Seberapa Akurat MBTI? Apakah Masih Bisa Dipercaya?

Banyak yang menganggap tes kepribadian MBTI sama sekali tidak akurat, benarkah?

Seberapa Akurat MBTI? Apakah Masih Bisa Dipercaya?
Photo by Mentatdgt from Pexels

Banyak dari kamu mungkin familiar dengan istilah MBTI atau Myers–Briggs Type Indicator. MBTI adalah sebuah kuesioner yang dibentuk oleh ibu dan anak, Katharine Cook Briggs-Isabel Briggs Myers.

MBTI dibuat untuk memetakan bagaimana seseorang berdasarkan empat fungsi psikologis Carl Jung yaitu sensasi, intuisi, perasaan, dan pemikiran. Kedua ibu dan anak ini kemudian menghasilkan klasifikasi 16 tipe kepribadian yaitu ISTJ, ISFJ, INFJ, INTJ, ISTP, ISFP, INFP, INTP, ESTP, ESFP, ENFP, ENTP, ESTJ, ESFJ, ENFJ, dan ENTJ.

Pada sejarahnya, MBTI ditujukan agar teori psikologis yang dirumuskan oleh Carl Jung dapat dimengerti dan diaplikasikan dalam kehidupan. Pada akhirnya, manual untuk MBTI terbit pada tahun 1962 dan mendapat dukungan dari berbagai akademisi universitas di Amerika. MBTI kemudian terus mengalami update hingga cetakan ketiga dan terbaru pada 1998. 

Sampai saat ini, MBTI sebenarnya masih sangat sering digunakan untuk menganalisis cocok-tidaknya seseorang di suatu posisi pekerjaan atau juga potensi apa yang dimilikinya. Ada banyak perusahaan yang memang menggunakan MBTI sebagai ukuran apakah seseorang layak menjadi calon karyawan atau posisi apakah yang cocok bagi seorang calon karyawan. 

Meski sangat banyak orang yang tertarik dan mempelajarinya, sebenarnya beberapa tahun terakhir ini MBTI juga menuai pro-kontra terutama penolakan dari kalangan akademisi dan praktisi psikologi. Tidak jarang, MBTI disebut sebagai pseudosains

Walau begitu, tetap saja ada sebagian ahli yang juga menyatakan pendapat berbeda. Lalu bagaimana sebenarnya? Seberapa akuratkah MBTI?

Tes kepribadian MBTI

Mengapa banyak akademisi yang menolak MBTI?

Banyak yang bilang mempelajari MBTI itu nagih. kalau kamu mengunjungi situs Quora, entah yang menggunakan format bahasa Inggris atau Indonesia, kamu akan dengan mudah menemukan berbagai diskusi tentang MBTI. Bahkan, akan banyak sekali kamu menemukan orang yang menuliskan tipe personaliti MBTI-nya di belakang nama.

Meski begitu, sebenarnya ada juga yang menyangsikan tes kepribadian ini. Ada salah satu penghuni Quora yang pernah menyatakan bahwa ia bisa mendapatkan hasil yang berbeda ketika melakukan tes di waktu yang berbeda.

Misalnya, ketika dalam keadaan mood yang sedemikian, ia akan mendapat kepribadian tipe ENFJ, lalu ketika dalam mood yang lain ia kemudian mendapat tipe kepribadian ESFJ. Ada yang berpendapat bahwa hal ini mungkin saja, karena keadaan mood tertentu bisa mempengaruhi seseorang dalam memahami pertanyaan dan mempertimbangkan jawaban.

Tes ini sendiri sebenarnya banyak disangkal oleh para psikolog, terutama yang berasal dari luar negeri. Tapi, walau begitu tes ini masih sangat banyak digunakan di berbagai perusahaan atau universitas di luar negeri. Entah kalau di Indonesia. Bahkan menurut sebuah postingan Vox di tahun 2015, CIA juga masih menggunakannya. 

Dikutip dari The Guardian, Dr. Dean Burnett, dari Institute of Psychological Medicine and Clinical Neuroscience di Universitas Cardiff, pernah menggelontorkan sejumlah kritik terhadap MBTI.

Ia memberikan sejumlah kritik yaitu; MBTI hanya berdasarkan pilihan biner, lemahnya landasan saintifik, serta kecurigaan terhadap fenomena self-fulfilling (pemenuhan diri), yaitu semakin banyak orang yang melakukan tes MBTI, semakin banyak yang merasa perlu melakukannya.

Masalahnya, tes kepribadian manapun, memang sifatnya mendikotomi atau kategoris. Bagaimanapun, tujuan dari tes-tes keperibadian semacam ini memang dibuat untuk menghasilkan skor. Yang mana skor tersebut kemudian digunakan untuk membuat sebuah kesimpulan.

Tentu saja kemudian orang akan dikelompokkan menjadi beberapa kelompok kategori. Misalnya, apakah seseorang cocok untuk dipekerjakan atau tidak. Tentu saja dibutuhkan kategorisasi semacam ini, tidak bisa kemudian seorang calon karyawan ditempatkan dalam sebuah spektrum kategori yang dilematis, karena tujuannya adalah keputusan ya atau tidak. 

Memang inilah kekurangan MBTI, dan tes-tes kepribadian lainnya. Mereka tidak bisa mengukur secara utuh kompleksitas manusia.

Karena kompleksitas manusia nyatanya memang sulit diukur.

Tes kepribadian MBTI

Lalu, apakah MBTI masih layak digunakan?

Meskipun banyak psikolog yang menolak dan mengajukan tes Big Five yang mereka anggap lebih baik, ada juga minoritas psikolog yang memiliki pandangan lebih halus terhadap kelayakan MBTI. Merve Emre, associate professor Sastra Inggris dari Universitas Oxford pernah menulis sebuah buku yang berjudul "The Personality Brokers: The Strange History of Myers-Briggs and the Birth of Personality Testing" yang berisi tentang ulasan MBTI.  

Dari website Live Science, ia pernah mengatakan bahwa MBTI layaknya sebuah gerbang untuk lebih memahami tentang diri sendiri.

Hal ini sejalan dengan komentar dari Tom Fortes-Mayer, pendiri dan creative director FreeMind, dalam The Guardian.

Ia mengatakan bahwa MBTI adalah semacam portal agar para karyawan mulai berpikir mendalam soal dirinya dan menyadari apa potensi mereka.

Bagaimanapun, setiap orang pasti memiliki unsur-unsur yang menyusun sebuah tipe kepribadian MBTI, seperti ekstroversi-introversi, intuitif-sensing, dan pemikir-perasa. Hanya saja, spektrum yang dimiliki berbeda sehingga bisa membentuk kepribadian yang beragam dan unik.

Mengatakan bahwa MBTI adalah sama sekali omong kosong juga bukan hal yang tepat. Jika melihat dari sisi historisnya, dikatakan dalam Live Science bahwa tes ini memang diciptakan saat psikologi masih belum menjadi studi empiris.

Dan bagaimanapun, kompleksitas manusia memang sangat sulit diukur dengan pendekatan paling empiris sekalipun.

Karena, setiap orang memiliki kronologis yang tidak terukur seperti bagaimana ia dibesarkan, nilai-nilai apa yang ia hayati, bagaimana kebudayaannya, dan sebagainya. Dan hal-hal ini akan mempengaruhi satu orang dan yang lain dalam menentukan jawaban sebuah tes kepribadian.


Kesimpulannya, di samping banyak psikolog dan orang awam yang menyatakan tidak sama sekali terhadap tes MBTI, sebagian minoritas tetap melihat adanya manfaat dari mempelajari MBTI. MBTI pada dasarnya memberi petunjuk, gambaran, dan istilah/bahasa untuk mempelajari diri sendiri dan orang lain.

Jika ini memang langkah yang baik agar orang mau menerapkan sikap reflektif pada diri sendiri, peka terhadap orang lain, dan bahkan mau mempelajari psikologi, kenapa tidak? Toh kita semua sadar bahwa satu-satunya yang bisa secara utuh memahami kompleksitas kita, adalah diri kita sendiri.