiliki pembaca tulisanmu.

Di samping itu, berbagai fasilitas digital yang kita dapatkan saat ini bukanlah alasan yang bagus untuk menunda-nunda dirimu menghasilkan tulisan. Apalagi kalau kamu percaya dengan sederet quotes ini!

Menulis adalah memperpanjang amal

Menulis untuk keabadian

 “Kalau usiamu tak mampu menyamai usia dunia, maka menulislah. Menulis memperpanjang ada-mu di dunia dan amalmu di akhirat kelak.”- Helvy Tiana Rosa

 

Memang benar bukan, kata-kata mbak Helvy ini? Apapun itu agamamu, menulis adalah catatan amalmu juga. Tentu saja ini tidak berlaku untuk sebuah tulisan ungkapan kebencian, pastinya sesuatu yang positif ya.

Apalagi, dengan kehebatan teknologi digital yang ada dan mampu melipat-gandakan pembaca lebih dari jaman dulu, semakin banyak orang yang bisa mendapat inspirasi dari tulisanmu.

Karena itulah, menulis untuk keabadian di sini bukan hanya soal mngabadikan nama saja. Tapi, semakin banyak orang yang mengambil manfaat dari tulisanmu, semakin banyak juga pahala yang kamu catatkan. 

Penghayatan membuat kita ada

Menulis untuk keabadian

“Apa boleh buat, jalan seorang penulis adalah jalan kreativitas, di mana segenap penghayatannya terhadap setiap inci gerak kehidupan, dari setiap detik dalam hidupnya, ditumpahkan dengan jujur dan total, seperti setiap orang yang berusaha setia kepada hidup itu sendiri—satu-satunya hal yang membuat kita ada.” Seno Gumira Ajidarma, Ketika Jurnalisme Dibungkam Sastra Harus Bicara

Salah satu alasan mengapa kamu tidak perlu takut untuk tidak punya pembaca adalah, karena menulis adalah bagian dari kreatifitas. Di mana setiap karya kreatif pasti akan selalu ada penikmat dan khalayaknya sendiri. Mengapa ia selalu punya khalayaknya sendiri? Karena tulisan adalah sesuatu yang orisinal dan tidak mungkin sama, kecuali hasil jiplakan hehe.

Untuk menulis, seseorang tentu saja berangkat entah dari keresahan, rasa suka-cita, ketakutan, kemuraman, atau bahkan luapan ide tak terbendung yang datang dari dirinya sendiri.

Sebagaimana kata Seno Gumira di atas, "...segenap penghayatannya terhadap setiap inci gerak kehidupan, darri setiap detik dalam hidupnya, ditumpahkan secara jujur dan total...". Inilah yang membuat setiap tulisan terasa otentik, karena terasa berangkat sebagai diri keduanya si penulis. 

Selain itu, hal lain yang membuat sebuah tulisan terasa sangat orisinil adalah nilai-nilai dari diri yang menulis, yang menyertai tulisan tersebut. Nilai-nilai ini begitu otentik karena mungkin telah lama berproses, dan mungkin juga berangkat dari pengalaman hidupnya sendiri.

Dan sebagaimana pada petikan terakhir quote di atas, menulis memang untuk keabadian karena agar sesuatu abadi, tentu saja sesuatu itu harus ada. Tetapi, agar sesuatu ada, diperlukan juga kejujuran atas penghayatan kehidupan. Karena tanpa kejujuran, sesuatu tidak akan pernah ada dengan abadi. Dan bagaimanapun ketidak-jujuran memang tidak akan berlangsung selamanya. 

Menulis adalah membuat sejarah kita sendiri

Menulis untuk keabadian

"Kalau kamu bukan anak raja dan engkau bukan anak ulama besar, maka menulislah."  Imam Al-Ghazali

Hidup memang menjengkelkan, namun begitu adanya. Dengan menjadi anak seseorang yang terpandang, seseorang akan dikenal sebagai anak Tuan A atau Nyonya B. Dan secara otomatis ia juga akan disegani dan dikenal dengan alasan turunan seseorang.

Apalagi di zaman dahulu, sebagai anak raja nama seseorang juga akan dicatat dalam sejarah. Seperti itulah kira-kira mendapat aji dari sebuah nama, nama orang tuanya.

Tetapi, bagi orang yang menulis, ada kabar yang lebih baik. Meskipun toh kamu bukan seorang anak raja, orang terpandang, anak taipan, dan sebagainya, kamu bisa mendapat aji, bahkan dengan kekuatanmu sendiri. Nah, hal ini kira-kira ada hubungannya dengan quote dari Pram yang satu ini,

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.” Pramoedya Ananta Toer, Rumah Kaca

Quote ini bukan bermaksud mendorongmu menulis biar bisa narsis ya, tapi lebih pada memantik motivasi untuk berkarya lewat tulisan.  

Kamu bisa melihat contohnya dari kisah si filsuf asal Rusia, Maxim Gorky. Jangankan anak dari bangsawan rendahan, ia bahkan harus tinggal dengan kakeknya yang jahat dan eksploitataif saat masih kecil karena kedua orang tuanya meninggal.

Tetapi ia selalu memiliki minat yang anti surut dalam menulis. Seiring waktu, dengan semakin mampunya juga ia mengusahakan bacaan bagi dirinya, tulisannya pun semakin berkembang dan menjadikannya sebagai ahli literatur saat itu. 

Di samping itu, bagaimanapun kekuatan aksara tidak pernah bisa disepelekan. Jadi, siapa sih yang tidak mau berguna atau menginspirasi bagi sesama? 


Menulis untuk keabadian memang bukan hanya berarti membuat nama kita atau sosok kita abadi dan dikenang saja, tapi juga manfaat yang kita berikan lewat tulisan menjadi terus hidup di kepala banyak orang. Jadi, apa kamu sudah menemukan tekad untuk menulis?