Pelangi di Tanah Tandus

Kalau aku adalah tanah yang tandus, maka Fizi adalah pelangiku. Dia memang tidak bisa menyingkirkan kegersangan ini atau menumbuhkan bunga-bunga di sekelilingku. Tapi dengan keberadaannya, aku yang suram ini jadi mengerti tentang keindahan.

Pelangi di Tanah Tandus
Photo by Calvin Chou from Unsplash

Kalau aku sedikit memiringkan kepala sekitar 45 derajat, pasti kutemukan sosoknya yang tengah termangu dengan segala tatapan bosan. Jemari tangannya yang sibuk menopang wajah lesu itu, hingga dua bola mata yang tinggal terlihat separuhnya lagi. Terkadang ia menguap melepaskan kantuk, mengindikasikan pelajaran hari ini memang teramat membosankan.
Namun meski terlihat bodoh seperti itu, wajahnya—yang bagiku tampak sangat menggemaskan—justru menjadi penghibur setiap kali dosen kami mulai membanjiri papan dengan serangan rumusnya. Aneh bukan? Cukup dengan memandang tampang malasnya dari jarak sekian kaki ini saja sudah membuatku tenang.

Kalau sudah begini, aku akan siap menerima sebanyak mungkin pelajaran—walau aku tak pernah sepenuhnya memerhatikan, karena hanya dia yang menjadi pusat dari segala fokusku setiap harinya.

"Brahmanto! ... Tuan Brahmanto!" sepotong kapur melesat cepat menghantam jidatnya. Dosen sudah mulai kesal, itu berarti Fizi sudah terlelap sedari tadi. Aku hanya terkekeh geli di bangku melihat ia dihukum dengan cara klasik. Well, tidak sepenuhnya aku menyukai hiburan ini, karena ditepis seperti apapun, aku tetap merasa kasihan padanya.

Kau tahu kenapa? Karena ada perasaan lain yang tak pernah mampu kujelaskan untuk Si Tukang Tidur ini. Perasaan yang memang sudah tumbuh sejak Fizi dan keluarganya pindah ke sebelah rumahku beberapa tahun yang lalu. Hanya satu kata yang membuat aku cukup gila karena tak pernah bisa kulontarkan. Aku terlalu malu, takut kalau-kalau hubungan kami akan menjadi canggung nantinya. Ah, terlalu pesimis.

Tapi itu memang kenyataan. Fizi terlalu jauh dari jangkauanku. Terlebih setelah ia mendapatkan seorang pacar. Aku merasa jauh—sangat jauh untuk sekadar mengatai atau menghadiahinya sebuah jitakan hangat seperti dulu. Ya, kau tahu, dunia akan terus berputar. Dan kurasa, pijakanku yang sekarang memang sedang tak menguntungkan untuk soal cinta.

"Inka! Hey, Inka!" Fizi menepuk pundakku dengan sedikit keras, menyadarkan aku bahwa lamunan panjang tadi memang telah menyita satu jam pelajaran. Kutatap wajahnya dengan sedikit hati-hati, takut jika ia menyadari bahwa sejak tadi aku terus memikirkannya.

"Ah, eh... kenapa?" tanyaku canggung.

Fizi hanya menatapku dengan decakan ringan, lalu melanjutkan lagi, "Ah, kamu... Bantu ngerjain tugas ini, dong!" ujarnya, sembari menyodorkan beberapa lembar kertas soal—yang kuyakin, sebagai hukuman perbuatannya tadi.

"Hah? Kelas kan udah selesai, ngapain juga aku yang kerjain?"

"Ini juga salahmu! Kok tadi enggak bangunin?" balasnya ketus.

Dengan sedikit rasa kesal, akhirnya kubantu juga ia mengerjakan beberapa nomor soal. Fizi memang tergolong bodoh dalam soal hitungan seperti ini. Walaupun sudah kubantu, ia masih saja duduk mengantuk di sebelahku. Dasar tidak tahu terima kasih!

"Sayaaaaangg."

Satu alunan nada yang benar-benar berhasil memekakkan kedua kupingku. Orang itu lagi, pikirku. Siapa lagi, kalau bukan gadis dengan rambut lurus panjangnya yang terkenal agresif itu. Luna. Ini dia gadis yang tadi kusebut pacar Fizi.

Kulihat Fizi di sebelahku yang sontak menarik sudut-sudut bibirnya dengan kuat—menyeringai. Tampak rona merah di kedua pipinya ketika Luna menempelinya dengan manja. Sungguh aku benar-benar berharap mereka lenyap dari sisiku sekarang. Kau tahu, kan, rasanya menjadi sesuatu yang mereka sebut obat nyamuk?

"Sayang, kelasnya udah beres belum? Kita jalan, yuk!"

Bingo!

Doa orang yang terzalimi memang sangat ampuh.

"E- eh, tapi, Lun..."

"Fizi Brahmanto. Bukannya hari ini, kamu harus ngerjain sesuatu, ya?" potongku cepat pada sebaris kalimatnya itu.

Aku tidak mau sampai mati mendidih oleh desiran aliran darahku sendiri. Kutarik lengan Fizi dan memaksanya kembali duduk, lalu menyodorkan sisa-sisa soal yang harus ia kerjakan. Meski aku ingin segera menyingkirkan mereka, namun aku tidak mau ditinggal sendiri dengan pekerjaan yang harusnya diselesaikan oleh Fizi.

"Harus banget dikumpulkan hari ini, ya?" Luna mencibir. Kali ini ia mendudukkan dirinya di sebelah Fizi. Wajah Fizi tampak panik, dan pembuluh darahku sudah hampir pecah karenanya.

Dengan hati-hati, Fizi berusaha memberikan isyarat pada Luna untuk tidak mengucap apapun lagi. Bukan apa-apa, laki-laki normal mana, sih, yang rela melepaskan gadis semanis itu. Tapi tampaknya, Fizi juga bisa membaca situasi. Ini bukan waktu yang tepat untuk meladeni sikap manja Luna. Dasar!

Semenjak berpacaran dengan Luna, Fizi memang jadi lebih menyebalkan. Bukan tentang dia yang selalu melemparkan tugas-tugasnya kepadaku—Fizi memang sudah melakukan itu sejak awal kami mulai menjadi teman. Kuakui, aku memang tolol tak pernah bisa menolak permintaannya. Kurasa mereka benar, cinta membuatmu menjadi bodoh.

Lalu Luna muncul. Sebagai salah satu teman dekat Fizi, aku tahu sudah sejak lama dia menyimpan ketertarikan pada gadis feminin itu. Sudah sejak lama aku menjadi tempatnya mencurahkan segala perasaan yang ia miliki untuk Luna. Tentang bagaimana Fizi berhasil meminta nomor ponselnya. Atau tentang dia yang selalu menunggu Luna di parkiran kampus untuk menawarkan mengantarnya pulang. Juga tentang bagaimana Luna menerima cintanya yang dengan sangat tidak keren diucapkan ketika sedang menunggu montir untuk membetulkan motornya yang mogok di pinggir jalan.

Tepat. Begitulah peranku. Teman yang baik untuk Fizi. Tidak pernah lebih.

Selesai dengan hukumannya, Fizi lekas melenggang bersama Luna. Aku tidak pernah mau tahu kemana mereka atau apa yang mereka lakukan. Buatku, cukup dengan tetap menjadi sosok yang dapat diandalkan Fizi sudah sedikit meringankan hatiku. Aku bodoh, ya?

Kalian mungkin bertanya bagaimana aku bisa menjadi sekuat ini? Atau bagaimana aku bisa bertahan dengan perasaan yang menahun tak berbalas?

Entahlah. Aku hanya membiarkan waktu menjadi satu-satunya penyembuh lukaku. Bukan sepenuhnya luka, sih. Karena sejak awal aku tidak melakukan apapun. Fizi tak pernah tahu perasaanku karena aku yang sejak awal tidak pernah mengungkitnya. Sebesar apapun kekesalanku, aku sadar bahwa aku tidak berhak menyalahkan siapapun atas ketidak beranianku menyatakan cinta pada Fizi. Karena itu lah, aku memilih untuk mengalah dan tetap menikmati peranku sebagai teman baiknya.

Dengan malas, kutarik sebatang pulpen dan kembali bergelut dengan selembar keras. Tanpa mengindahkan pertarungan rasa yang tengah sengit dalam hatiku saat ini, aku mulai menggoreskan lengkungan-lengkungan tipis sembari menunggu hujan yang menahanku untuk pulang.

Perlahan, goresan-goresanku di atas kertas mulai menampakkan bentuk yang jelas. Sebuah pelangi di ujung padang lapang yang tampak gersang. Anggap saja aku sedang malas untuk melukiskan padang bunga yang cantik sekarang. Suasana hatiku tidak sedang bagus untuk itu.

Kalau aku adalah tanah yang tandus, maka Fizi adalah pelangiku. Dia memang tidak bisa menyingkirkan kegersangan ini atau menumbuhkan bunga-bunga di sekelilingku. Tapi dengan keberadaannya, aku yang suram ini jadi mengerti tentang keindahan. Begitulah kiranya analogi hubungan di antara kami.

Hujan perlahan menciut dan kini hanya menyisakan gerimis kecil. Kurasa sudah saatnya untuk pulang ke rumah. Setelah membereskan satu dua barangku yang tercecer di meja, dengan mantap kubawa tubuhku bergerak menjauh dari kampus ini. Hari sudah mulai senja, di kampus hanya tersisa mereka yang memiliki kelas atau shift malam.

Kebetulan, rumahku tidak cukup jauh dari kampus. Hanya dengan naik angkutan umum dan melewati satu blok, aku sudah sampai di gang depan rumah. Dengan gontai kubawa langkahku menuju rumah. Aku ingin segera menikmati kasurku yang hangat dan bantal gulingku yang empuk.

Beberapa orang tampak berkumpul di jalan sempit depan rumahku. Aku tidak terlalu peduli, sih, sampai seorang yang kukenal meneriakkan namaku dari kejauhan.

"Inka! Dari mana aja?" Bu Sum, salah seorang tetanggaku. Aku baru saja akan menjawab, namun dengan cepat dia memotong kalimatku. "Sudah ke rumah sakit?" dia bertanya lagi.

"Hah?" 

Kali ini aku mulai menampakkan ketertarikan. Mataku yang tadi seperti mengantuk, sekarang terbelalak penuh keingintahuan.

"Si Fizi jatuh dari motor. Katanya tadi nerobos lampu merah."

Dengan cepat kuputar langkahku ke arah sebaliknya. Aku segera berlari menuju jalan raya, mencari angkutan yang dapat membawaku ke rumah sakit. Tak butuh penjelasan lebih lanjut untukku tahu bahwa ini bukan sesuatu yang baik. Aku harus bertemu Fizi. Sekarang juga.

Entah bagaimana ceritanya, menanti angkutan di tengah perasaan kalut begini membuatnya tak kunjung datang. Hampir saja aku nekat berlari ke rumah sakit andai aku tidak berpapasan dengan seorang tukang ojek yang baru menurunkan penumpangnya. Rumah sakit yang kutuju memang agak jauh dari kediamanku. Tentu saja jalan kaki atau berlari ke sana tidak menjadi pilihan populer.

Tolong, Fizi. Jangan kenapa-kenapa.

Aku terus mengulangi kalimat yang sama di sepanjang perjalanan. Berulang kali kupanjatkan nama Tuhan agar tidak memanggil Fizi sekarang. Aku tidak tahu dan tidak peduli bagaimana rupaku sekarang. Yang aku tahu, jantungku akan segera lepas jika tidak bertemu Fizi malam ini.

Setelah sampai di IGD, kudapati ayah Fizi tengah terduduk lesu di bangku ruang tunggu. Meski sedang menutupi wajahnya dengan kedua tangan, aku tahu ia sedang didera perasaan yang sama sepertiku. Aku tahu akan sulit menanyainya sekarang, jadi kuputuskan untuk masuk ke dalam ruangan dan mencari ranjang Fizi.

Segera kudekati seorang wanita yang kukenali sebagai ibu dari Fizi. Dapat kulihat wajah sembapnya yang pasti karena menangis dengan hebat. 

Sementara sosok lain di ranjang kukenali betul sebagai Fizi. Tubuhnya memar di sana sini. Wajahnya bengkak dan penuh lecet. Lalu salah satu kakinya tampak diperban dan tergantung pada sebuah penyangga. Air mataku seketika tumpah dan mengalir deras. Fizi yang ceria dan menyebalkan, entah bagaimana bisa terlihat sangat menyedihkan seperti ini.

Ibunda Fizi merangkul pundakku, mencoba menenangkan. Fizi sedang tertidur, jadi tidak akan dapat melihat wajah jelekku yang sedang menangis. Tapi entah kenapa, aku lebih suka jika ia terbangun dan mengataiku jelek sesukanya. Lalu dia akan tertawa dan berlari kabur setelah kutendang.

"Nak…" lirih ibunda Fizi, "Fizi harus diamputasi."

Duniaku seakan meruntuh. Ratapanku semakin menjadi. Aku kini memeluk ibunda Fizi dan merasakan air matanya juga jatuh dan terserap di kausku. Aku tahu semestinya aku menjadi penguat mereka di saat sekarang, namun justru aku lah yang menjadi paling cengeng dan membutuhkan penguatan.

Dengan merapatkan barisan gigiku kuat-kuat, aku berusaha menahan suara tangisanku agar tidak mengganggu pasien lain. Beberapa lembar tisu pun kuhabiskan sembari menyusun kembali rasioku. Buatku, kejadian ini sangat memukul. Tidak bisa kubayangkan perasaan Fizi jika nanti tersadar.

Ibu Fizi kemudian melepas pelukanku. Sesaat setelahnya ia menceritakan ulang kabar yang dibawa polisi sore tadi. Tentang hujan deras, lampu merah, dan seorang gadis yang dibonceng Fizi, Luna.

Kurangkul ibunda Fizi dengan lembut. Beliau tampak kalut dan bingung. Sesuatu tentang kecelakaan ini membuatnya tak henti menangis. Getaran yang kurasakan di pundaknya seolah menyampaikan tentang isakannya yang tertahan.

Ketika menoleh sedikit ke arah jendela, kutemukan sosok ayah Fizi yang masih belum mengubah posisinya. Pria paruh baya itu selama ini menjadi sosok yang paling disegani oleh anak-anak di kompleks kami. Perawakannya yang tambun dan berkumis tebal, selalu mengingatkanku pada sosok Pak Raden dalam serial anak-anak sewaktu aku kecil dulu. Ratapannya yang menyayat hati pasangan mata yang melihat sungguh sangat berkebalikan dengan omelannya sehari-hari pada anak semata wayangnya.

Kecelakaan ini telah melukai kami semua.

….

Hari sudah sangat larut ketika Fizi mulai membuka mata. Aku masih terjaga ketika itu, bergantian dengan ayah dan ibu Fizi yang sudah terlelap di sofa. Petang tadi, Fizi sudah dipindahkan ke kamar inap. Aku putuskan untuk turut menungguinya malam itu. Kalau pulang pun, toh aku tidak akan bisa tidur nyenyak.

Fizi mengerang dengan pelan. Kuperhatikan gerakannya yang dengan perlahan mencoba membaca situasinya saat itu. Dia sedang mencoba merasakan tubuhnya yang kebas karena memar, juga sedang memerhatikan segala perban dan selang di sekitarnya. Aku bisa memahami ekspresinya yang kaget, mungkin masih tidak percaya akan kondisinya yang jauh berbeda dari biasanya.

Saat hendak kusapa, kulihat ia terbelalak, kebingungan. Tak lama kemudian ia mendapati fokusku yang duduk tepat di sebelah ranjangnya.

"Lu… na?" tanya Fizi melemah. "Inka, Luna?"

Kali ini aku yang bingung.

Kupegangi tangannya kuat-kuat. Aku takut untuk menjawab, tapi aku juga tahu mencoba menenangkannya seperti apapun tidak akan berhasil. Pikiranku membuncah, sementara Fizi kian penasaran. Dengan segala pikiran aneh yang menjamahi kepalaku, air mataku terjatuh lagi. Meski tanpa suara, tapi rintikannya cukup deras dan panjang.

Aku menggeleng. Disertai tangisan bungkam yang ke sekian kalinya, aku menggeleng. Dengan genggaman yang semakin kuat pada jemari Fizi, aku menggeleng.

Fizi tidak bertanya apapun lagi. Ia justru balas meremas peganganku dengan kuat. Baginya, air mata itu sudah menjawab segalanya. Aku bisa melihat sudut kedua matanya yang mulai meneteskan air mata. Juga ia yang mulai mengulum bibirnya untuk tidak melepaskan suara apapun dari sana. Ini tidak mudah bagi Fizi. Untuk pertama kalinya, aku mendapati pria yang kucintai bisa sehancur ini.

Meski kutahu Fizi sedang teramat tersakiti atas kenyataan yang harus ia telan, bolehkah aku menjadi sedikit egois? Aku masih tidak dapat melepas peganganku. Sesungguhnya hatiku mencelus, terasa ringan sejak ketika ia mulai membuka mata. Genggaman Fizi terasa hangat. Ini adalah bukti bahwa dia ada di sini bersamaku, bahwa dia tidak pergi dan tidak meninggalkanku. 

Malam kian larut. Dalam keheningan, kami saling menguatkan. Dengan rinai air mata, kami coba menekuni bahasa hati masing-masing. Dengan genggaman yang kian menguat, mengiringi waktu yang tak kunjung menghentikan detikannya, aku mengirimkan doa, memanjatkan sisa-sisa harapan yang bisa kubisikkan.

Sejak saat itu, aku telah berjanji pada diriku untuk tetap berada di sisi Fizi, untuk tetap menjadi teman terbaiknya, untuk menjadi sosok yang dapat diandalkannya, dan untuk tidak meninggalkannya. Kalau Fizi yang sekarang adalah tanah yang tandus, maka aku akan menjadi pelanginya. Aku memang tidak bisa menyingkirkan kegersangan di hati Fizi, apa lagi menumbuhkan bunga-bunga di sekelilingnya. Tapi dengan keberadaanku, aku berharap di tengah kegundahannya, Fizi akan dapat tersenyum kembali.

Aku masih akan mencintainya dengan caraku.