Negara yang Depresif dan Apa yang Bisa Kita Lakukan

Frustasi adalah ketika mengetahui dan tidak dapat berbuat apa-apa

Negara yang Depresif dan Apa yang Bisa Kita Lakukan
Photo by Andy Al Mesura from Unsplash

Akhir-akhir ini adalah masa yang sangat depresif sebagai warga negara Indonesia. Belum genap sebulan, beberapa persoalan parah membuat kita memikirkan kembali masih adakah harapan yang dapat diberikan oleh pemerintah.

Mulai dari rasisme terhadap masyarakat Papua, revisi UU KPK, RKUHP, persekusi aktifis, karhutla, dan penundaan RUU PKS. Perlakuan tidak adil terhadap lembaga yang paling bisa dipercaya di negara ini, KPK, bahkan menghasilkan vibe depresif yang bisa dirasakan seluruh warga Indonesia. 

Rasanya lebih menyakitkan dan depresif lagi ketika kita setiap hari mengikuti update isu-isu ini melalui scrolling ponsel, namun juga tidak tahu apa yang dapat kita lakukan. Tetapi entahlah, mungkin rasa empati ini tidak dirasakan semua orang.

Buktinya, masih ada yang bisa meremehkan teriakan kawan-kawan kita korban karhutla. Bisa jadi, yang meremehkan atau lebih memilih tidak mempedulikan persoalan-persoalan seperti ini adalah mereka yang hidupnya dikelilingi oleh privilese. Ya, mana mungkin kan, orang yang hidupnya enak terus bisa merasakan kesedihan orang lain?

Tapi, membahas orang-orang yang antipati seperti itu hanya buang-buang waktu dan akan membuat kita jengkel. Lebih baik, kita di sini fokus mengenai apa setidaknya hal terkecil yang bisa kita lakukan untuk membuat situasi depresif ini tidak semakin berkepanjangan.

Toh Tuhan tidak tidur kan? Pastilah Tuhan tidak akan membiarkan segala usaha kita sia-sia, meski sekecil apapun. Oke, saya yakin banyak dari kamu yang merasa resah dan ingin berbuat sesuatu, tapi bingung memulai dari mana. Jika kebetulan kamu merasakannya, mungkin sekian hal ini adalah yang bisa kamu lakukan.

Berdonasi dan menyebarkan kesadaran berdonasi

Ayo mulai berdonasi

Cara paling tepat untuk menumbuhkan empati seseorang, salah satunya adalah dengan cara mengajak berdonasi. Oleh karena itu, layanan web semacam Change atau Kitabisa sangat bisa dikatakan sebagai umpan yang tepat sasaran.

Postingan-postingan yang disebarkan oleh mereka melalui berbagai kanal mentarget dua poin sekaligus, yaitu membangun kekuatan melalui donasi, dan menyebarkan empati melalui cerita. Paragraf yang dibuat oleh para pengunggah di Change maupun Kitabisa memiliki kekuatan persuasif untuk mengajak seseorang ikut serta.

Sehingga, bagi mereka yang tidak memiliki situasi mendukung untuk ikut turun ke jalan, bisa memberikan sumbangsih dengan cara yang sangat fleksibel. Nah, mungkin sebagian dari kamu juga berada dalam situasi ini.

Yang bisa kamu lakukan adalah semakin menyuarakan empati dengan cara membagikan ajakan donasi atau tanda tangan petisi, yang berasal baik dari kedua kanal tersebut ataupun kanal-kanal lain yang bahkan sifatnya lebih lokal.

Ikuti diskusi atau turun ke jalan bersama teman-teman yang peduli

Mari turun ke jalan, demonstrasi

Saat ini, banyak sekali aksi-aksi turun ke jalan yang dilakukan kawan-kawan di masing-masing daerah. Kegiatan yang mereka lakukan ini banyak yang sifatnya terbuka dan tidak hanya melibatkan mahasiswa. Terlebih lagi, kegiatan semacam ini akan membuatmu merasa lebih dekat dengan masyarakat.

Mungkin ada sebagian orang yang berpikir bahwa hal-hal semacam demo tidak akan membuat apapun berubah atau hati masyarakat ikut tergerak. Tapi itu tidak benar.

Karena tidak semua orang mengikuti perkembangan persoalan negara melalui ponsel mereka dan sangat banyak yang lebih memilih mencari hiburan dari ponsel-ponsel daripada mencoba lebih peka terhadap kehidupan dalam masyarakat.

Maka, aksi turun ke jalan atau demo yang memiliki perwujudan nyata, akan mudah menangkap dan menyasar perhatian semua orang, baik yang peduli terhadap isu kenegaraan dan sosial maupun tidak.

Setidaknya, aksi ke jalan akan menangkap perhatian orang dan memungkinkan masyarakat untuk terusik. Dari perasaan tersebut akan timbul rasa penasaran, meskipun ada kemungkinan muncul kontra dan pro belakangan. 

Banyak-banyaklah membaca

Mari sebarkan budaya literasi

Mungkin kamu berpikir apa hubungannya membaca dengan bersikap lebih peka terhadap isu sosial. Ya, ini memang bukan partisispasi aktif, melainkan partisipasi pasif.

Namun, sebelum kita melakukan pasrtisipasi aktif maupun memberikan penilaian apapun terhadap segala yang terjadi dalam masyarakat dan negara kita, terlebih dulu kita harus mengumpulkan bahan untuk menghasilkan pendapat.

Membaca sangat perlu agar kamu tidak menjadi orang empati yang salah jalur, contohnya menolak RUU PKS. Terlebih lagi, di saat-saat seperti ini banyak bermunculan komentar buruk dan hoaks yang tidak memihak pada korban konflik.

Setidaknya, kamu perlu memberi tameng pada dirimu sendiri dan orang di sekitarmu agar tidak keliru memberikan penilaian terhadap yang terjadi baru-baru ini dan ke depannya. 

Menulislah

Mari menulis untuk membuat perubahan

Tidak harus menulis dalam bentuk artikel apik seprti penulis-penulis yang sudah pro. Sekedar status pun tidak apa-apa. Yang penting tujukan agar para audiens sosial mediamu melihatnya dan merasa terusik.

Jika kamu bingung bagaimana merangkai kalimat persuasif yang membangkitkan kepekaan seseorang, kamu bisa memposting ulang ajakan kepedulian dan menambahkan caption simpel di dalamnya. Tapi, jika kamu memiliki kemampuan menulis, sebaiknya kamu memilih media yang dapat menjadi sarana menyebarkan rasa empati.

Lagipula, banyak sekali media-media millenial dan generasi Z yang saat ini memiliki fitur gratis untuk masyarakat umum menulis di dalamnya. Seperti langkah Minke dalam Bumi Manusia, kita dapat melakukan perlawanan melalui tulisan. Jangn lupa bahwa sepanjang sejarah manusia, tulisan selalu memberikan imbas yang sama sekali tidak dapat diremehkan.

Berdoa

Berdoa pada yang Maha Kuasa

Jangan hanya memprioritaskan hubunganmu dengan doi dalam doamu.

Bersikaplah sedikit patriotis dalam hubunganmu yang paling privasi dengan Tuhan.

Dan jangan pernah remehkan kekuatan doa. Tapi juga bukan berarti kamu cuma menggantungkan dari kekuatan doa saja, berusahalah melakukan apapun yang kamu bisa. Biarkan doa yang menjadi pengiring dan melancarkan hajat kita bersama.


Saat-saat depresif seperti ini sebetulnya adalah momen paling tepat untuk menunjukkan sikap kolektif kita. Bukan malah bersikap individualis dengan moto "yang penting hidupku tenang". Hidup tidak akan selalu tenang.

Marilah bersikap lebih empati terhadap apa-apa yang terjadi di negara ini dan menyangkut kehidupan teman-teman kita. Tuhan tidak akan merubah nasib kita tanpa kita bergerak :)