Ongkos Pertemanan Tidak Akan Semahal Itu Kalau Berani Menolak dengan Cara Ini

Katanya, ongkos berteman di kota besar cukup mahal. Ah enggak kok, asalkan kamu berani bilang tidak.

Ongkos Pertemanan Tidak Akan Semahal Itu Kalau Berani Menolak dengan Cara Ini
Photo by Brooke Cagle from Unsplash

Mendapatkan teman itu mudah, menjaganya yang sulit.

Di era serba pencitraan seperti sekarang, hang out bareng teman-teman sudah pasti akan merogoh kantong. Meski sebagaimana dalamnya yang akan ia rogoh, kembali lagi bergantung pada sejauh mana kemampuan materi kamu.

Buat anak-anak rantau dengan uang bulanan yang tak seberapa misalnya, kadang untuk bisa ikut nonton di bioskop saja harus rela enggak sarapan dua hari berturut-turut. Lain lagi untuk yang sering kelebihan di jatah bulanannya, jajan di mall seminggu sekali bukan apa-apa, lah.

Yang jadi gawat, kalau dua tipe manusia tadi mulai menjalin pertemanan. Yang satu akan susah sekali menolak kalau diajak main, nah yang satu lagi kadang suka gak peka soal keterbatasan teman mainnya.

"Gimana mau peka? Wong selama ini dianya enggak ada menampakkan keberatan, kok." Begitu kiranya monolog batin dari si kaya.

Ish, ish, ish. Kayak gak tahu aja yang namanya gengsi.

Namanya juga mau menjaga pertemanan. Udah jauh-jauh nih merantau ke luar kota, tanpa sanak saudara, terus pasnya bisa akrab sama teman yang model begitu. Sayang dong, kalau enggak dipertahankan.

Alhasil, rela deh puasa rutin beberapa kali seminggu demi bisa tetap eksis yang alibinya sih untuk menjaga lingkaran pertemanan.

Culture shock kalau katanya orang-orang di Negara Barat. Semacam kaget dengan perbedaan kultur di lokasi yang baru, kemudian mengusahakan berbagai cara untuk dapat fit in.

Sekali dua kali, bolehlah membiarkan gengsi menang. Anggap saja trial and error untuk dapat beradaptasi dengan lingkungan dan kultur yang baru.

Tapi juga harus sadar diri dong, kalau terus-menerus diperbudak oleh gengsi tanpa mau menyesuaikan dengan kemampuan diri, tanggung sendiri kalau di akhir bulan nanti cuma bisa makan mi instan tanpa telur.

Karena itu ada yang namanya the power of saying no. Sebuah keterampilan yang perlu dimiliki oleh kamu dan kamu yang seringkali susah menolak ajakan atau permintaan teman dengan alasan tidak mau menyakiti.

Pikirkan lagi, deh. Tidak mau menyakiti teman atau tidak mau melukai gengsi kamu?

Ups.

Jangan takut untuk menolak. Pahami batas kemampuan dan kesanggupan kamu. Kalau kamu masih harus bertahan hidup tiga minggu ke depan sampai kiriman berikutnya datang, tolak saja ajakan nongkrong di kafe kekinian itu.

Katakan tidak pada ongkos pertemanan yang terlalu mahal. Cara-cara berikut akan memandu kamu untuk berani menolak undangan nongkrong yang menyakiti saldo.

1. Sampaikan dengan lugas

Hindari menolak dengan bahasa yang bertele-tele. Lawan bicara akan menangkap itu sebagai "iya" dan "tidak", sehingga selalu ada kemungkinan penolakan itu berubah menjadi persetujuan kalau rayuannya sedikit dipermanis lagi.

Kalau kamu merasa ajakan apapun yang sedang diundangkan pada kamu itu akan menyakiti keuangan kamu selama beberapa waktu ke depan, jangan ragu untuk menolaknya secara lugas.

Hindari jawaban-jawaban ambigu seperti, "Sebenarnya aku mau, tapi...," kalau tidak mau diserang balik dengan rayuan yang lebih menggoda.

Menyampaikan secara lugas tidak berarti harus disertai dengan ekspresi serius nan kaku seolah sedang dalam mode defense. Gunakan nada bicara yang kalem, santai, dan tidak tergesa-gesa, karena hakikat dari lugas adalah bersifat apa adanya dan tidak berbelit-belit.

2. Jangan minta maaf berlebihan

Menolak adalah hak umat manusia. Kamu tidak perlu merasa bersalah yang berlebihan, lalu mengulang-ulang kata maaf sembari tetap kukuh pada penolakan kamu.

Sebuah studi di tahun 2017 bahkan menemukan bahwa permohonan maaf yang disampaikan ketika menolak seseorang dapat menimbulkan perasaan yang lebih negatif pada diri orang yang tertolak.

"Dengan rutin minta maaf, kamu mungkin sedang menampakkan diri sebagai pribadi yang baik dan penuh perhatian, namun sesungguhnya kamu sedang mengirimkan pesan bahwa dirimu kurang percaya diri dan bahkan lemah."

- Beverly Engel, The Power of Apology

3. Jelaskan alasanmu

Supaya lebih meyakinkan, tidak ada salahnya untuk jujur atas penolakan yang baru saja kamu berikan. Bilang saja kalau kamu memang tidak sedang punya uang lebih. Jujur saja kalau memang ada kepentingan lain yang harus kamu tangani lebih dulu.

Menjelaskan alasan bisa jadi poin penguat atas statement menolak yang tadinya kamu sampaikan. Meski akan sedikit banyak melukai gengsi yang sudah kamu bangun, namun opsi ini tetap harus jadi pilihan kalau enggak mau bolak-balik makan mi instan tanpa telur di akhir bulan.

Kalau takut menolak ini semata karena tidak ingin menyakiti, jangan lupa kalau bukan kewajiban kamu kok, untuk menyenangkan semua orang. Your happiness should come first.

"Aku tidak tahu kunci kesuksesan. Tapi kunci kegagalan adalah ketika mencoba menyenangkan semua orang."

- Bill Cosby

4. Berikan alternatif lain

Selalu ada banyak cara untuk menjaga pertemanan tetap pada rentang ongkos yang affordable. Toh, hakikat berteman itu ada pada kualitas interaksi, bukan pada lembaran Rupiah yang harus disetor.

Kalau ngopi di kafe membuat dompet kamu meringis, tawarkan alternatif mengobrol santai di warung kopi seberang kos-kosan. Kalau nonton di bioskop terdengar mahal buat kamu, ajak saja nonton bareng dari laptop.

Menjaga pertemanan kalau sampai melibatkan gengsi akan jadi lain soal. Ongkos berteman yang sesungguhnya tidak akan jadi semahal itu kalau kamu berani untuk sedikit berbicara dan menawarkan alternatif lain.


Yang namanya pertemanan tentu akan melibatkan lebih dari satu orang. Makanya segala sesuatunya itu perlu didiskusikan bersama, bukan dengan secara sepihak membuat keputusan atau dengan secara ikhlas membiarkan si teman menentukan mau dibawa kemana main kalian di hari itu.

Membuktikan pertemanan atau menunjukkan seberapa besar perhatian kamu pada urusan teman-berteman ini bisa ditampakkan dengan cara-cara atau bentuk perhatian sederhana nan berarti lainnya.

Berteman itu murah kok, gengsinya aja yang bikin mahal.