Perjamuan Terakhir

Kamu adalah salah satu dari rasul pada Perjamuan Terakhir, dan melihat Yudas Iskariot bertingkah laku mencurigakan setelah makan bersama Yesus. Apa yang akan kamu lakukan?

Perjamuan Terakhir
Photo by Franck Denis from Pexels

Yesus mengambil roti, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada kami untuk dimakan.

Beberapa saat kemudian Ia berkata, "Sesungguhnya seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku".

Aku terkesiap. Kami saling melihat satu sama lain. Lalu pandanganku tertuju pada Yudas. Aku memang sudah mencurigainya sejak pertemuannya dengan imam-imam kepala minggu lalu.

"Tuhan, aku bersedia mati bersama-sama dengan Engkau", tiba-tiba Petrus memecah keheningan.

Yesus menatap Petrus lalu berkata, "Kamu terlalu berlebihan; sesungguhnya malam ini, sebelum ayam berkokok, kamu telah menyangkal-Ku tiga kali."

"Tapi bukan aku kan Tuhan?", tanya Petrus. Tapi Yesus tidak menjawabnya. Aku bisa melihat kesedihan dan penyesalan yang mendalam di wajah Petrus.

"Yang menyerahkanMu bukan aku kan, Tuhan?", Filipus yang dari tadi terlihat gelisah ikut bertanya.

Yesus tetap diam.

Lalu secara bergantian kami semua menanyakan hal yang sama, kecuali Yudas. Dia hanya menunduk dan sibuk dengan pikirannya sendiri. Entah apa yang dipikirkannya.

Bartolomeus mencolek sikunya sambil berbisik, "Kamu dari tadi kenapa diam saja?"

Yudas mengangkat kepalanya. Perlahan. Menghela nafas lalu bertanya kepada Yesus, "Bukan aku kan Tuhan?"

Yesus melihatnya dengan seksama, lalu dengan tenang Ia berkata, "Yudas muridku, kamu sudah mengatakannya."

Ternyata dugaanku benar.

Aku melompat dari kursi dan berusaha menyerang Yudas. Yakobus dan Bartolomeus berusaha menahanku.

"Lepaskan! aku ingin menghajar pengkhianat ini!", Aku berteriak dan berusaha lepas dari pegangan mereka. Yudas hanya bisa tertunduk dan mulai menangis.

"Yudas, belum terlambat jika kamu mau membatalkan rencanamu. Bagaimana mungkin kamu setega itu mengkhianati Tuhan?", Amarahku mulai reda karena melihatnya menangis. Aku berharap dia menyesal dan mengurungkan niatnya.

"Duduk semuanya!", Kata Yesus sambil meletakkan cawan yang sedang dipegang-Nya. Ia menatap wajahku. Aku sampai gemetar, "Tuhan, aku tidak akan membiarkan Yudas mengkhianatiMu."

Yesus menarik nafas panjang, "Anak manusia memang akan pergi sesuai dengan yang tertulis tentang Dia, akan tetapi celakalah orang yang olehnya Anak manusia diserahkan."

Yesus menatap Yudas dalam-dalam, lalu melanjutkan perkataannya, "Adalah lebih baik bagi orang itu sekiranya ia tidak dilahirkan".

Aku melihat Yudas berlinang air mata. "Ampuni aku Tuhan", kata Yudas sambil berlalu meninggalkan ruang perjamuan.

Aku hendak beranjak dari tempat dudukku untuk mengejar Yudas, tapi Yesus menahanku, "Sudah, biarkan saja. Semuanya memang harus terjadi."

"Tapi Tuhan…"

"Tidak."

Yesus memotong kalimatku, "Kamu tidak bisa mengubah apapun yang sudah direncanakan oleh BapaKu."

Aku hanya bisa terdiam.

Suasana ruang perjamuan seketika menjadi sunyi saat itu. Kami sibuk dengan pikiran masing-masing. Itu adalah malam terakhir kami bersama-sama dengan Yesus sebelum akhirnya Ia ditangkap.

Pikiranku berkecambuk.

Entah harus berduka karena Yesus harus menanggung semuanya; atau bersukacita atas keindahan karya penebusanNya.

Sedangkan Yudas? Entahlah.

Sejak malam itu aku tidak pernah melihatnya lagi.