Perhatikan Kata-katamu, Tidak Semua Motivasi Itu Baik

Pertanyakan lagi ketulusan kita!

Perhatikan Kata-katamu, Tidak Semua Motivasi Itu Baik
Photo by Shane Rounce from Unsplash

Memberi dukungan emosional pada seseorang memang bukanlah hal yang mudah. Meski kita berusaha untuk menempatkan diri dalam perspektif orang lain, tidak semua orang yang curhat memang sedang mengharapkan sebuah motivasi atau solusi. Ada sebagian dari kita yang bercerita karena murni ingin didengarkan.

Lagipula, memberikan motivasi juga bukanlah hal yang mudah karena setiap orang memiliki kondisi uniknya masing-masing. Kamu sendiri pasti tidak selalu cocok dengan kata-kata motivator, ya kan? Kemarin, saya mendengar seorang ibu yang mencoba bersikap ramah pada pelanggannya dengan cara memberi motivasi dengan diksi yang 'mempengaruhi'.

Pada dasarnya sih salah satu tujuan motivasi memang untuk mempengaruhi, tapi yang menjadi pembedanya adalah apakah pengaruh tersebut sebuah ketulusan untuk memberikan imbas baik atau hanya sekedar ingin terlihat menginspirasi bagi orang lain dan pengaruhnya diterima.

Karena masalahnya adalah, ketika kita memberikan motivasi, ada rasa kebanggan yang tiba-tiba naik, dan rasa bangga itu perlu dikontrol agar tidak menjelma narsistik sesaat. Terlebih lagi, ketika narsistik itu mengambil alih, yang berpengaruh kemudian adalah ego kita. Sehingga, kita begitu ingin orang lain menerima motivasi-motivasi dari kita serta mengaplikasikannya.

Ketika hal itu terjadi, empati bisa jadi hilang. Maka dari itu, baik sebagai pendengar atau orang yang sedang curhat, kita sama-sama perlu lebih sensitif. Menjadi sensitif tidak selalu buruk ya! Kembali lagi pada cerita si ibu dan pelanggannya tadi, agar tidak terjebak seperti demikian, kamu perlu memperhatikan beberapa hal ini. 

Perhatikan diksimu, apakah itu saran atau pengaruh

Berhati-hati dalam berbicara

Tidak semua orang bisa menjaga emosionalnya dalam keadaan tetap netral ketika menerima motivasi bertubi-tubi, beberapa orang yang berkepribadian turbulent akan mengalami kesulitan saat menemui situasi seperti ini. Bisa jadi bukannya mereka termotivasi, malah sebaliknya merasa tertekan.

Namun, terlepas dari bagaimana kepribadian orang tersebut, sebagai orang yang berusaha memberikan dukungan, kita tetap perlu menempatkan diksi dengan bijaksana. Perhatikan apakah yang kita sampaikan tersebut benar-benar saran atau pengaruh.

Ketika memberikan pengaruh, kita akan lebih agresif dan ada keinginan kuat agar pengaruh tersebut dilakukan. Sehingga, sebenarnya dalam segi diksi akan cukup ketara. Namun, ketika memberikan saran, kita lebih bersikap legowo apakah orang tersebut akan melakukan saran kita atau tidak.  

Tempatkan diri sebagi korban

Berempati pada orang lain

Salah satu kesalahan saat menjadi pendengar adalah, kita tidak menempatkan diri sebagai korban. Sebagai contoh yang sangat umum, kita tau bahwa banyak orang yang cenderung memotivasi korban pelecehan seksual untuk berhijab secara syar'i agar tindak pelecehan yang diterima tidak terulang.

Dibandingkan berempati pada korbannya, orang-orang ini cenderung memaklumi perbuatan pelaku pelecehan dengan cara menyuruh si korban untuk mengalah.

Padahal, ketika minggu lalu saya menonton QnA Metro TV, dipaparkan bahwa menurut survei yang dilakukan oleh perEMPUan, Lentera Sintas Indonesia, Hollaback! Jakarta, Perkumpulan Lintas Feminis Jakarta, dan Change.org Indonesia, 18% korban pelecehan seksual adalah perempuan yang memakai celana panjang atau rok, 17% berhijab, 16% berbaju lengan panjang, 14% berbaju seragam, dan 14% sisanya memakai baju longgar.

Motivasi-motivasi salah sasaran seperti suruhan menutup aurat atau berbaju syar'i, bukannya justru membantu seseorang secara psikis, namun malah memberi racun pada emosional mereka. 

Ketika kita memberikan motivasi tanpa menempatkan diri sebagai korban, orang lain akan merasa bahwa yang ia rasakan tidak penting dan valid. Karena itulah empati adalah hal krusial dalam memberikan motivasi. 

Apakah kamu yakin itu benar-benar perhatian? 

Memberi perhatian pada orang lain

Jika saya mengingat kejadian si ibu dan pelanggannya, yang terlihat justru si ibu tersebut lumayan kelewat batas. Ada beberapa alasan kenapa si ibu tersebut kelewat batas. Pertama, hubungan mereka yang tentu tidak dekat, yaitu pedagang dan pelanggan. Kedua, hal yang si ibu bicarakan adalah persoalan privat.

Ketiga, si ibu tidak mengetahui kronologis kehidupan pelanggannya dan situasi hidupnya saat ini. Keempat, dari diksi ibu tersebut, terlihat bahwa beliau sedikit narsis untuk menjadi orang yang berpengaruh. Yang dibicarakan mereka berdua ini adalah soal pekerjaan. Berawal dari pertanyaan si ibu tentang perkembangan studi pelanggannya.

Kebetulan pelanggan beliau menjawab bahwa ia direkrut sebuah perusahaan meski belum lulus. Si ibu langsung bersemangat mendorong pelanggannya dengan kata-kata seperti ini, "Terima saja, soalnya sekarang ini blabla, kalau saya jadi kamu ya tak terima, lha sekarang gini blablabla,", dan akhirnya "Udah terima aja!" (tidak saya jabarkan semua karena sangat panjang).

Mungkin sekilas kata-kata ibu ini terlihat mendukung, namun sebenarnya tidak. Dari percakapan panjang mereka berdua, ibu tersebut mengesankan begitu ingin agar si pelanggan melakukan yang ia anjurkan.

Dengarkan terlebih dulu sebelum terburu memberikan solusi

Menjadi pendengar yang baik

Pernah saya membaca sebuah tulisan di Qureta, bahwa ketika seseorang melakukan sesuatu, ada serangkaian proses panjang tak terlihat dalam otak yang membuatnya berlaku demikian. Dan proses tersebut tidak hanya melibatkan proses biologis dalam otak, tapi juga psikologis yang berkaitan sengan sejarah kehidupan orang tersebut.

Itulah kenapa seharusnya begitu sulit untuk bisa menjustifikasi seseorang. Tenang, mempertimbangkan berbagai proses rumit biologis dan psikologis penyebab seseorang melakukan sesuatu pasti sangat sulit. Maka dari itu kita tidak mungkin melakukannya.

Yang bisa kita lakukan adalah fokus untuk mendengarkan orang di depan kita saat ini, dan berusaha menempatkan diri serta melintasi alam pikirannya bersama empati. Untuk bisa memberikan dukungan pada orang lain, terlebih dulu kita perlu menjadi pendengar yang baik dan 'hadir'.

Sehingga kita akan mengetahui kondisi unik dan tidak selalu menyamaratakan pemahaman serta solusi pada mereka. Lagipula, sekali lagi, untuk menjadi seseorang yang bisa memberi dukungan dengan baik, kita harus berusaha memvalidasi perasaan orang lain terlebih dulu. 


Berhati-hati dalam memberi dukungan juga pada akhirnya akan menjaga kita untuk tidak bersikap kepo dan ikut campur dengan dalih perhatian. Dibandingkan menjadi seseorang yang memberikan dukungan, sebenarnya menjadi pendengar juga cukup sulit.

Jika kamu memang masih kesulitan untuk memberikan motivasi atau dukungan yang bijak pada orang lain, jangan memaksakan diri. Hadir dan menjadi pendengar yang berempati juga sangat bagus. Hal tersebut sebenarnya juga merupakan bentuk dukungan dan statement bahwa 'saya ada untuk kamu'.