Seberapa Parah Orang Indonesia Tidak Familiar dengan Buku?

Mayoritas orang Indonesia tidak familiar dengan buku selain untuk tujuan akademis

Seberapa Parah Orang Indonesia Tidak Familiar dengan Buku?
Photo by Min An from Pexels

Setelah sekitar seminggu yang lalu hasil skor PISA (Programme for International Student Assessment) diumumkan, jelas dong berita ini meramaikan jagat semesta maya. Sesuatu yang menyangkut peringkat dan skor memang cenderung digandrungi orang kan? Sayangnya, tidak selalu menyimak peringkat itu hal yang asyik, buktinya ini.

Indonesia istiqomah menempati peringkat rendah dengan menjadi bagian dari 10 besar negara dengan tingkat literasi/membaca yang paling rendah pada 2019. Luar biasa tabah.

Ya pastinya tabah dong, toh hasil yang dulu-dulu juga tidak kalah semenyedihkan ini. 

Bukan maksudnya tidak cinta Indonesia dan cuma bisa mengolok-ngolok saja, tapi menertawakan kebodohan adalah cara yang bagus untuk menerima kekurangan kan? Gimana mau skor PISA-nya tinggi, lha wong saya pernah membaca sebuah cerita seorang bapak-bapak yang dicaci sama ibu-ibu karena membaca buku saat naik KRL.

Bukannya kagum dan ingin mencontohkan kebiasaan itu pada diri dan anak-anaknya, si ibu malah marah-marah dan mencaci si bapak tersebut dengan kata-kata "sok pintar" dan "Anak saya yang masih sekolah saja nggak gitu-gitu amat!". Lho, bukannya harusnya anak si ibu itu "gitu-gitu amat" ya? 

Kalau stereotip dan komentar terhadap orang yang familiar dengan buku saja tidak sedap didengar, ya para pecandu buku bisa jadi banyak yang malas membaca di depan umum. Alhasil, budaya membaca tidak bisa divisualisasikan di kehidupan nyata dengan lega.  

Ada lagi sejenis sikap 'klarifikasi' yang aneh dari para anti-pembaca buku. Mereka tidak jarang sedikit nyinyir, "Kamu suka baca buku ya? Kalo aku sih enggak hahaha." Sungguh heran, sudut mananya yang bisa dibanggakan?

Ketidaksabaran dalam membaca teks

Budaya membaca di Indonesia

Sebenarnya kalau hasil PISA para siswa di Indonesia ini rendah, kita juga tidak bisa menyalahkan golongan siswa saja. Nyatanya generasi senior-seniornya pun tidak memberikan teladan yang cukup baik dalam budaya literasi.

Bahkan, beberapa hari lalu ada debat terbuka di kanal Twitter gara-gara ada seseorang mengaku dosen yang menyimpulkan potongan-potongan jurnal untuk memantik penyudutan terhadap komunitas LGBT. Masalahnya, beliau menafsirkan jurnal tersebut dengan keliru dan memposting potongan-potongan tersebut agar terlihat seolah argumennya benar.

Salah satu klimaksnya, ada seorang pengguna Twitter yang sampai 'memanggil' si penulis jurnalnya untuk menanggapi tingkah polah si dosen tersebut. Tentu saja si penulis tidak membenarkan argumen dosen tadi, jelas-jelas isi jurnal dan kesimpulan si dosen tersebut berbeda.

Bukan cuma itu, bagaimana para guru di sekolah membudayakan membaca juga nyatanya masih sangat kurang. Status sebagai siswa saja tidak serta merta dapat menyimpulkan bahwa mereka familiar dengan buku. Kalau buku hanya dikaitkan untuk tujuan akademis (rapor/nilai) saja, wajar jika nilai PISA kita seperti jalannya keong.

Seharusnya, budaya belajar memang ditekankan dalam membaca, bukan menghafal.

Dengan menitikberatkan pada cara belajar melalui membaca, siswa kemudian diberi perintah menjawab dengan cara menyimpulkan dengan bahasa sendiri, bukan menyalin. 

Gara-gara cara belajar yang tidak menekankan dengan membaca, siswa jadi tidak sabar dalam menghadapi teks.

Ketidaksabaran itu kemudian menjadi lebih mengerikan ketika mereka terbiasa menyimpulkan sesuatu secara sepotong-sepotong, seperti contoh dosen tadi. Dan disebabkan oleh ketidaksabaran ini juga, siswa atau siapapun menjadi tidak cermat saat memahami teks. 

Lalu, apakah sikap tidak familiar dengan membaca ini dikarenakan pelajaran yang terlalu banyak? Entahlah, bisa jadi salah satu faktor. 24 jam memang sering dirasa terlalu singkat bagi para siswa untuk bisa sabar dalam membaca tiap mata pelajaran yang dibutuhkan esok harinya.

Membaca memang tidak bisa terburu-buru, sedangkan para siswa jaman now hidupnya sudah seperti disumpali berbagai macam PR, les pendukung, yang bahkan masih sering diperparah dengan full day. Ini baru problem khas murid perkotaan.

Kalau kita minggir ke daerah pelosok, waktu mereka untuk membaca ada. Tapi buku dan sosok-sosok yang membudayakan membaca di sekitar mereka justru jarang.


Bagaimana caranya agar familiar dengan buku/bacaan?

Budaya membaca di Indonesia

Budaya familiar dengan buku atau bacaan memang masih sangat nyambung dengan kesabaran atau ketidaksabaran dalam membaca tadi. Semakin familiar seseorang dengan sesuatu, tentunya ia juga akan semakin sabar menghadapi sesuatu itu bukan? 

Mendekatkan masing-masing personal dengan buku saja tidak cukup. Yang lebih penting lagi, tiap siswa dan orang dewasa perlu familiar dengan keragaman teks.

Melulu diekspos dengan bentuk teks paragraf dengan gaya yang sama tidak akan bagus untuk fleksibilitas kognitif. Karena itulah memperkenalkan siswa dan diri kita sendiri dengan berbagai teks beragam akan membuat kita lebih baik lagi dalam memahami bacaan. 

Memangnya keragaman teks yang harus diperkenalkan itu seperti apa? Selain bentuk bacaan yang berbeda seperti novel, berita, kajian ilmiah, puisi, dan sebagainya, membaca format teks yang beragam juga sangat penting untuk dibiasakan. Contohnya membaca diagram, peta, infografik, dan lain-lain. Bahkan, membiasakan diri membaca melalui media digital juga perlu. 

Faktanya, tes PISA yang juga berupa diagram atau peta menunjukkan bahwa budaya membaca tidak hanya bisa kita batasi pada buku atau teks paragraf saja. Karena itulah selain membiasakan diri membaca berbagai tone, gaya menulis, dan jenis teks berbeda, menyesuaikan diri dengan membaca diagram/infografik/media digital juga perlu.

Tapi, di era digital saat ini, jangan hanya menekankan yang bacaan digital saja.

Mendekatkan diri pada berbagai jenis buku selain untuk keperluan akademis, adalah kunci awal untuk bisa sabar dalam menghadapi keragaman teks. 


Masyarakat kita memang punya riwayat parah dalam budaya literasi. Ya kalau seperti ini tidak perlu kaget kalau hasil PISA negara kita dalam mode 'merayap' seperti ini. Toh, memang butuh banyak usaha untuk membiasakan diri dengan bacaan.