Sering Mandi atau Jarang? Begini Kata Sains

Kata para saintis dan ahli kulit, terlalu sering mandi itu gak bagus. Masa iya sih?

Sering Mandi atau Jarang? Begini Kata Sains
Photo by Lubomirkin from Unsplash

Rata-rata dalam sehari, seseorang akan mandi hingga dua kali, di antaranya pagi dan sore. Frekuensi ini bisa bertambah terutama kalau cuaca dan suhu di sekeliling sedang panas-panasnya, persis kayak temperatur Indonesia di musim kemarau.

Gerah, lengket, atau keringat, tidak jarang menjadi sebab dan musabab seseorang memutuskan untuk bergelut dengan guyuran air dan sabun. Apalagi kalau hawa di sekitar sudah hangat-hangat nyerempet panas. Alamak, mandi adalah sebuah nikmat yang tak terkira.

Lain lagi kalau di jam-jam pagi sebelum matahari menampakkan wujudnya di ufuk timur. Jangankan merasakan kenikmatan mandi, seluncuran air di setiap senti kulit tidak jarang menjadi godaan untuk kembali berselimut.

Sering mandi atau jarang mandi mungkin hanya sekadar preferensi dari masing-masing orang. Tapi tahukah kamu, kalau sains punya pendapat berbeda soal ini? Lebih baik mana ya, sering mandi atau jarang mandi?

Hmmm.

Kalau Mandi Terlalu Sering

Ilustrasi bocah mandi di kali

Normalnya, kulit yang sehat akan memiliki jumlah bakteri baik dan bakteri jahat yang seimbang. Bakteri-bakteri baik ini sebenarnya adalah bakteri normal yang tidak menimbulkan dampak buruk apapun pada kulit dan tubuh secara keseluruhan.

Keberadaan bakteri baik yang seimbang dengan bakteri jahat tentu akan menguntungkan. Bakteri baik dan jahat dapat saling berkompetisi mendapatkan nutrisi. Bahkan, bakteri baik bisa saja mengeluarkan senyawa kimia tertentu untuk mengusir bakteri jahat dan menstimulasi sistem imun kulit.

Di samping bakteri, kadar minyak yang cukup juga akan tetap tinggal di kulit sehat untuk menjaga kulit tetap lembab dan tidak kering. Kalau peduli soal estetika dan kecantikan kulit, masalah kulit kering akan cukup mengganggu, kan.

Mandi terlalu sering akan menyingkirkan kadar minyak dan bakteri baik yang sebenarnya dibutuhkan oleh kulit. Dikutip dari blog milik Kedokteran Harvard, menyingkirkan kedua faktor baik tersebut akan berdampak buruk pada kulit, di antaranya:

  1. Membuat kulit kering serta bisa berkembang menjadi iritasi, gatal-gatal, dan kulit kemerahan.
  2. Dengan berkurangnya jumlah bakteri baik dikarenakan penggunaan sabun-sabun antibakteri, kulit dapat didominasi oleh bakteri jahat yang justru kebal terhadap antibiotik dan memunculkan permasalahan lain di kulit.
  3. Sistem imun membutuhkan paparan masalah pada dosis tertentu untuk melatihnya tetap up to date terhadap dinamika lingkungan. Oleh karenanya, menjaga kulit terlalu bersih dan jauh dari bakteri, debu, kotoran, dan hal-hal buruk lainnya, juga tidak bagus bagi keberlanjutan pembelajaran sistem imun tubuh.

Demi estetika dan kebersihan, sering mandi memang diperlukan. Apalagi kalau suhu udara sekitar sedang gencar-gencarnya memancing keringat.

Namun, mandi terlalu sering juga tidak berdampak baik dari sisi pertumbuhan mikroorganisme di kulit loh, sebagaimana yang disebutkan pada poin kedua di atas.

Dari segi ekonomi sendiri, mandi adalah kegiatan yang paling banyak menggunakan air. Dinas PUPR saja menyebutkan, kalau pemakaian terbesar air adalah untuk keperluan mandi, yakni sebesar 60 L per hari untuk setiap satu orang.

Kalau kekeringan sudah jadi masalah serius di lingkungan kamu, penting juga dong, untuk mempertimbangkan poin yang satu ini.

Kalau Jarang Mandi

Tidak mandi, bocah ini hanya menikmati main air

Sebagaimana telah dipaparkan sebelumnya, mandi terlalu sering ternyata tidak terlalu baik untuk kesehatan. Terus bagaimana dong, dengan yang jarang mandi?

Kalau menggunakan logika inversi dari pernyataan sebelumnya, seharusnya dengan jarang mandi, seseorang akan menjadi lebih sehat, kan?

Sayangnya tidak demikian, Saudara-Saudara. Logika di dunia sains tidak sesederhana itu.

Mandi sendiri sebenarnya lebih sebagai aktivitas harian yang telah menjadi budaya di dalam suatu kelompok masyarakat. Mau mandi atau tidak telah menjadi sebuah kesepakatan tak tertulis soal komitmen untuk menjaga kebersihan diri masing-masing.

Umumnya, keringat dijadikan kambing hitam untuk indikator harus mandi atau tidak, karena keringat sendiri sering diidentikkan dengan bau badan yang secara umum tidak disenangi oleh banyak orang.

Namun faktanya, keringat yang disekresikan di kulit tidak mengeluarkan bau apapun selama tidak berinteraksi dengan bakteri-bakteri tertentu, loh. Garis bawahi kalimat tidak berinteraksi dengan bakteri tertentu.

Bakteri-bakteri tertentu membutuhkan keringat sebagai media perkembang biakannya. Bakteri ini lah yang mengubah keringat menjadi asam sebagai hasil pemecahan protein di kulit kamu, yang kemudian dikenal dengan istilah bau badan.

Tidak berbeda dengan masalah bau badan, jarang mandi juga akan menjadikan sel-sel kulit mati dan kotoran lainnya bertumpuk di kulit. Bukannya menyeimbangkan jumlah bakteri baik dan jahat, ini justru bisa mengundang perkembang biakan bakteri yang justru tidak dibutuhkan oleh tubuh.

Makanya tidak jarang kalau ketidak bersihan kulit juga menjadi sumber dari beragam penyakit, mulai dari jerawat, panu, kurap, bisul, hingga herpes.

Sebaiknya Mandi Berapa Kali Sehari, sih?

Sering mandi atau jarang, yang penting bahagia

“Sering mandi berisiko. Jarang mandi juga berisiko. Sains bikin pusing saja, nih.”

Mungkin ada di antara kamu yang akan berpendapat demikian.

Tidak apa. Sains hanya sedang mencarikan jalan tengah terbaik, kok. Karena yang berlebihan itu selalu tidak baik, kan?

Kalau mengambil jalan tengah, yang terbaik itu tentu adalah mandi secukupnya. Nah, karena kata cukup di sini adalah kualitas yang tidak pasti jumlahnya, maka kadar cukup itu sendiri akan sangat bergantung dari pemilik badan masing-masing.

Nada Elbuluk, seorang asisten klinik dari seorang profesor dermatologi di University of Southern California, menyebutkan bahwa sebaiknya seseorang mandi minimal satu kali sehari. Meskipun demikian, ini akan bergantung lagi pada aktivitas fisik dan jenis kulit masing-masing.

Penemu dari Cockerell Dermatopathology bahkan pernah menyebutkan kalau untuk pemilik kulit kering bisa mencoba untuk mandi beberapa kali dalam seminggu agar dapat mengurangi tingkat kekeringan dan inflamasi di kulit. Sebaliknya, pemilik kulit berminyak justru disarankan untuk mandi setiap satu kali sehari untuk menghindari penumpukan kadar minyak yang berlebihan.

Kalau keadaan memang mengharuskan untuk mandi lebih dari sekali sehari, batasi waktu mandi kamu di setiap sesi hingga 10 menit. Jangan lupa untuk menggunakan pelembab kulit setiap selesai mandi untuk menghindari kulit kering.

Selain membatasi jumlah mandi dalam sehari hanya sebanyak satu kali (jika memungkinkan), memilih produk mandi yang tepat juga tidak kalah penting. Hindari produk sabun mandi dengan iming-iming antibakteri, karena justru bisa berdampak pada perkembangan bakteri jahat di kulit.


Tidak ada jumlah pasti untuk berapa kali mandi yang diperlukan setiap orang, karena tetap akan bergantung pada kebutuhan kulit masing-masing. Kalau kamu ingin memiliki kulit sehat dengan tidak mengurangi waktu mandi kamu, konsultasi dengan dokter kulit adalah pilihan yang tepat.