Sering Kram Saat Menulis? Mungkin Itu Gejala Penyakit Ini

Jangan remehkan kram saat menulis. Kamu mungkin sedang diserang penyakit yang satu ini.

Sering Kram Saat Menulis? Mungkin Itu Gejala Penyakit Ini
Image taken from Freepik

Kalau menulis sudah menjadi bagian dari pekerjaan kamu, kram adalah sindrom yang tidak terelakkan. Orang-orang biasa menyebutnya sebagai sindrom 3K, yaitu akronim untuk kram, kebas, dan kesemutan.

Mau bagaimana lagi? Namanya juga pekerjaan. Tentu memerlukan aktivitas tersebut dilakukan secara runtut dan terus-menerus, kurang lebih sekitar delapan jam per hari. Nah, ini nih yang bikin penyakit bernama kram bisa rajin mengunjungi.

Dikutip dari Wikipedia, kram adalah sebuah kondisi pengerutan otot yang terjadi secara tiba-tiba dan terkadang juga bisa menimbulkan rasa nyeri. Salah satu penyebabnya yang paling utama adalah kelelahan pada otot akibat digunakan secara berulang-ulang dan berlebihan.

Kram di tangan sendiri biasanya terjadi akibat kegiatan yang dilakukan oleh tangan yang bersifat repetitif dan intens. Misalnya ketika sedang menulis, melukis, menjahit, atau bahkan ketika sedang bermain musik.

Garis bawahi aktivitas menulis. Sebagaimana namanya, kram menulis adalah gejala kram yang khususnya terjadi ketika kegiatan menulis berlangsung. Berdasarkan The Dystonia Society, gejala kram menulis yang dapat muncul, di antaranya meliputi:

  • Memegang pensil atau pulpen terlalu kuat,
  • Jari-jari tangan yang sulit menggenggam, hingga
  • Postur lengan dan siku yang tidak biasa.

Nah, kalau kamu termasuk salah satu pegiat kegiatan menulis, kram saat menulis perlu diwaspadai juga, loh.

Mengenal Distonia

Ilustrasi proses belajar dan mengenal sesuatu

Kram saat menulis sendiri dibagi menjadi dua kondisi, yaitu; kram menulis biasa dan kram menulis yang mengarah pada distonia. Adapun distonia sendiri merujuk pada istilah medis yang menyebabkan otot bergerak sendiri tanpa sadar.

Distonia yang muncul dengan gejala kram saat menulis adalah distonia terfokus yang hanya melibatkan gejala kram pada satu bagian tubuh—yang pada kondisi kram menulis ini adalah terfokus pada bagian jari hingga lengan atas.

Jika gejala kram hanya dirasakan ketika sedang melakukan kegiatan tertentu seperti menulis, maka kram tersebut hanyalah kram biasa yang cenderung akan segera hilang dalam beberapa saat terutama jika aktivitas menulis kamu diistirahatkan.

Nah, kalau kram menulis kamu sudah mengarah pada kondisi medis yang disebut distonia, gejala kram tidak hanya muncul ketika sedang menulis, namun juga ketika kamu melakukan aktivitas lainnya yang bahkan tidak melibatkan tulis-menulis.

Bisa terbayang dong, betapa merepotkannya kram menulis distonia ini, karena tidak hanya mengganggu kegiatan tulis-menulis namun juga dapat mengganggu aktivitas sehari-hari lainnya, misalnya saja jika ia kumat ketika sedang makan atau sedang melakukan aktivitas lainnya yang membutuhkan kehati-hatian.

Pencetus Distonia

Posisi menulis yang salah bisa menjadi penyebab kram saat menulis

Kram menulis yang biasa dapat diakibatkan oleh kegiatan tulis-menulis yang cukup berlebihan atau bahkan karena postur tubuh yang tidak benar saat menulis, seperti ketika memegang alat tulis dengan posisi yang tidak ergonomis.

Berbeda lagi dengan kram menulis level distonia. Menurut Halodoc, pencetus atau penyebab distonia belum dapat ditentukan secara pasti. Namun, beberapa kondisi medis seperti strok dan penyakit genetik semacam Parkinson diduga dapat menjadi faktor pemicu ketidak sinkronan komunikasi antar sel saraf di bagian otak tertentu.

Meskipun stres tidak dilaporkan sebagai faktor pencetus kram saat menulis, namun stres juga dapat memperparah kondisi ini, loh. Misalnya saja perasaan stres ketika menghadapi ujian yang juga dilaporkan dapat semakin memperburuk gejala kram saat menulis.

Jika kamu terbiasa mengalami kram saat menulis, waspadalah untuk menjaga kondisi mental kamu tetap tenang, terutama di situasi-situasi menegangkan. Sebagaimana yang disebutkan di atas, bukannya membantu, stres justru akan memperparah kram menulis.

Penanganan Distonia

Berkonsultasilah pada dokter saraf jika merasa kram menulis kamu mengarah pada kondisi distonia

Umumnya, kram saat menulis akan membaik dengan sendirinya, sehingga tidak membutuhkan penanganan medis tertentu. Paling tidak, kamu hanya perlu mengistirahatkan tangan selama beberapa menit atau memijat otot yang kram dengan bantuan air hangat.

Namun, jika cara-cara di atas belum dapat meredakan kram menulis kamu, bisa jadi kram kamu memang sedang mengarah pada kondisi medis lain yaitu distonia.

Diagnosis distonia sendiri baru dapat ditentukan oleh dokter saraf melalui beberapa pemeriksaan medis, yang di antaranya meliputi:

  • Tes darah dan tes urine untuk menganalisis fungsi organ dalam tubuh secara menyeluruh,
  • Tes MRI (Magnetic Resonance Imaging) untuk memeriksa adanya kelainan di otak,
  • Tes EMG (Electromyography) untuk mengecek aktivitas listrik di bagian otot, serta
  • Tes genetik untuk mengetahui keberadaan penyakit genetik di tubuh pasien yang berkaitan dengan distonia.

Meskipun hingga saat ini belum ditemukan pengobatan yang dapat menyembuhkan distonia, namun jangan khawatir, karena frekuensi kemunculan dan keparahan kram menulis jenis distonia ini masih dapat ditangani.

Beberapa jenis perawatan yang umumnya disarankan untuk penderita kram menulis distonia di antaranya:

  1. Terapi fisik untuk melatih posisi kerja yang ergonomis dan tentunya nyaman buat kamu,
  2. Suntikan botoks untuk melemaskan otot-otot yang sedang berkontraksi secara acak,
  3. Bantuan obat-obatan yang dapat memengaruhi aliran sinyal di otak,
  4. Fisioterapi untuk memberikan pembelajaran ulang bagi otot-otot yang terlibat, serta
  5. Operasi pemutusan saraf yang bertanggung jawab atas distonia.

Untuk distonia yang gejala utamanya adalah kram menulis, umumnya penangan medis dalam bentuk operasi tidak diperlukan. Praktisi medis cenderung hanya akan menyarankan terapi pertama hingga keempat buat kamu penderita distonia gejala kram menulis.

Meskipun demikian, tidak dapat dimungkiri bahwa kram menulis biasa pun akan cukup mengganggu. Apalagi ketika sebuah jurnal dari tahun 2009 menyebutkan bahwa separuh dari total penderita kram menulis biasa dapat berkembang menjadi kram menulis jenis distonia.

Nah, kalau sudah mengalami kram di tangan, pastinya tidak mau menyebar ke anggota badan yang lain, dong. Tak usah dibayangkan deh, bagaimana repotnya. Yang pasti tidak akan menyenangkan


Tapi tenang. Kram menulis bukan momok kok, sehingga ini tidak bisa menjadi alasan kamu untuk berhenti atau tidak menulis sama sekali. Di artikel sebelumnya pun sudah dibahas kalau menulis itu bukan sekadar hobi, dengan menjabarkan berbagai manfaat psikis dan bahkan fisik darinya.

Tapi bukan berarti kamu dapat mengabaikan faktor ergonomisnya ya. Jangan sampai aktivitas yang kamu senangi justru membawa ketidak nyamanan buat kamu.