Riwayat Abjad

Riwayat Abcd Efgh Ijkl Mnop Qrst Uvwx Yz

Riwayat Abjad
Images by Yanko Peyankov from Pixabay

Cerita ini kudengar beberapa tahun lalu ketika berputar mengelilingi Tanah Andalusia.

Waktu itu aku menempuh perjalanan jauh dalam rangka mengelilingi dunia karena bosan dengan negara yang kutinggali. Aku mencoba mengikuti generasi-generasi sebelumnya dalam mencari makna kehidupan; yakni bepergian.

Dan kupikir, setiap bepergian, setiap kata pindah, dari kota satu ke kota lain, dari tempat makan satu ke tempat makan lainnya, aku melihat bahwa orang dari setiap negara berbeda. Jauh di atas segalanya. Bahkan setiap depa jarak dari penglihatanku tentu berbeda. Dan mengumpulkan informasi mengenai perbedaan itu, bagiku, adalah sebuah hal baik bagi kelangsungan hidupku.


Di pantai terkenal di tanah ini, di sana, ketika itu saya sedang nikmat-nikmatnya berjemur di bawah matahari beralaskan daun-daun yang terbang jatuh dari pohonnya. Saya kedatangan seorang lelaki tua yang janggutnya menyapu bebatuan dan matanya yang hampir hilang ditelan rerimbun alisnya yang berwarna putih, senada dengan warna rambutnya.

Lelaki tua itu bertelanjang dada, menampakkan bulunya yang keriting dan saling bertautan satu sama lain, ia hanya mengenakan selipat kain yang dipelintir di bagian pangkal guna mengencangkan agar kainnya tidak kedodoran dan melihatkan isi sangkarnya.

Lelaki itu duduk persis di sampingku, dan karena itu, aku merasa gelisah karena nuraniku mengatakan lelaki ini bukan orang baik-baik.

Dia senang sekali berdesis, mengepakkan serta menepuk-nepuk tangannya seperti seseorang yang tengah merayakan ulang tahun.

Sesekali lelaki tersebut mengerjap-ngerjap dan bersumpah bahwa ia akan mati tahun depan. Beberapa kali dalam setiap sumpahnya itu, ia mengeluarkan sebilah pisau kecil, mirip seperti pisau pemotong kue dengan memainkannya ke kanan dan ke kiri, sebagai seorang lelaki normal aku menyentak-nyentak tak karuan, namun lelaki tesebut geming dan memilih untuk menghirup udara lamat-lamat.

Dalam waktu yang cukup lama ia berdiam diri, hampir-hampir matahari tenggelam oleh perbukitan, akhirnya ia mulai membuka suara, dan nada baritonnya membuatku bergidik setengah mati.


Sebuah anak hidup berpuluh tahun yang lalu.

Lepas dari indahnya pantai ini dan gemerlapnya bintang di atas gunung Andalusia, ada kisah menakjubkan tentang betapa mulianya hidup orang-orang yang luput dari pandangan kita. Kalau kau bertanya kenapa aku menyematkan kata ‘sebuah’ mungkin nanti kau akan dapati jawabannya, tinggal kau simak baik-baik cerita yang akan aku sampaikan. Cerita yang asli dan tanpa kukarang sedikitpun.

Cerita yang terkenal namun hanya secuil populasi yang mempercayainya. Mereka lebih percaya pada jargon calon wakil rakyat ketimbang ceritaku. Oleh karena itu, aku menjadi semakin tua.


Aku membetulkan cara dudukku, dan memandang lelaki tua itu, yang ternyata tidak dalam rangka berniat membunuhku, tapi ia sedang dan akan bercerita!

Tentu aku suka cerita.

Ia kelihatan sama seriusnya seperti nenekku kalau sedang merajut, wajahnya agak pasai dan kepalanya mendongak lurus menatap langit, aroma tubuhnya mirip benar dengan lemari reyot kamarku.


Dahulu kala, mahsyur sekali anak yang bernama Abjad, tanpa nama panjang. Bukan karena ia penemu alat elektronik baru ataupun ia orang paling terkaya di negaranya, bukan juga ia penyanyi dengan suara oktaf tinggi atau pemikir besar, melainkan ia terkenal karena namanya yang unik.

Namanya ialah Abcd Efgh Ijkl Mnop Qrst Uvwx Yz.

Demi menyelamatkan kaidah berbahasaku, dan juga didasari atas permintaan si anak, ia memilih dipanggil Abjad, marilah kita hormati dia dengan memanggilnya sesuai permintaan.

Pada tahun kesebelas ia hidup, Abjad mulai gelisah karena ejekan teman-temannya yang memanggilnya Buta Huruf.

Teman-temannya mengira bahwa ia adalah ciptaan dungu yang sampai kapapun tidak akan pernah bisa menulis huruf kadang membuatnya gerah. Padahal sebenarnya ia bisa baca-tulis, lancar tanpa patah-patah, bahkan bisa dibilang melebihi teman-temannya, hanya sifatnya yang pendiam dan cenderung mengkerdilkan diri sendiri yang membuatnya kian dipandang lemah dan tak guna oleh teman-teman busuknya itu.

Sampai suatu waktu, karena perasaan kesal yang membuncah, Abjad memberanikan diri untuk bertanya kepada orang tuanya.

Sebelum-sebelumnya ia gelisah dan ketakutan kalau kedua orang tuanya akan marah karena pertanyaannya. Sebab sedari kecil, ketika ia bertanya pada orang tuanya, mereka tak pernah menjawab. Sesekali diam. Tapi lebih sering marah dan menyuruh Abjad untuk bungkam diri dan lebih baik cari pengetahuan sendiri di perpustakaan kota atau bertanya pada gurunya yang hebat. 

Orang tuanya tidak peduli dan tidak pernah mau tahu tentang kata-kata semacam apa, bagaimana, kenapa dan kata-kata lain yang membutuhkan simbol tanda tanya.


Aku terkesima, hatiku berdegup karena tahu bahwa aku mulai terjerumus dan menarik diri ke dalam ceritanya, minatku tumbuh dan ada sesuatu hal yang harus aku temukan di dalam cerita lelaki tua itu.

Sesuatu yang rumit untuk kujelaskan, ada kata sifat yang bahkan kepada diriku sendiri aku tidak bisa menemukan kosakata apa itu yang kumaksud.

Lelaki tua mulai mendongeng lagi. Aku merasa bahwa ada gairah yang meletup-letup dalam dirinya.


Abjad bertanya pada ibunya, "Mengapa dahulu kala setelah aku lahir, ibu menamakan aku huruf-huruf yang nantinya aku pelajari juga? Huruf-huruf yang bahkan sudah kucari di kamus manapun tidak ada artinya kalau cuma dideretkan seperti aljabar yang rumitnya bukan main itu!" 

Saat itu, ibunya bergeming barang sejenak, lalu memegang bahu Abjad keras-keras, ditatap anaknya itu seraya mulutnya berkata dengan nada proklamasi, "Kau tumbuhlah dulu sampai empat puluh tahun, minimal empat puluh tahun, kelak setelah itu, datanglah kembali pada orang tuamu dan bertanya lagi perihal namamu.

Kau akan menjadi orang besar, dan orang besar tidak melulu harus tenar dan berduit banyak. Kau akan kembali, Ibu percaya, dan satu-satunya harapan Ibu, dan Ayahmu adalah kelak ketika kau menjadi orang besar, kau kembali."

Mahaduka Abjad termenung, ia menatap nanar kedua orangtuanya, hanya diam dan tak sanggup berkata apa-apa selain hatinya yang merasa jengkel karena perkataan ibunya yang cenderung repetitif serta kabar tentang penantiannya yang akan sangat lama.

Bayangkan, Abjad harus menunggu kurang lebih dua puluh sembilan tahun lagi sampai ia mengetahui arti dibalik namanya. Itupun dengan mengenyampingkan kalau-kalau di antara mereka bertiga belum ada yang meninggal. Abjad terus mengutuki takdirnya, mengapa menerima kenyataan terhadap namanya pun menjadi begitu rumit?


“Apakah di antara mereka bertiga nantinya akan ada yang meninggal?”, tanyaku kalem.

Lelaki tua itu memandangku dan bola matanya menyembul sedikit dari rimba alisnya, “Kalau tidak kuberitahu, mungkin ini akan kelihatan seperti sinetron yang sok misterius. Jadi lebih baik kuberitahu, nantinya mereka bertiga akan meninggal.

"Mereka bertiga meninggal!”, ucap Lelaki tua itu dengan nada membentak di kalimat terakhir.

Aku mundur satu duduk, dan tidak menyangka kalau ia telah melanggar kode etik pencerita di mana rahasia menjadi satu-satunya hal yang harus tetap dijaga agar sang pembaca atau pendengar tetap menyimak dirinya.

Ketika aku ingin mengucap lagi, Lelaki tua itu memotongku dan tawanya meledak-ledak seperti kembang api tahun baru, “Jelas. Bukankah semua orang pasti meninggal? Kau ini bodoh atau gimana?”

Ia puas sekali dengan lelucon yang sama sekali tidak lucu, sementara satu daun jatuh di atas kepalaku, ia kembali bercerita, kali ini, kepalanya datar-datar saja dan tawanya sudah surut, air wajahnya mendadak seperti seorang yang tengah merindukan sesuatu.


Selepas masa sekolah, Abjad merantau jauh ke ibukota untuk melanjutkan studinya, ia memilih ilmu linguistik sebagai salah satu jalan hidupnya. Di sana, ia betemu banyak orang-orang hebat, dan minatnya mulai tumbuh terhadap buku-buku dan segala sesuatu yang mengandung unsur cerita, terutama fiksi.

Mungkin, karna kebiasaannya sejak kecil yang terus berkunjung ke perpustakaan, hal itu membuat Abjad sangat bersahabat dengan tempat itu, ia sangat betah duduk di kursi kayu dengan bacaan beragam yang menumpuk.

Jika dulu sewaktu sekolah dasar ia suka sekali membaca dongeng bergambar, sekarang ia mulai menarik diri dari dunia itu dan membuka kepada genre bacaan yang lebih luas.

Belum lagi bahwa lingkungan benar-benar mendukung kegemarannya, memori bahwa teman-teman ketika masa kecil yang kerap mengejeknya tidak lagi Abjad temukan dalam lingkar satu, dua, dan tiga dalam pertemannya. Ia merasa bahwa memang, dunia kampus adalah dunia yang baik bagi orang menentukan jalan hidupnya.

Abjad tumbuh menjadi satu orang yang begitu dikagumi dan disegani, pemikiran-pemikirannya dan pandangannya terhadap dunia sastra beberapa kali memicu konfrontasi dari teman-temannya yang kadang bersepakat, walau harus diakui lebih banyak dari mereka yang tidak bersepakat pada pandangan-pandangan progresif Abjad, yang walaupun, dari merekapun banyak yang diam-diam mengagumi pikirannya yang antigenerik.

Pengajar-pengajarnya pun sempat dan beberapa diantaranya justru sering bersitegang dengannya kala di kelas karena hal-hal yang diajarkan oleh pengajar tersebut kerap tidak relevan dan menjemukan, belum lagi kalimat-kalimat yang diutarakan kadang terlampau kejam dan sukses membuat harga diri pengajar tersebut jatuh dan hancur diinjak-injak di depan satu kelas.

Menapaki tahun kedua. Abjad mulai satu-dua kali menulis untuk percobaan, dan setiap satu-dua kali cerita yang ia tulis, pastilah akan menyangkut di tangan editor yang menyumpah-serapahi ceritanya karena telalu keji jika ia menolak cerita itu.

Ponselnya selalu berdering dan telinganya selalu merujuk pada kosakata-kosakata pujian yang naif apabila ia tidak berbangga karenanya.

Abjad bangga bukan kepalang ketika ceritanya termaktub di koran-koran lokal, beberapa bahkan sempat mampir di koran nasional, selain baik bagi rekeningnya, Abjad merasa bahwa pamornya mulai tumbuh perlahan, ia beberapa kali ditelpon oleh editor untuk mengirimkan kontribusi berupa cerita pendek atau hanya satu puisi untuk mengisi kolom sastra di koran-koran mereka.

Tapi, sejak memutuskan untuk menulis cerita-cerita atau puisi-puisi yang baru beberapa hari ini ia tekuni, ia selalu merasa ganjil dengan nama pena yang dibuatnya; Anonim."


“Kau pasti bertanya mengapa ia menggunakan nama pena Anonim”, kalimatnya datar dan sukses untuk bisa membaca pikiranku yang menggelayut.

“Tentu panjang sejarahnya, itu bagaikan prekuel dari sebuah film sukses. Kau harus tahu dulu bagaimana cerita lengkap dari Abjad, dan kau akan tahu bahwa intisari dari cerita ini adalah tentang nama.”

Aku menggaruk kepalaku, sesungguhnya karena aku tidak mengerti, “Baik, silahkan lanjutkan kek.”


Kau tahu, dan tentu pasti paham, bahwa hasrat pamer memang puncak-puncaknya ketika masa muda, dengan bangga Abjad menunjukkan buah tangannya kepada teman-temannya. 

Mayoritas mereka memuji dan mendaulat Abjad kelak akan menjadi seorang penulis yang hebat dan namanya mahsyur di segala pelosok dunia, pengajar-pengajarnya pun yang kerap membaca koran setiap Minggu pagi dan menemui kenyataan bahwa yang menulis adalah salah satu dari muridnya.

Tak lupa juga untuk memberikan pujian sembari sesekali, tentu tanpa tahu malu meminta Abjad untuk menulis satu dua buah cerita yang ditulis atas namanya untuk tuntutan publisitas.

Dan, sama seperti editor yang menerima karyanya, selain pujian serta telpon setiap paginya yang terus meminta Abjad untuk mengisi kolom sastranya, ia juga meminta untuk Abjad menjelaskan tentang arti nama penanya dan menyarankan untuk mengganti nama penanya agar lebih khas dan menjual.

Abjad selalu dan hanya bilang kalau nama aslinya terlalu panjang dan membosankan.

Tentu, editornya menyayangkan itu, mereka menganggap Abjad memiliki nama unik yang tidak akan pernah sama dengan nama siapapun di muka bumi ini, dan potensi untuk hidup besar dari namanya tentu tidak bisa disangsikan.

Lepas dari kampus, ia memutuskan untuk mendedikasikan hidupnya dalam dunia sastra dan menulis banyak cerita pendek dan puisi yang berkelindan di antara keseriusan dan imajinasi.

Dalam tujuh tahun Abjad sampai pula di puncak kariernya. Waktu itu ia berada di penghujung umur mendekati angka tiga puluh dan tengah dalam kesibukan yang luar biasa dalam penerbitan novel perdananya yang meledak dengan penjualan gemilang menyentuh lima belas ribu eksemplar di hari perdana.

Gairahnya menyala-nyala, ia baru saja mengisi sebuah perbincangan hangat di toko buku di kota yang berjarak empat ratus kilometer dari ibukota ketika kemudian ia ditelpon kakeknya, berkabar dengan cepat dan ringkas bahwa orang tuanya meninggal, dua-duanya dibunuh dalam satu kasus misterius yang memiliki banyak tanda tanya dalam kematiannya.

Abjad kaget setengah mati. 

Dengan satu gerakan cepat, ia pergi meningalkan toko buku itu dan segera membeli tiket pulang, acara untuk talkshow-talkshow berikutnya ditunda sampai waktu yang tidak bisa ditentukan, hegemoni penandatanganan yang ia idam-idamkan mau tidak mau harus ia pupus demi orang tuanya, ia ingin meminta penjelasan pada kakeknya, sedetil-detilnya, sebanyak-banyaknya karena pertanyaan lamanya yang ia tunggu-tunggu mati di tengah jalan.


Aku meneguk ludah dan mataku tidak bisa tidak untuk selalu menatap orang tua tersebut, matahari telah tenggelam, semilir angin pantai menyentuh kepalaku dan dan cuaca dingin beberapa membuatku harus memakai baju dan jaket sekaligus.

Langit hampa dan tidak ubahnya seperti air danau yang mengandung banyak timah. Menanti-nanti sang Lelaki tua berkata lagi, sudah semenit ia tidak bicara dan hanya sibuk mempermainkan jari-jarinya.

Tiga menit. 

Lima menit. 

Lima belas menit, aku tidak tahan lagi, gerahamku mengeras dan ketidaksabaranku membumbung tinggi, “Apakah ceritanya memang berhenti sampai di situ?”

Lelaki tua menoleh, kembali menatapku, dan bertanya dengan nada enteng, “Kau tertarik juga rupanya? Kupikir tidak karena dari tadi kau hanya diam dan seperti tidak menghiraukan ceritaku.”

Jangan bodoh. Aku hanya bisa mendengus, “Aku terdiam karena aku justru sangat tertarik.”

“Tentu, tidak ada satupun orang yang kuceritakan kisah ini tidak ingin tahu bagaimana akhir kisahnya. Bagus. Mari dengarkan.”

Orang tua tersebut menepuk nyamuk yang ada di tangannya, menyentil dengan gerakan pelan dan kemudian melanjutkan ceritanya.


Abjad menemui kakeknya, dan ia hanya butuh satu menit untuk  bicara, "Kek, bisakah kau jelaskan mengenai kematian orang tuaku dan alasan kenapa mereka menamaiku?"

Kakeknya menjawab dengan begitu tenang dan suaranya baritonnya mirip sekali dengan Abjad, "Sabar dulu, kau minumlah dahulu."

Abjad menyanggah, "Ada dua alasan mengapa aku tidak akan bisa tenang, pertama, aku tidak tahu kasus apa yang menimpa orang tuaku, siapa yang membunuhnya, motif apa yang bisa membunuhnya, dan tidak ada satupun alasan mengapa orang tuaku dibunuh."

"Kedua, orang tuaku berjanji untuk memberikan penjelasan tentang namaku ketika nanti aku menginjak umur empat puluh tahun, aku berusaha mungkin, setidaknya untuk hidup normal dan tidak lagi terjebak dalam pertanyaan retoris pada mereka tentang arti dari namaku, dan sekarang, kakek tahu, mereka telah tiada, telingaku yang ingin mendengar sendiri dari mulut mereka kini hanyalah tinggal keinginan.

Maka, beritahu aku, kakek sudah semestinya tahu apa yang terjadi."

Sang kakek menjelaskan panjang lebar bahwasanya alasan mereka menamai Abjad berupa huruf-huruf tidak lain tidak bukan adalah karena mereka berdua sebenarnya manusia yang kafir huruf dan menjadi bodoh serta mudah dibodohi, mereka berdua tidak pernah menjawab pertanyaanmu adalah mereka sebenarnya tidak tahu harus menjawab apa dan mereka kesulitan bahkan untuk merangkai kata selain pergilah ke perpustakaan.

Diksi kedua orang tuamu murahan dan bahkan mereka tidak tahu korelasi kata antara memancing dan laut.

Struktur bahasa mereka aneh dan sebab itu kedua orang tuamu hidup dengan soliter, pergi ke sawah, pulang ke rumah, makan dan begitu seterusnya.

“Mereka tidak ingin memberitahumu hanya karena tidak ingin membuatmu sedih karenanya. Bagi mereka, anak yang lahir dari orang tua yang bodoh tidak seharusnya menanggung kebodohan itu."

"Kalau kamu ingat, ketika kamu masih sekolah, kamu berkata bahwa namamu dilecehkan sedemikian rupa di depan orang tuamu, setelah itu, orangtuamu menangis. 

Mereka benar-benar merasa bersalah karena menjadi orang tua yang tidak dapat diandalkan, tidak pintar, tidak berbakat dalam ilmu matematika ataupun sosial, mereka lemah, sementara, mereka tidak ingin kamu memanggul semua kelemahan mereka, itulah sebabnya, mereka hanya bisa diam.

Bahkan sampai mereka sekarang sudah bukan lagi menjadi bagian dari euforia kehidupan manusia.”

Abjad menjadi tidak keruan, mukanya sembab, dan kembali bertanya, "Apakah hanya itu yang dilakukan mereka?"

Sang Kakek tersenyum dan menjawab bahwasanya selain pergi ke sawah, pulang ke rumah, dan makan, orang tua Abjad hampir tidak pernah meluangkan waktu tidur hanya karena sibuk bekerja untuk membeli kamus dan banyak buku. 

Kamus itu menjadi satu-satunya bacaan mereka, tempat mereka belajar membaca, tempat bagaimana mereka mengenal dunia dimana sekarang dunia itu telah menjadi milikmu, mereka membeli enam tahun yang lalu lembar demi lembar mereka lahap dan baca bahkan sampai hidup terakhir mereka.

Sang Kakek bertanya dengan suara jernih, "Kau ingat, ketika enam tahun lalu kau tengah berlaku apa?" Abjad berpikir keras dan mencoba mengingat bahwa waktu itu adalah pasca kelulusan, pindah ke ibukota dan, "Enam tahun yang lalu sepertinya aku sedang menulis novel perdanaku."

Sang kakek tersenyum dan menepuk pundak Abjad dengan tepukan yang menggelisahkan sembari berkata,  "Sesungguhnya kalimat-kalimat yang lahir dalam tulisanmu adalah karena orang tuamu, dan ketika kau menyelesaikan, maka berakhir jugalah orang tuamu."

Hening menguar dan dingin menyergap Abjad. Ia tidak pernah tahu bahwa di dunia yang serba cepat seperti ini, kematian semacam itu bisa saja terjadi pada dirinya. Kematian macam apa yang menimpa orang tuanya hanya karena ia menuliskan banyak hal? Apa hubungannya menjadi seorang penulis, orang tua yang buta huruf dengan kematian?


Lelaki tua itu menghirup napas panjang, lalu menghembuskannya dengan napas berat. Air matanya mengalir. Bulan memisahkan dua gemerincing bintang yang berkelip-kelip, saat-saat begini, malam menjadi jauh lebih hangat daripada sebelum-sebelumnya.

“Begitukah cerita itu? Sebagai seorang pencerita, kau tidak mengakhiri ceritamu dengan manis dan dramatis,” tukasku.

“Nak, percayalah, kematian tidak pernah bisa didramatisir, mau kamu apakan kematian itu, mau kamu buat berita sebaik apapun ataupun justru sebaliknya berita sesedih yang kamu mau, kematian tidak akan pernah berbohong.

Ia adalah salah satu momen di dunia yang Tuhan ciptakan untuk membuat lubang di hatimu, dimana Ia akan kembali menamparmu, dan mendampratmu bahwa memangnya kamu siapa disini?

Namun, walaupun begitu, bagi Abjad, kematian hanyalah kata-kata belaka.”

Aku tiba-tiba teringat sesuatu, “Jadi, begitukah alasanmu membuka cerita dengan kalimat sebuah orang alih-alihnya mengucapkan seorang?”

“Benar, Abjad adalah sebuah manusia, ralat, ia adalah sebuah kata. Namun dia tidak imajinatif, ia sungguh benar-benar ada. Kamu hanya tinggal memilih untuk mempercayainya atau tidak, itu sudah jadi urusanmu. Urusanku adalah untuk bercerita, itu saja.” Lelaki itu tertawa keras sementara aku hanya memberengut.

Beribu pertanyaan masing menggantung di alam pikiranku. Aku yakin cerita itu belum selesai benar dan rasa penasaranku masih belum tuntas.

Lelaki tua berdiri dan kemudian melirikku, “Kenapa? Kau masih belum puas?”

“Aku tidak yakin kalau ceritamu itu sudah selesai. Tidak, aku bahkan sangat yakin kalau cerita itu belum selesai.”

“Kau juga suka cerita?”

Aku mengangguk.

“Sebenarnya ada dua rahasia yang masih belum kuceritakan padamu selain rahasia di balik riwayat nama Abcd Efgh Ijkl Mnop Qrst Uvwx Yz.”

“Apa rahasia itu? Ceritakan.”

Lelaki tua itu beringsut membenahi pakaiannya, berbalik dan kemudian berjalan pelan, “Nak, waktumu sudah habis, kamu tidak lagi bisa mendengar cerita tentang Abjad.”

Aku berkilah cepat, “Maksudmu apa, wahai orang tua? Kau masih menyimpan tentang misteri keberadaan sang Kakek yang mengapa tiba-tiba begitu tahu semaunya, kamu belum menjelaskan bagaimana asal usul kehidupannya, dan tentu, yang paling penting, bagaimana kamu menjelaskan tentang kehidupan selanjutnya si Abjad?“

Lelaki tua itu berdiri, kepalanya menoleh, dan mengucapkan kalimat paling menyeramkan malam itu, “Terkadang, dalam cerita, tidak semuanya harus dibongkar. Bukankah Tuhan juga tidak pernah memberitahumu apa yang terjadi setelah ini?”

Bulan terus naik menuju puncak malam, dan semakin malam, Tanah Andalusia mulai memainkan lagunya.

 

Ditulis oleh Ghiyats Ramadhan dengan beberapa sentuhan revisi dari Andrina Laras