Periodisasi Sastra, Perubahan Gaya Menulis Seiring Masa

Karena gaya menulis pun dibagi atas periode-periode tertentu.

Periodisasi Sastra, Perubahan Gaya Menulis Seiring Masa
Photo by Patrick Fore from Unsplash

Sebagaimana namanya, periodisasi sastra sendiri merupakan perkembangan sastra hingga memiliki sifat berbeda dari masa sebelumnya. Periode sastra ditentukan oleh kesamaan ciri yang dimiliki oleh karya-karya sastra yang tersebar di masa itu.

Periodisasi sastra sendiri diklasifikasikan secara berbeda tergantung dari pemilik sudut pandangnya. Menurut Wikipedia misalnya, periodisasi sastra Indonesia dibagi dalam sepuluh tahap yang diklasifikasikan berdasarkan masa penerbitannya.

1. Periode Pujangga Lama

Periode tertua dari sastra Indonesia ini dimulai sejak sebelum abad ke-20. Pada masa ini, tulisan-tulisan yang banyak muncul didominasi oleh bentuk syair, pantun, gurindam, serta hikayat.

Salah satu karya yang cukup terkenal dari angkatan pujangga lama ialah Gurindam Dua Belas yang diciptakan oleh Raja Ali Haji yang merupakan seorang pahlawan nasional sekaligus sastrawan dari daerah Riau. Karya ini berisikan dua belas pasal yang bermakna nasihat menuju hidup yang diridai Tuhan.

2. Periode Sastra Melayu Lama

Tidak jauh berbeda dari tulisan-tulisan atau karya yang tercipta pada periode sebelumnya. Di periode ini pun, syair dan hikayat masih ramai persebarannya.

Satu-satunya yang membedakan adalah banyaknya kemunculan novel-novel terjemahan dari barat. Ini sekaligus menandakan adanya peminatan terhadap sastra dari masyarakat Tionghoa dan Indo-Eropa yang bermukim di Indonesia.

Salah satu novel terjemahan yang sempat populer di kala itu adalah Robinson Crusoe, sebuah karya fiksi yang menceritakan pengalaman seorang pria Inggris yang terdampar puluhan tahun di pulau yang tak berpenghuni.

3. Periode Balai Pustaka

Sitti Nurbaya, salah karya sastra yang cukup populer di periode Balai Pustaka

Angkatan ini dimulai sejak awal tahun 1920. Nama Balai Pustaka sendiri diambil dari nama salah satu penerbit yang ketika itu ramai mempublikasikan karya-karya dari para penulis lokal.

Sejak pada angkatan ini, syair, pantun, gurindam, dan hikayat yang di masa sebelumnya cukup ngetren, mulai tergantikan oleh kemunculan prosa dan puisi.

Kisah Sitti Nurbaya yang melegenda itu pun terlahir di masa ini. Di situlah Marah Rusli menyinggung tema kasih tak sampai, pernikahan paksa, pengorbanan, kolonialisme, hingga kemodernan. Keberhasilan karya sastra yang satu ini pun masih terus dikenang hingga masa kini.

4. Periode Pujangga Baru

Kemunculan Balai Pustaka memunculkan kontra di kalangan para sastrawan yang lain. Sebabnya, Balai Pustaka banyak menempatkan sensor di banyak karya sastra yang menyangkut nasionalisme dan kesadaran kebangsaan.

Pujangga Baru sendiri merupakan nama dari sebuah majalah yang banyak memuat tulisan berbau politik. Dimaksudkan untuk mendukung nasionalisme melalui sastra, para pendirinya berusaha menghindari pembatasan kreativitas oleh Balai Pustaka yang saat itu merupakan penerbit milik negara Hindia Belanda.

Tenggelamnya Kapal van der Wijck adalah salah satu karya fenomenal di masa ini. Karya Buya Hamka yang satu ini bahkan sempat difilmkan di tahun 2013 lalu dan mendapat sambutan positif dari masyarakat dalam negeri.

5. Periode 1945

Sosok Chairil Anwar, sang pelopor angkatan 45

Berbeda dari masa sebelumnya yang didominasi oleh karya-karya romantis dan idealis, karya-karya sastra di masa ini justru cukup kuat aroma realistisnya.

Gejolak sosial, politik, serta budaya yang mewarnai suasana perjuangan kemerdekaan Indonesia, sangat kental mewarnai gaya menulis dan tema yang diambil para sastrawan di masa ini.

Terang saja, karena di tahun yang sama, bangsa ini memang sedang semangat-semangatnya memperjuangkan kemerdekaan.

Chairil Anwar bersama puisi Aku adalah salah satu pujangga dengan karyanya yang paling terkenal di masa ini. Penyair terkemuka ini bahkan disebut-sebut sebagai pelopor Angkatan 45 sekaligus pelopor puisi modern Indonesia.

6. Periode 1950–1960-an

Di era ini, karya sastra mulai didominasi oleh kemunculan cerita-cerita pendek yang menghiasi halaman-halaman di majalah sastra. Di tahun-tahun ini pula perkembangan sastra Indonesia sempat mengalami henti sementara akibat kemunculan gerakan komunis.

Pramoedya Ananta Toer yang telah berpulang pada tahun 2006 lalu mewakili para penulis lain yang menjadi sastrawan di angkatan ini.

7. Periode 1966–1970-an

Tepat setelah berakhirnya gerakan komunis yang ditandai oleh pecahnya peristiwa G30S/PKI, aliran sastra di negeri ini mulai semakin produktif. Di dalam era ini misalnya, karya sastra yang muncul memiliki aliran yang beragam, mulai dari surealisme, absurdisme, arketipe, hingga arus kesadaran.

Karya-karya sastra absurd yang mencirikan angkatan 60-an ini misalnya adalah karangan-karangan milik Putu Wijaya. Rachmat Djoko Pradopo yang juga seorang sastrawan bakan pernah mengatakan bahwa karya-karya Putu adalah cukup berani dalam mengungkap kenyataan hidup.

8. Periode 1980–1990-an

Serial pertama lupus yang laku keras di periode sastra 80-an

Angkatan ini ditandakan oleh munculnya banyak novel percintaan. Berbeda dengan aliran romantisme yang dikandung oleh angkatan sebelumnya, karya-karya sastra di angkatan ini tidak sering mematikan tokoh-tokoh utamanya hanya untuk menonjolkan romantisme dan idealisme. Sebaliknya, karya-karya di masa ini justru sering mengalahkan tokoh antagonisnya.

Novel beraliran pop yang populer di angkatan ini, contohnya adalah Lupus. Pengemasannya yang cukup trendi diyakini sebagai salah satu musabab dari awal mula kemunculan generasi-generasi gemar membaca yang mulai melirik karya-karya sastra yang lebih berat.

9. Periode Reformasi

Berawal dari terjadinya pergeseran kekuasaan politik di negeri ini, kemunculan karya sastra bertemakan sosial dan politik kembali meramaikan negeri.

Para penulis di era reformasi berusaha merefleksikan suasana sosial dan politik dalam negeri seiring kejatuhan Orde Baru yang mengimingi mereka untuk terus menelurkan karya-karya sastranya.

Maka tidak heran jika pada saat itu banyak sastrawan yang melakukan banting setir dan mulai merangkul tema sosial dan politik—padahal di karya-karya sebelumnya, mereka sama sekali tidak menampakkan ketertarikan di bidang tersebut.

10. Periode 2000-an

Bisa dibilang, angkatan terakhir ini adalah adalah era yang berisikan para sastrawan atau penulis kekinian yang masih hits hingga saat ini. Sebut saja Ahmad Fuadi, Andrea Hirata, Dewi Lestari, hingga Habiburrahman El Shirazy.

Kemunculan angkatan penulis yang terbaru ini, pada mulanya ditandai oleh penerbitan buku Leksikon Susastra Indonesia yang berisikan keterangan singkat para sastrawan di Indonesia beserta gerakan sastra yang berkembang dalam kurun waktu tersebut.

Sejak saat itulah, para penulis yang tercantum di dalam buku tersebut disebut-sebut sebagai Sastrawan Angkatan 2000.


Sebagaimana sebuah seni yang tak akan lekang oleh waktu, perkembangan sastra dan tulis-menulis masih akan terus berlanjut. Periode 2000 tersebut bukanlah akhir dari periodisasi sastra, melainkan masa terkini dari perkembangan sastra itu sendiri.

Bisa jadi besok, lusa, atau bahkan tahun depan, akan muncul periode-periode selanjutnya dengan aliran menulis terbarunya. Sebagai penikmat sastra, kita hanya perlu menyesuaikan.