Pernikahan Dini, antara Cinta, Tradisi, dan Realitas

Ada apa sih dengan pernikahan dini? Bukannya usia tidak membatasi seseorang untuk saling mencintai?

Pernikahan Dini, antara Cinta, Tradisi, dan Realitas
Photo by Mikael Kristenson from Unsplash

Pernikahan dini atau yang juga dikenal sebagai pernikahan usia anak adalah pernikahan yang dalam prosesnya melibatkan mempelai dengan usia masih di bawah umur dan tidak sebagaimana yang telah ditetapkan dalam Undang-Undang.

Pasal 7 ayat (1) Undang-Undang No 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, telah jelas mengatur tentang batas usia mempelai pria dan wanita untuk dapat diberikan izin menikah oleh negara, dimana mempelai pria harus sudah mencapai umur 19 tahun, dan mempelai wanita harus sudah menginjak usia 16 tahun.

Kendati demikian, pernikahan usia dini di Indonesia juga terbilang cukup marak. Coba perhatikan deh di lingkungan sekitar kamu, adakah kamu menemukan kasus serupa?

"Pernikahan dini, bukan cintanya yang terlarang, hanya waktu saja belum tepat merasakan semua."

- Agnes Monica

Lagu yang dirilis di awal tahun 2000-an ini agaknya cukup tepat menggambarkan kisah para pegiat pernikahan dini yang baru-baru ini kembali menghebohkan tanah air.

Kamu mungkin masih ingat beberapa kasus pernikahan usia dini yang sempat viral di berbagai media. Tak tanggung-tanggung, beberapa kasus yang viral bahkan melibatkan anak usia SD dan SMP, persis sebagaimana yang data yang dikutip dari Survei Sosial Ekonomi Nasional oleh Badan Pusat Statistik pada tahun 2017 lalu.

Penelitian lain yang dilakukan oleh Lauren Rumble, dkk. di Indonesia pun memaparkan bahwa 17% dan 6% wanita di Indonesia menikah sebelum usia 18 dan 16 tahun.

Wow.

Itu tentu bukan angka yang kecil mengingat pernikahan ini melibatkan anak di bawah umur.

Sampai di sini, banyak dari kamu mungkin akan setuju bahwasanya fakta demikian terdengar miris mengingat pada usia tersebut, seorang anak belum bisa dikatakan matang baik secara reproduksi fisik ataupun secara mental.

Namun kembali lagi, setiap kejadian punya cerita di baliknya. Yuk, coba telaah satu-persatu.

Antara Cinta dan Tradisi

Tradisi kultur pernikahan bali

Maraknya pernikahan dini atau pernikahan usia anak di Indonesia tidak terlepas dari faktor pribadi masing-masing pihak yang terlibat di dalamnya.

Secara pribadi, para mempelai yang umumnya masih berusia di bawah matang ada kalanya mengaku sangat cinta dan ingin segera menghalalkan kekasihnya.

Sebut saja Andi, seorang pemuda cilik dari Binuang, Kalimantan Selatan, yang nekat menikah karena mengaku sudah sangat mencintai gadis yang baru dipacarinya sebulan terakhir itu.

Atau kamu mungkin pernah mendengar cerita lainnya yang datang dari dari Sulawesi Selatan tentang pernikahan sepasang remaja yang dilangsungkan karena salah satu mempelai takut tidur sendirian.

Alasan-alasan seperti itu mungkin terdengar sepele buat kamu.

"Memangnya anak umur segitu tahu apa soal cinta?"

- Sebuah kutipan random dari seorang Netizen

Kenyataan lainnya adalah ketika orang tua atau wali dari kedua mempelai cenderung mendukung dan merelakan pinangan antara putra-putri mereka yang masih di bawah umur, meskipun tanpa alasan urgent apapun.

Pasalnya, pernikahan dini sering kali dianggap sebagai solusi tunggal untuk mengantisipasi perzinaan yang ditakutkan akan membawa petaka dan menjatuhkan martabat keluarga.

Pandangan semacam ini khususnya terjadi pada masyarakat di daerah pedesaan yang masih lekat dengan adat, tradisi, dan kepercayaan tertentu.

Banyak juga loh, anak-anak Indonesia yang justru tidak punya pilihan karena harus dijodohkan oleh orang tua demi menjaga keutuhan tradisi dan kekerabatan atau sekadar untuk meningkatkan kemakmuran.

Bergeser ke sebab berikutnya.

Menurut kamu nih yang bertempat tinggal di kota, apa sih yang sering kamu temukan sebagai alasan pernikahan dini?

Di sudut lain negeri ini, pernikahan usia dini terus diangkat juga karena kelalaian individu anak dalam memahami fungsi reproduksinya. Salah memaknai cinta, lalu terseret dan ikut terjebak dalam lingkaran tanggung jawab.

Sebab yang satu ini sudah memunculkan banyak sekali cerita pernikahan serupa. Kamu mungkin pernah mendengar satu atau dua di antaranya. Meskipun jarang menjadi topik panas dalam media massa, namun kamu tentu setuju jika angka pernikahan dini akibat sebab yang terakhir ini tidak bisa disepelekan.

"Sebagian remaja mengira pernikahan seperti memasuki restoran di mana orang-orang hanya menemukan yang enak-enak saja."

- Gede Prama

Realitas

Pria sedang berama istrinya yang sedang hamil

Mari bicara data.

Djamilah dan Reni Kartikawati pernah membahas ini dalam jurnal mereka di tahun 2014. Fakta yang mereka paparkan menunjukkan bahwa pernikahan dini akan berdampak pada banyak aspek kehidupan pasangan belia tersebut.

Setelah menikah dini, tidak sedikit pasangan yang memutuskan untuk berhenti sekolah. Rendahnya tingkat pendidikan tentu akan berdampak kepada sulitnya mendapatkan pekerjaan. Tidak jarang loh, dampak yang satu ini memicu terjadinya kekerasan dalam rumah tangga, apalagi didukung oleh pergolakan emosi yang masih labil.

Secara biologi pun, ketidaksiapan organ reproduksi seorang wanita hamil dapat membahayakan nyawa ibu dan bayinya. Julia Timofeev, dkk. dalam penelitiannya menunjukkan bahwa usia ideal seorang wanita untuk mengandung adalah pada rentang usia 20 tahun.

Adapun dampak psikologis khususnya akan menyerang pasangan yang menikah dini dikarenakan paksaan. Pasangan yang menikah di usia dini secara paksa cenderung akan kesulitan beradaptasi secara mental dalam menghadapi perubahan perannya secara mendadak.

Dengan segala dampak yang mengkhawatirkan tersebut, risiko perceraian pun turut mengintai. Tidak semua kamu orang dewasa siap untuk berada dalam pernikahan yang melelahkan secara mental dan mengancam secara fisik semacam ini, apalagi untuk mereka yang masih anak-anak.

Sudah saatnya edukasi dan sosialisasi tentang pernikahan dini digencarkan untuk para orang tua. Begitu halnya dengan pendidikan reproduksi yang tentunya juga perlu dipahami oleh anak-anak dan kaum remaja.

Bijaklah dalam membuat keputusan untuk menikah.

Pernikahan itu urusan seumur hidup, loh.