Semua Orang Punya Sisi Joker, Mereka Hanya Tidak Menunjukkannya

Benarkah sisi Joker juga dimiliki oleh semua orang?

Semua Orang Punya Sisi Joker, Mereka Hanya Tidak Menunjukkannya
Photo by Hermes Rivera from Unsplash

Tahu dong, tokoh antagonis dalam film Batman yang lekat dengan seringai seramnya—Joker. Tokoh Joker kembali populer ketika sebuah film yang menceritakan rekam jejak dari badut kriminal ini ramai menjadi perbincangan.

Film dengan genre kriminal, drama, dan thriller ini, mengupas latar belakang dari seorang Joker yang sebelumnya dikenal sebagai penjahat paling rusuh di Kota Gotham. Meski tetap pada karakter jahatnya, film yang ditayangkan di tahun 2019 ini justru berhasil mencuri empati penonton untuk kemudian berbalik memihak pada aksi kejam seorang Joker.

Gangguan mental, masalah keluarga, hingga perundungan sosial. Penggambaran masa lalu Joker yang berhasil ditampakkan se-memilukan itu, tak ayal membuat para penonton kemudian mantap beralih pada sisi Sang Villain.

Mengutip sebuah komentar dari salah seorang netizen di luar sana,

"Jika para bocah mengagumi sosok pahlawan, maka orang dewasa akan mencari alasan logis di balik sebuah kejahatan."

Sisi Joker yang juga Dimiliki oleh Semua Orang

Seorang pria bersama ilustasi Joker di tengah demonstrasi

Joker adalah korban. Setidaknya pada mulanya.

Joker tumbuh besar dengan kecacatan mental yang entah bagaimana mengundang sekelilingnya untuk kemudian membencinya. Bagaimanapun ia berusaha menjadi sosok menyenangkan bagi semua orang, kepribadian Joker yang sedikit berbeda seolah terus mengimingi sekitarnya untuk merundung dan menyakitinya.

Joker adalah korban dari berbagai kekecewaan besar dan trauma kejiwaan terhadap sikap segelintir manusia egois di luar sana. Sisi Joker yang ini sesungguhnya manusiawi dan dimiliki oleh semua orang.

Semua orang tentu pernah mengalami kekecewaan. Semua orang pasti pernah mengalami keretakan di hati ketika hasil yang diperoleh tidak sesuai dengan ekspektasi awal. Sakit hati adalah masalah umum yang pasti pernah menjangkiti manusia.

Namun, bagi manusia kebanyakan, ada cara sendiri yang akan mereka upayakan untuk dapat terbebas dari lingkaran sakit hati. Kebanyakan manusia akan mengusahakan berbagai teori dan praktik untuk kemudian dapat menyikapi perasaan tidak menyenangkan itu secara positif.

Katanya sih, demi mempertahankan kesehatan mental dan emosionalnya. Inilah yang akhirnya menghentikan banyak orang di luar sana untuk tidak menjadi Joker. Ini juga yang dengan jelas membatasi kewarasan manusia normal dengan kegilaan yang diidap oleh Joker.

Meski pada hakikatnya, tetap saja semua orang memiliki bibit penyakit hati yang sama. Tentang bagaimana menyikapi itu, pada akhirnya menjadi kuasa diri masing-masing.

Joker adalah Wujud Keberhasilan dari Pembebasan Emosi

Pembebasan emosi ala Joker

Dalam ilmu psikologi, ada sebuah istilah yang disebut bayangan. Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh seorang psikiater asal Swiss, Carl Jung. Jung beranggapan bahwa bayangan adalah alam bawah sadar manusia yang menyimpan perasaan, emosi, serta keinginan yang berusaha ditekan untuk tidak ditampakkan secara sadar.

Bayangan ini adalah sosok dirimu yang ingin memaki balik dan menampar bos yang dengan entengnya merobek hasil kerjamu hanya karena kurang memuaskan. Bayangan ini pula yang menyimpan keinginan untukmu melabrak seorang mantan dan menghajar kekasih baru yang sedang merangkulnya dengan mesra.

Bayangan adalah sosok gelap di alam bawah sadar yang dimiliki semua orang. Kebanyakan dari mereka hanya memilih untuk menyembunyikannya karena terikat pada aturan hukum dan masyarakat, yang katanya dibuat untuk menciptakan keseimbangan.

Joker adalah contoh lain dimana sosok bayangan dilepaskan sebagai bagian dari alam sadar. Joker adalah potret seorang manusia yang berhasil membebaskan segala bentuk perasaan dan emosi liar yang oleh sebagian besar manusia memilih untuk menyembunyikannya di balik sosok bayangan.

Bagi banyak manusia, keberhasilan Joker melepaskan bayangan dan menciptakan kekacauan di masyarakat adalah bukan tanpa arti. Joker hanya ingin membalaskan dendam dan rasa sakit yang selama ini hanya bisa ia terima tanpa perlawanan.

Meski hanya tokoh fiksi, namun sosok Joker berhasil mewakili perasaan jutaan manusia di luar sana yang tak memiliki keberanian untuk bertindak serupa. Oleh sebab inilah yang menarik empati kebanyakan orang untuk kemudian berbalik mendukung Joker yang masih seorang penjahat.

"Semua orang punya sisi Joker, mereka hanya memilih untuk tidak menunjukkannya."

Gangguan Mental dan Tindak Kriminal

Borgol sebagai simbol peradilan

Dikutip dari National Alliance on Mental Illness, gangguan mental adalah sebuah kondisi yang memengaruhi pemikiran, perasaan, bahkan mood dari seseorang. Jika berkaca pada latar belakang Joker, tak heran kalau mulai bermunculan spekulasi apakah gangguan mental memiliki keterkaitan dengan tindakan kriminal seseorang?

Pasalnya, sebagaimana konsep bayangan di atas, seseorang yang bermental sehat cenderung memilih untuk mengubur dan menyembunyikan sisi gelapnya. Berbeda dengan Joker yang sejak semula digambarkan sebagai pemilik kelainan mental.

Apalagi jika melihat banyak sebab gangguan mental di luar sana yang semula disebabkan oleh trauma atas tindakan kriminal tertentu, konsep melakukan tindakan kriminal sebagai bentuk balas dendam juga terdengar masuk akal.

Berkebalikan dengan berbagai praduga yang terkesan logis tersebut, sebuah publikasi ilmiah di tahun 2017 memaparkan bahwasanya gangguan mental memiliki hubungan yang sangat rendah terhadap tindak kriminal.

Sayangnya, sudah menjadi stigma di masyarakat bahwa para pelaku sadis dalam tindak kriminal adalah mereka yang memiliki gangguan kejiwaan. Meskipun pada kenyataannya, tidak ada hubungan spesifik antara gangguan mental dan tindak kekerasan sebagaimana publikasi yang juga diajukan oleh sekelompok psikiater dari India.

Disadari atau tidak, stigma semacam ini yang menjadikan para penderita gangguan mental di luar sana menjadi ragu untuk mencari pertolongan. Banyak penderita yang khawatir atas pandangan jelek masyarakat jika nanti mereka diketahui mengidap gangguan seperti itu.

Padahal, menyembunyikan sebuah penyakit hanya akan memperparahnya. Oleh karenanya, tidak jarang jika jalan pintas bernama bunuh diri menjadi solusi terakhir bagi mereka yang kadung lelah dengan gangguan semacam ini.

Tidak Pernah Terlambat untuk Mencari Pertolongan

Potret semangat di suatu sudut kota

Gangguan mental adalah perkara serius. Mungkin tidak akan mengubah seseorang menjadi Joker dan membuat kekacauan secara sadis bagi sekitarnya. Namun, cobalah untuk mempertimbangkan dampak gangguan ini pada psikologi si penderita.

"Bagian terburuk dari memiliki gangguan mental adalah ketika orang-orang menginginkan kamu bersikap seolah kamu tidak memilikinya."

- Joker, 2019

Jangan meremehkan gangguan mental atau kejiwaan! Meminta pertolongan dari orang-orang terdekat dan para praktisi medis bukanlah sebuah aib.

Bukan demi dan untuk tidak berakhir seperti Joker. Namun karena menjalani kehidupan yang tenang adalah hak setiap manusia.

Karena kamu juga berharga, jadi cintailah dirimu!