Siapa Bilang Indonesia Santuy, Kesedihan Saja Dipersaingkan kok

Persaingan di Indonesia ketat cuy!

Siapa Bilang Indonesia Santuy, Kesedihan Saja Dipersaingkan kok
Photo by Sergio Souza from Pexels

Sudah tau berita viral tentang anak SD asal Berau yang dibentak-bentak ibunya gara-gara ranking tiga? Entah inspirasi dari mana yang didapatkan si ibu hingga punya ide 'konten' merekam kejadian bentak-bentak mirip ospek ini.

Ketika melihat video si adik yang malang ini, mungkin kamu semua juga bakal heran sama pertanyaan yang dilayangkan si ibu. Ia bertanya, "Kenapa kau bisa ranking tiga?!". "Ibu guru yang kasih," jawab si adik tersebut.

Seharusnya sih, si ibu ini bersyukur kalau anaknya tergolong pandai dan bisa ranking tiga. Si ibu saja bahkan tidak bisa memahami mana pertanyaan yang bisa dilontarkan untuk anak SD dan mana yang tidak. 

Sayangnya, setelah melewati pengadilan tinggi netizen sejenak saja, pihak sekolah langsung mengadakan konferensi pers. Dan dengan alasan klise si ibu meminta maaf pada kepala sekolah, ibu guru yang bersangkutan, dan pihak yang keberatan.

Lah, salah ke siapa minta maafnya ke siapa?

Itu cuma satu contoh kasus di mana persaingan di Indonesia jauh dari kesan santuy. Pastinya bukan cuma si adik itu saja yang pernah mengalami hal serupa. Faktanya, mungkin sebagian dari kamu juga pernah mengalami hal serupa. Diadu dengan anak seumuran lainnya oleh orang tua sendiri. 

Soal persaingan, Indonesia tidak kalah horor dari Korea Selatan kok. Kalau kalian pernah tahu tentang drama satir Korea berjudul SKY Castle, kalian juga akan ikut merefleksikan bahwa persaingan money-honor-beauty sudah dipaksa berkelindan sejak kita masih tidak punya dosa.

Bahkan, sekarang persaingan bukan cuma soal money-honor-beauty saja, bahkan soal kesedihan pun dijadikan persaingan. Nggak percaya?

Persaingan di Indonesia

Hidup ala pacuan kuda sejak anak-anak sampai remaja

Siapa bilang masalah paling besar waktu kita masih kecil adalah ulangan matematika? Tunggu dulu, tidak semuanya sesederhana itu bos. Anak-anak yang memiliki potensi akademik di sekolah bisa jadi tidak akan pernah cukup bagi orang tuanya. Beban untuk mempertahankan atau meningkatkan ranking bisa selalu membayangi.

Dan bagi yang tidak terlalu menonjol dalam akademik, dipersaingkan dengan saudara atau kerabat sepantaran bisa menjadi makanan rutin yang disodorkan pada mereka. Tentu saja ini tidak semua, tergantung bagaimana mindset dan pola asuh orang tua masing-masing.

Sayangnya, persaingan anak sekolahan juga bukan hanya dengan teman satu kelas atau kerabat. Ketika saatnya mereka memilih sekolah ke jenjang yang baru, persaingan mereka bahkan dengan peluang dan takdir. 

Persaingan di Indonesia

Bagaimana dengan masa dewasa awal dan bapak-bapak atau ibu-ibu?

"Udah punya calon belum, si ini udah nikah lhoooo"
"Kerja di mana sekarang? Si anu kerja di perusahaan multibenua lhoo"

Secara kasat, pertanyaan di atas memang lebih terdengar seperti basa-basi basi. Tapi tetap saja, kesan membanding-bandingkan nongkrong di dalamnya. Nyatanya, banyak orang yang terdorong dan merasa "aku harus seperti" agar lolos dari persaingan sosial. 

Ya bagaimana milenial dan generasi Z jaman sekarang tidak gampang depresi, para baby boomers tidak paham-paham kalau generasi di bawahnya ini dihadapkan sama persaingan yang lebih kompleks. Ketika lulus SMA, mau masuk perguruan tinggi saingannya minta ampun.

Setelah lulus, masih harus saingan dengan jutaan SDM lain untuk memperebutkan kuota tenaga kerja. Sudah bekerja, masih harus pusing mikirin beli rumah yang sekarang lebih tampak utopis daripada nyata. Belum lagi kalau waktu kumpul keluarga, dibanding-bandingkan dengan sepupu jauh yang katanya udah nikah, punya anak, dan sebagainya. 

Hal yang seringkali luput dari para baby boomers yang suka bikin pacuan ini adalah, mereka sering terjebak di zamannya. Padahal, yang saat ini mereka tinggalkan adalah ledakan populasi, perubahan iklim, budaya korup, dan berbagai hal yang menghalangi manusia untuk bisa hidup maksimal.

Itu kalau belum menikah, kalau sudah menikah dan punya anak, ada lagi persaingan yang melibatkan mom-shaming. Apa itu mom-shaming?

Mom-shaming ini bisa dilihat sebagai sikap ketika seorang ibu menunjukkan bahwa ia lebih baik dari ibu yang lain. Hal ini bisa disampaikan lewat kritik, dan tidak jarang, lagi-lagi melibatkan yang namanya persaingan. Misalnya, "Kok, anakmu dikasih makan itu sih!". Bisa juga seperti, "Anak cuma satu aja rumah berantakan, aku dong anak udah dua tetep rapi."

Adanya rasa kompetitif untuk terlihat lebih baik dan diakui, adalah salah satu penyebab dari mom-shaming. Hal ini bisa juga diakibatkan oleh rasa rendah diri, di mana seseorang justru membuat ibu lain merasa down agar ia tampak lebih baik. 

Tidak berhenti di mom-shaming, persaingan antar ibu juga biasa terjadi dengan cara menanyakan anak orang lain sudah bisa apa. Padahal, persaingan seperti ini tidak jarang membuat mama-mama memaksa anaknya agar bisa menguasai berbagai hal hanya agar si ibu tampak baik.

Sayangnya, sikap narsistik seperti ini justru beresiko untuk kerap membayangi kesehatan mental si anak sendiri. Persaingan memang tidak selalu sehat kan?

Persaingan di Indonesia

Berebut predikat paling sedih

"Pengalamanku lebih tragis dari punyamu"

Lain pergaulan lain lagi bentuk persaingannya. Di lingkar pertemanan, kamu mungkin pernah merasakan bagaimana sebagai pihak yang curhat tetapi malah diabaikan.

Iya, jadi misalkan seperti ini, kamu baru saja tahu kalau gebetanmu ternyata punya gebetan lain. Kemudian kamu pergi ke temanmu untuk curhat. Alih-alih didengar dan perasaanmu divalidasi, temanmu justru berkata, "Aku dulu malah lebih parah." Kata-kata lain yang senada bisa juga seperti ini, "kalo dibandingin yang aku alami dulu" atau "aku malah sampe...".

Waduh, begini ya, kalau memang tidak ada niat menjadi sobat untuk berbagi kasih sayang dan mau mendengar curhat, mending jujur aja deh. Kalimat-kalimat seperti ini justru membuat orang lain merasa diabaikan. Bukannya mendengar dengan sepenuh hati, eh malah ganti topik ke pengalaman sendiri.

Seakan-akan, orang yang mengatakan kalimat-kalimat toksik ini ingin memperlihatkan bahwa pengalamannya lebih menyedihkan, ia lebih sedih, ia punya pengalaman lebih tragis. Tuh, kan, kesedihan saja dipersaingkan kok. Apa gunanya sih persaingan macam ini?

Semua pengalaman pahit dan rasa sedih itu valid. Menganggap kesedihan bisa dibuat persaingan adalah sikap tidak menghargai orang lain.


Hidup di Indonesia nggak se-santuy yang dibilang kok. Mulai dari hal yang sifatnya kasual sampai formal, semuanya bisa dipersaingkan. Persaingan yang bikin puyeng juga nyatanya dimulai sejak dini. Nah, sekarang tinggal kita yang mau mempertahankan budaya persaingan yang toksik ini atau meninggalkannya ke arah lebih baik.