Review Buku: Bagi Maxim, Cinta Itu Tak Kenal Usia

"Cinta Pertama" Maxim Gorky adalah salah satu first love yang sukses

Review Buku: Bagi Maxim, Cinta Itu Tak Kenal Usia
Photo by Alina Vilchenko from Pexels

Sebagai salah satu dari geng penulis seperti Anton Chekov atau Leo Tolstoy, Maxim Gorky juga tidak kalah menariknya dari mereka. Penulis sekaligus intelektual asal Rusia yang bernama asli Aleksey Maksimovich Peshkov ini bahkan pernah menuliskan salah satu biografi kisah cinta pertamanya.

Biografi salah satu penggalan hidupnya itu kini dapat dibaca di sebuah novel biografi pendek berjudul Cinta Pertama. 

Latar belakang keluarga yang menyakitkan rupanya tidak membuat Gorky menjadi sosok yang sinis. Ayahnya dan ibunya meninggal saat ia sebelas tahun. Meski kemudian ia tinggal bersama kakek-neneknya, Gorky melarikan diri di usia dua belas tahun.

Gorky bahkan juga sempat melakukan upaya bunuh diri 7 tahun setelah lari dari rumah, yang untungnya percobaan ini gagal. Dan semua ini tetap saja-sekali lagi, tidak menjadikan Gorky sosok yang sinis, apalagi soal cinta.

Cinta Pertama bukan kisah cinta yang klise

Maxim Gorky CInta Pertama

Bagi kamu yang berpikir bahwa kesuksesan Gorky dengan cinta pertamanya ini mampu membuat ia hidup bahagia bersama pasangannya sepanjang hayat, maka kamu tidak akan mendapat ekspektasi demikian.

Cinta Pertama adalah penggalan kisah hidup Gorky bersama cinta pertamanya, Olga, yang meski tidak selamanya tapi lebih serius dari cinta pertama yang kita kenal pada umumnya. 

Cinta pertama rupanya salah satu fase hidup yang sangat penuh penghayatan bagi Gorky. Dalam buku ini, kamu akan merasakan tempo yang cukup lambat saat Gorky mengkisahkan cinta pertamanya.

Tempo yang cukup lambat tersebut sejalan dengan suasana melankolis yang juga bagian dari sifat Gorky. Inilah yang membuat buku bernada romansa ini sangat menarik. Kamu tidak sekedar mendapatkan teks naratif saja, tapi juga menangkap suasana yang membuatmu ikut menghayati si penulisnya sendiri, Gorky.

Buku yang sarat suasana melankolis ini jelas menggambarkan watak penulisnya yang sensitif, dalam artian memiliki sisi emosional atau perasaan yang halus. Dan karena kepekaan Gorky inilah, suasana cerita tidak hanya kamu dapatkan dari dialog atau aktifitas para tokoh, melainkan juga dengan bagaimana ia menggambarkan suasana apa-apa yang ada di sekitarnya. 

Dan meski pertemuan Gorky dan Olga tidak terjadi di tempat yang bisa dikatakan memanjakan mata, Gorky adalah sosok yang bisa peka dan menangkap adanya keindahan di antara sesuatu yang buruk. Begitulah pada awalnya Gorky menceritakan sosok Olga, perempuan yang kemudian ia sebut sebagai "Parisian saya".

Gorky jatuh cinta pada Olga tidak hanya dari penampilan rupawan Olga, melainkan ia sedari awal sudah meletakkan kekaguman padanya. Bahkan Gorky sendiri sampai mempersonifikasikan Olga seperti seekor kucing. Dikarenakan rumah Olga yang penuh debu dan pengap itu tidak mempengaruhi Olga yang selalu tampak bersih dan cantik.

Kekaguman Gorky juga berangkat dari betapa intelektualnya Olga yang sama sekali tidak tercermin dari bagaimana ia tinggal bersama suaminya dan seorang anak perempuannya. 

Jangan dikira kisah cinta ini akan terkesan membara layaknya cinta pertama pada umumnya ya. Jauh dari kesan itu, kisah kedua pasang kekasih ini bisa dibilang berjalan lambat, maklum karena Olga sendiri sudah berkeluarga.

Namun, sangat patut dikagumi bahwa kekaguman Gorky dan penghayatannya pada cinta tidak terkesan seperti pemuda umur 21. Ia benar-benar dewasa dan mengerti bagaimana batasnya memperlakukan Olga. Bukan hanya karena Olga adalah sosok yang dicintai dan dikaguminya, tapi juga karena Gorky menghormati Olga dan kehidupannya. 

Kamu mungkin bertanya-tanya, berapa selisih usia mereka hingga latar belakang keduanya tampak cukup menyolok berbeda. Gorky dan Olga memang bukan pasangan muda-mudi seumuran. Ketika pertama kali dan langsung jatuh cinta pada Olga, usia Gorky barulah 21 tahun, sedangkan Olga berusia 10 tahun lebih tua darinya.

Pautan usia yang jauh, namun tidak membuat jurang yang jauh juga bagi keduanya. Sempitnya jurang ini sangat terlihat karena keduanya memiliki visi dan nilai yang mirip. Pada intinya, intelektualitas keduanya adalah jembatan bagi kecocokan mereka. 

Pada akhirnya, ketika suami Olga, Boleslav, pada akhirnya harus bekerja di tempat lain, Gorky dan Olga tinggal bersama dengan anak perempuan Olga. Bagian ini akan cukup menantang bagi yang tidak sepihak dengan hubungan tanpa perkawinan.

Namun, nyatanya Gorky yang memang memiliki intelektualitas jauh di usianya, tidak cuma memperlakukan Olga bagai istrinya, tapi juga memiliki rasa tanggung-jawab pada anak perempuan Olga.

Salah satu penggalan yang menunjukkannya adalah ketika Gorky merasa bersalah pada Olga karena tidak mampu menyediakan tempat tinggal lebih baik dan membelikan mainan yang bagus untuk anak perempuan Olga.

Pada fase ini, kehidupan Gorky dan Olga sebenarnya makin membaik secara finansial. Bahkan Olga sering menjamu kenalan mereka di rumah keduanya. Sayangnya, ini juga yang menjadi awal runtuhnya hubungan Gorky dan Olga.

Gorky yang tampaknya introvert tidak terlalu suka dengan kebiasaan Olga yang suka menjamu banyak kenalan pria dan terlampau ramah pada mereka. Bagi Olga yang sepertinya ekstrovert, pergaulan lawan jenis semacam itu adalah hal yang biasa.

Ketika salah satu kenalan pria kemudian makin terlihat menunjukkan ketertarikannya pada Olga dengan cara sering mengirim pesan, perasaan keduanya perlahan luntur. Pada akhirnya keduanya berpisah, tentu saja dengan baik-baik. Dan sepertinya perpisahan ini tidak banyak drama, entah di kepala masing-masing. 

Quotes

Maxim Gorky CInta Pertama
Sifat pemikir Gorky dan intelektualitas Olga juga mewariskan deretan quotes dalam buku ini. Sebagai sosok yang secara usia lebih dewasa, sesekali Olga juga menasehati Gorky. Salah satunya dengan quote ini,

"Hidup, pada hakikatnya, simpel dan kasar. Tidaklah mesti merumitkan hidup dengan pencarian-pencarian makna yang spesifik, yang ada di dalamnya, tetapi harusnya kau memang belajar untuk meredakan kekasarannya."


Kentalnya sifat melankolis Gorky juga tertuang pada salah satu quote yang berbunyi, 

"Dunia dikendalikan oleh kelaparan dan cinta, tetapi filosofi merupakan ketidakberuntungannya. Manusia hidup bagi cinta dan itu adalah ikhwal awal kehidupan yang paling pokok."



Dalam novel ini, kamu tidak hanya menemukan kisah kedua orang yang berbagi perasaan yang sama, namun juga betapa cinta itu tidak memiliki dimensi. Dalam luapan bentuk apapun cinta bisa saja terjadi, bahkan dalam bentuk yang menurutmu tidak lazim sekalipun.

Selain itu, novel ini juga sedikit menantang sisi moralis kita masing-masing karena gegar budaya kita dan para tokoh. Yang jelas, untuk menikmati hari hujan di musim ini, betapa melankolisnya kisah Gorky dengan cinta pertamanya sangat recommended untuk dibaca!