Pendidikan Seks Sejak Dini, Perlukah?

Sering dianggap tabu, perlukah pendidikan seks sejak dini bagi anak-anak?

Pendidikan Seks Sejak Dini, Perlukah?
Photo by Ben White from Unsplash

Kalau mendengar kata seks, apa yang pertama kali terbersit di pikiran kamu?

Mayoritas awam akan memaknai seks sebagai sanggama. Meskipun secara bahasa, seks sebetulnya diartikan sebagai segala sesuatu yang berkaitan dengan jenis kelamin—kalau seperti ini jadi bermakna lebih luas, kan?

Di negara yang kental akan budaya dan keagamaan seperti Indonesia, topik bahasan tentang seks masih menjadi sesuatu yang tabu. Oleh karenanya, tidak jarang edukasi seks dari orang tua kepada anak tidak terlalu mendapat perhatian.

Namun menilik perkembangan peradaban yang kian pesat, agaknya pendidikan seks dini perlu mendapat perhatian serius.

Mengutip dari data yang disajikan oleh Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), bahwa pelecehan seksual pada anak di Indonesia terus mengalami peningkatan setiap tahunnya, baik terhadap anak perempuan maupun anak laki-laki.

KPAI juga menambahkan bahwa banyak di antara kasus tersebut diprakarsai oleh keterlibatan media sosial atau internet.

Nah, mengingat media sosial dan internet adalah dua hal yang sulit terpisah dari keseharian anak-anak zaman now, tampaknya mulai sekarang pendidikan seks sejak dini ini perlu diperhatikan secara cermat.

Edukasi Seks Dini

Edukasi seks sejak dini dimulai dari pengenalan organ intim dan menumbuhkan rasa malu

Edukasi seks bagi usia dini, umumnya menargetkan anak-anak pada rentang usia balita hingga usia remaja. Perlu digaris bawahi kembali bahwa pendidikan seks yang dimaksud tidak hanya berkisar pada hubungan sanggama.

Edukasi seks dini pada hakikatnya adalah pengenalan dasar yang diberikan kepada anak-anak hingga usia remaja mengenai bagian-bagian tubuhnya, aurat yang harus diproteksi, hingga hal-hal terkait kesehatan pada sistem reproduksi.

Yang namanya bagian privat anak, tentu orang tua sebagai orang terdekatnya memiliki andil paling besar dalam mendidik anak terkait topik semacam ini. Orang tua tidak mau dong, kalau anak mendapat informasi yang keliru dari berguru kepada orang lain.

Tahukah kamu?

Survei Reckitt Benckiser (RB) dan Durex yang dilakukan di lima kota besar di Indonesia mendapati bahwa 61% anak muda merasa takut dihakimi jika bertanya mengenai hal-hal terkait urusan seks atau reproduksi kepada orang tua.

Padahal, survei yang sama juga menyebutkan bahwa 52% anak-anak cenderung memilih orang tua sebagai tempat berkonsultasi terkait pengalaman pribadi masing-masing.

Terdengar kontras, bukan?

Alhasil, anak-anak justru lebih suka bertanya dan mencari informasi terkait seks melalui pihak ketiga seperti teman sebaya, hingga internet.

Nah, orang tua perlu waspada jika anak mendapatkan informasi terkait seks dari pihak luar yang tidak kredibel. Bukan tidak mungkin anak akan mendapatkan informasi yang keliru, sehingga membentuk persepsi yang salah bagi anak itu sendiri.

Celakanya, jika anak sudah lebih dulu mendapatkan informasi dari orang lain, terkadang informasi yang selanjutnya diberikan oleh orang tua cenderung tidak akan digubris oleh anak.

Oleh karena itu, penting untuk memberikan edukasi seks sejak usia dini, dimana sumber informasi utama anak adalah orang tua. Dengan demikian, ketika beranjak remaja pun, anak tidak akan sungkan mendiskusikan permasalahan terkait organ genitalianya dengan orang tua.

Tahapan Edukasi

Pendidikan seks pada anak dilakukan secara bertahap sesuai usia anak

Sebagaimana pembelajaran di sekolah, materi tentang edukasi seks dini juga perlu disampaikan secara bertahap sesuai usia dan tingkat pemahaman anak. Umumnya, materi pendidikan seks yang perlu diberikan telah dibagi-bagi sesuai dengan rentang usia anak.

1. Usia di bawah 8 tahun

Anak-anak pada usia ini sudah harus diperkenalkan tentang organ genitalia. Orang tua bisa melakukan pengenalan melalui aktivitas sehari-hari seperti ketika memandikan, atau dalam dongeng sebelum tidur.

Anak-anak berusia di bawah 8 tahun

Minimal, anak sudah dapat membedakan antara laki-laki dan perempuan, serta mulai dapat mengenal dan menamai organ genitalia, baik dengan bahasa kiasan ataupun bahasa sebenarnya.

Pengenalan ini juga harus dibarengi dengan penanaman awareness terkait kepemilikan tubuh sendiri dalam diri anak.

Anak sudah harus sadar bahwa organ-organ pribadinya hanya boleh dilihat dan disentuh oleh dirinya sendiri, orang tua, atau praktisi medis, sehingga dengan sendirinya akan tumbuh rasa malu dalam diri anak jika berkaitan dengan organ intim.

2. Usia 9 - 13 tahun

Anak-anak usia 9-13 tahun

Di usia ini, anak umumnya mulai memasuki usia pubertas. Orang tua perlu mengedukasi tentang tanda-tanda yang akan dialami anak seputar pubertas, di antaranya termasuk pertumbuhan alat-alat reproduksi sekunder.

Pada usia ini, akan lebih baik jika anak-anak mendapatkan edukasi pubertas langsung dari orang tua yang bergender sama dengannya. Anak laki-laki bersama ayah, dan anak perempuan bersama ibu.

Anak juga kiranya perlu diberikan pemahaman terkait tanda-tanda pubertas yang muncul dari lawan jenisnya, sehingga dapat melebarkan kewaspadaan anak terkait area privasi lawan jenis.

Tidak lupa juga dengan menyampaikan kepada anak tentang pentingnya menjaga kesehatan organ intim dan alat reproduksi sekundernya.

Penjelasan lengkap terkait materi ini mungkin akan didapatkan anak di sekolah pada mata pelajaran yang sesuai. Namun, dalam mendiskusikan hal-hal pribadi semacam ini, tentu anak akan merasa lebih nyaman melakukannya bersama orang tua.

3. Usia 14 - 18 tahun

Remaja muda usia 14-18 tahun

Di usia ini, anak atau remaja cenderung telah memahami seks dalam artian yang lebih implisit. Tidak dapat dipungkiri bahwa pergaulan dan alat komunikasi memegang peranan kuat di sini.

Pada usia ini, orang tua dapat mulai memberikan edukasi kepada anak terkait hubungan seksual yang sehat. Edukasi yang dimaksud bukan dalam arti menjelaskan tata caranya secara detail, ya.

Bahasan yang dimunculkan terkait hubungan seksual dapat beragam. Di antaranya, terkait dengan dampak-dampak seks di luar nikah, risiko penyakit seksual dari seks bebas, hingga pandangan agama, budaya, dan masyarakat terkait hubungan seks di luar nikah.

Orang tua bisa memulai topik ini ketika sedang menonton film atau berita di televisi bersama anak. Biasakan untuk menyisipkan pesan moral di balik setiap tontonan. Anak akan lebih mudah memahami pesan yang diberikan orang tua ketika dibarengi dengan contoh nyata.


Dengan pemaparan di atas, penting kiranya buat kamu untuk mulai mengintrospeksi pandangan terkait pendidikan seks usia dini. Sebagaimana kata seorang psikiater dari Amerika, Judith Lewis Herman,

"Karena banyak pelecehan seksual dimulai sejak sebelum pubertas, mendidik anak untuk mencegah itu harus dimulai sejak dini."