Mitos atau Fakta, Pakaian Warna Merah Lebih Mudah Tersambar Petir?

Katanya, jangan pakai baju warna merah di musim hujan, nanti bisa tersambar petir. Mitos atau fakta ya?

Mitos atau Fakta, Pakaian Warna Merah Lebih Mudah Tersambar Petir?
Photo by Tim Trad from Unsplash

Di penghujung hingga awal tahun berikutnya, Indonesia biasanya diramaikan oleh musim hujan. Sebuah musim yang suasananya able banget dipakai galau-menggalau oleh para jomlo dan bucin.

Ups.

Balik lagi ke musim hujan. Mungkin kamu pernah mendengar larangan dari orang-orang di sekitar, salah satunya,

"Jangan pakai pakaian warna merah, nanti tersambar petir!"

Mulai dari baju, rok, celana, bahkan batang-barang lain yang bisa melekat pada tubuh. Katanya nih, kalau warnanya merah, lebih baik jangan dipakai karena rawan tersambar petir.

Hmmm. Buat kamu-kamu yang kritis, mungkin akan langsung bertanya apa hubungannya antara warna merah dan petir? Ngaruh gak sih, warna yang dipakai sama target sambaran petir?

Proses Terjadinya Petir

Mengutip dari Kamus Besar Bahasa Indonesia, petir adalah kilatan listrik di udara yang disertai bunyi gemuruh. Yes, guys. Petir itu sejatinya adalah perpaduan antara kilat dan guntur.

Sebagai sebuah fenomena yang terjadi di atas bumi, petir pun melibatkan awan dalam proses terjadinya. Awan yang dari jauh terlihat putih lembut kayak permen kapas itu ternyata punya peran utama loh menghasilkan kilatan cahaya dan gemuruh mengerikan di musim hujan.

Kok bisa?

Ya bisa. Ini satu lagi gejala alam yang jadi bukti kalau penampilan luar belum tentu sejalan sama dalamnya. Eh.

Awan sejatinya memuat muatan-muatan listrik positif dan negatif. Pergerakan awan yang kemudian bertabrakan satu sama lain menjadikan muatan-muatan listrik tersebut berkumpul di satu sisi. Biasanya, muatan listrik negatif berkumpul di awan bagian bawah, dan muatan positif berkumpul di bagian sebaliknya.

Ilustrasi pribadi persebaran muatan listrik di awan mendung

Kalau mulai bingung dengan istilah muatan listrik, kamu bisa menganalogikan muatan negatif sebagai laki-laki dan muatan positif sebagai perempuan. Sebagaimana sifat muatan listrik, yang aktif bergerak adalah muatan negatif. Sama aja kan kayak naluri para laki-laki yang aktif berburu pasangan perempuan di luar sana. Hehehe.

Lanjut ke proses terjadinya petir. Muatan negatif kan getol banget nih untuk berpasangan dengan muatan positif. Nah, karena muatan positif dan negatif di awan sudah terpisah sendiri-sendiri, otomatis muatan negatif akan berkelana mencari pasangan dari tempat lain yang terdekat, yaitu di bumi.

Lazimnya, muatan negatif di awan gak boleh loh mencari pasangan sampai ke bumi. Kan sudah punya pasangan di awan. Nah, di sinilah peran dari musim hujan.

Udara di bumi biasanya bersifat isolator alias tidak memungkinkan pergerakan muatan negatif dari awan ke bumi. Namun ketika musim hujan, udara cenderung akan menjadi lebih lembab, yang menjadikan sifat isolator ini mulai tergoyahkan. Belum lagi dengan serangan dari banyak sekali muatan negatif yang getol bergerak menuju bumi. Runtuhlah kekuatan murni udara sebagai isolator itu.

Adapun di bumi, muatan-muatan positif cenderung akan berkumpul di satu tempat (biasanya tempat yang tertinggi).

Singkat cerita, pertemuan antara muatan positif dan negatif yang berlangsung secara cepat inilah yang menimbulkan kilatan cahaya di langit yang kemudian dikenal sebagai kilat yang bisa memiliki suhu hingga 30.000 derajat Celsius.

Yes, suhu ini bahkan jauh lebih panas dibandingkan suhu pada permukaan matahari.

Dengan suhu setinggi itu, otomatis keberadaan kilat akan menjadikan udara di sekelilingnya memanas dan menyebar secara cepat, lalu memunculkan gelombang kejut. Proses ini kemudian memunculkan suara gemuruh atau dentuman keras yang selanjutnya dikenal sebagai guntur.

Yup. Kombinasi kilat dan guntur inilah yang sekarang kamu kenal sebagai petir.

Jadi guys, kamu bisa membayangkan petir itu sebagai peringatan keras atas hubungan terlarang muatan negatif di awan sama muatan positif di bumi. Tsah.

Hubungan antara Petir dan Warna Merah

Pakaian warna merah

Kembali ke masalah warna. Bagaimana ya, kaitan antara warna merah dan sambaran petir?

Hmmm, mari me-review kembali kepada bahasan sebelumnya.

Singkatnya, petir terjadi ketika ada hubungan terlarang antara muatan negatif di awan dengan muatan positif di bumi yang mana erat kaitannya dengan sifat-sifat kelistrikan. Dalam penjelasan sebelumnya, terjadinya petir sama sekali tidak menyinggung soal warna loh—apalagi warna merah secara khusus.

Adapun soal pakaian, kalau mengingat sifat kelistrikan pakaian yang sudah pasti adalah isolator alias tidak dapat menghantarkan arus listrik, rasa-rasanya teori pakaian sebagai penghantar muatan listrik dari petir adalah sebuah kesalahan.

Dari sini, bisa ditarik sebuah simpulan kalau pakaian warna merah yang katanya lebih mudah tersambar oleh petir tak lain hanyalah sebuah mitos atau yang bahasa kerennya urban legend belaka.

Jadi, untuk kamu yang masih ragu memilih pakaian di musim hujan hanya karena takut tersambar petir, sekarang bisa lebih santuy dong. Pilihan warna pakaian di musim hujan ini hanya soal estetika kok, gak ada sangkut-pautnya dengan mitos tersambar petir.

Cara Petir Menyambar Manusia

Ilustrasi sambaran petir

Meskipun cerita tentang pakaian warna merah yang lebih mudah tersambar petir sudah terbukti sebagai mitos, namun, petir tetap dapat dapat menyambar manusia melalui berbagai cara lainnya, dan ini tentu tidak berdampak ringan.

Jika menyambar manusia, muatan listrik dari petir dapat mengalir melalui permukaan kulit dan mengakibatkan kulit terbakar. Selain itu, muatan listrik juga bisa mengaliri sistem peredaran darah dan sistem saraf yang punya dampak lebih fatal.

Makanya, sambaran petir juga dikenal cukup mematikan jika tidak segera mendapatkan penanganan serius.

Mengutip dari National Weather Service, berikut cara-cara yang umum bagi petir untuk dapat menyambar seorang manusia atau makhluk hidup lainnya:

  1. Sambaran langsung, yaitu jenis sambaran petir yang dapat terjadi ketika seseorang berada di area lapang. Karena muatan negatif dari awan cenderung akan menuju kepada muatan positif di tempat tertinggi yang terdekat dengannya, kamu patut mewaspadai posisi di area lapang ketika hujan turun.
  2. Sambaran bersisian, yaitu jenis sambaran yang terjadi ketika seseorang berada di dekat area yang dapat tersambar petir. Misalnya ketika kamu berlindung di bawah sebuah pohon yang menjadi area sambaran petir, akan timbul arus pendek dari sambaran tersebut yang justru dapat mengenai kamu yang berada tepat di bawah atau di dekatnya.
  3. Konduksi sambaran, yaitu ketika sambaran petir terhadap suatu objek justru dihantarkan oleh media konduktor di sekitarnya, seperti lantai atau barang-barang logam. Oleh karenanya akan lebih aman untuk menjauhi benda-benda sejenis ini ketika hujan dan petir menyerang.

See? Lagi-lagi tidak ada poin yang mengacu kepada pengaruh warna merah terhadap target sambaran petir.

Sudah yakin dong, kalau larangan berpakaian warna merah di musim hujan hanya mitos belaka.