Stop Jadi Orang yang Toxic dengan Menghentikan 5 Kebiasaan Ini

Kadang tanpa kita sadari, kita juga bisa menjadi orang yang beracun bagi orang terdekat. Dan untuk berhenti bersikap demikian, kita perlu banyak belajar, merefleksi diri, serta terus menerus mengingatkan diri sendiri.

Stop Jadi Orang yang Toxic dengan Menghentikan 5 Kebiasaan Ini
Photo by Tim Marshall from Unsplash

Beberapa istilah populer seperti body shaming, teman toxic, dan lain-lain, baru benar-benar populer pada sekitar 2 hingga 3 tahun terakhir. Hal ini karena sebelumnya, kita tidak benar-benar menyadari bahwa hal-hal tersebut adalah sesuatu yang buruk.

Sejak dulu, sekian lama, kita semua melakukan keburukan-keburukan ini hingga menjadi sesuatu yang dimaklumi secara serentak. Baru ketika berbagai pembahasan tentang psikologi kekinian mulai disuarakan lewat lini masa populer, istilah-istilah tersebut menjadi bagian dari kampanye kesehatan mental yang membangun.

Tidak apa-apa jika kamu telat menyadari bahwa kamu juga menjadi bagian dari pelaku berbagai pengaruh buruk ini. Yang penting, sekarang stop jadi orang yang toxic dengan menghentikan 5 kebiasaan ini.

1. Body shaming

Fat People - Body shaming

Dulu, body shaming memang menjadi bagian dari lawakan dan semua orang memaksa menerimanya karena ini dianggap hal yang lumrah. Tetapi, saat ini tren lawak telah bertransformasi menjadi lebih satir. Orang menyukai lawakan yang sekaligus mengajak kita berpikir, ya seperti yang biasanya kamu lihat di timeline Twitter kamu.

Kembali lagi ke body shaming. Body shaming ini berakibat fatal pada korbannya karena akan mengakibatkan rasa penerimaan diri yang sangat rendah dan dapat berujung depresi, terutama ketika seseorang gagal memenuhi ekspektasi kecantikan masyarakat. Kita tidak sadar bisa saja menjadi penghancur hidup orang lain lewat body shaming.

Body shaming jelas hal yang sangat buruk karena menafikkan ke-Maha Kuasa-an Tuhan yang sengaja membuat makhluknya dalam berbagai rupa. Yang tidak kalah buruk adalah imbas terhadap kondisi psikologi korban seperti contoh yang disebutkan di atas. 

Oleh karena itu, penggerak kampanye anti body shaming menyuarakan ide untuk lebih menerima diri sendiri dalam berbagai bentuknya. Sebenarnya kamu boleh saja menginginkan tubuh yang lebih berisi atau lebih kurus, tetapi itu bukan demi memenuhi standar kecantikan masyarakat, melainkan demi kesehatanmu sendiri.

Standar kecantikan masyarakat itu adalah sesuatu yang fana karena tidak mungkin kita semua serupa. Lagipula, di berbagai sudut dunia, kamu akan menemukan bahwa definisi kecantikan di satu tempat dan lainnya ada berbagai macam rupa. 

2. Toxic positivity

Toxic Positivity

Ini adalah sesuatu yang kita semua pasti pernah tidak sadar melakukannya. Toxic positivity memang bukan ide yang benar-benar bagus saat kamu menjadi pendengar curhat orang lain. Toxic positivity adalah semacam bentuk pengelakan akan perasaan negatif dengan cara buru-buru mendorong seseorang untuk berpikir positif.

Coba kamu yang ada di posisi orang yang sedang bermasalah, kira-kira apakah mungkin, mood yang buruk tiba-tiba harus berubah menjadi sangat positif?

Alternatif yang perlu disajikan saat mengahadapi temanmu yang dirundung masalah adalah, mendengarkan semua ceritanya dan berusaha memahami atau berempati padanya. Daripada berkata "sabar ya bro" lebih baik kamu bilang "iya wajar kalau kamu merasa demikian, tidak apa-apa ungkapkan saja".

3. Memiliki pola pikir maskulinitas rapuh atau internalized misoginy

Memiliki pola pikir maskulinitas rapuh atau internalized misoginy

Kamu pasti sering mendengar kata-kata "jadi laki-laki jangan cengeng" atau "aku tuh, nggak kayak cewek lainnya". Nah, kata-kata yang pertama adalah contoh maskulinitas rapuh, sedangkan yang kedua adalah internalized misoginy.

Kedua-duanya sebenarnya adalah bentuk rasa inferior dari gender masing-masing.

Untuk maskulinitas rapuh, hal-hal semacam ini memang turun-temurun diajarkan para senior moyang kita pada anak laki-lakinya. Padahal, jika merujuk pada contoh tadi, menangis dan gender sama sekali tidak ada hubungannya.

Menangis adalah pertahanan paling primitif manusia, yang artinya semua orang pasti menangis saat masih kecil sebagai bentuk mempertahankan diri. Dan menangis itu sendiri adalah bentuk respon perasaan yang semua manusia bisa melakukannya. Sekat-sekat gender yang tidak masuk akal seperti ini sudah waktunya kita hentikan pada anak-anak kita. 

Kedua, untuk internalized misoginy, sebenarnya ini adalah hal yang biasanya dialami perempuan yang mengaku tidak cengeng seperti perempuan lain, lebih suka berteman dengan laki-laki, anti drama, dan sebagainya. Tindakan seperti ini sebenarnya seperti sikap munafik dimana sebagai perempuan, seseorang merasa inferior karena gendernya dianggap rapuh dibanding laki-laki.

Sehingga ia membentuk batasan antara dirinya dan perempuan lain. Hal ini sama sekali bukan hal yang baik, karena sesama perempuan seharusnya saling mendukung, bukan malah menghina perempuan lain dan menganggapnya lemah atau kurang baik.

4. Berkomentar tanpa mengetahui seluk-beluk yang pasti

Berkomentar tanpa mengetahui seluk-beluk yang pasti

Kita semua pasti sudah tahu ya, entah itu netizen atau masyarakat dunia nyata, semuanya sama-sama suka terburu-buru berkomentar tanpa mengetahui banyak hal tentang suatu kejadian.

Kita juga perlu lho berkaca, jangan-jangan kita juga sering melakukannya? Atau tidak sadar asal ceplos saat ada sesuatu yang kurang sreg, padahal kita cuma tahu di permukaannya saja.

Komentar-komentar jahat pastinya bisa membuat orang lain merasa sedih, rendah diri, tertekan, bahkan depresi. Yuk, kita mulai menjaga kesehatan mental satu sama lain dengan mulai menjaga lisan dan jempol agar tidak asal komentar. 

5. Bertanya tentang sesuatu yg bukan urusan kamu

Bertanya tentang sesuatu yg bukan urusan kamu

Di momen-momen tertentu seperti lebaran, kumpul keluarga, atau reuni, kamu pasti setidaknya pernah sekali dua kali mendapat pertanyaan nyinyir seputar kapan wisuda, kapan nikah, kapan punya anak, dan kapan-kapan lainnya.

Ganggu suasana banget kan, pertanyaan semacam ini?Inilah jenis pertanyaan basa-basi yang basi. Karena itulah, jangan sampai kamu bertanya tentang sesuatu yang sifatnya pribadi dan bukan urusan kamu pada orang lain. Daripada bertanya tentang hal-hal seperti itu, tanyakan hal-hal yang lebih netral, misalnya "sehat sob?" atau "cuaca gini enaknya main ke gunung ya, asoy".

Atau kamu boleh saja bertanya yang agak intim tapi tetap menjaga perasaan, seperti "hidup lancar bro?". Pertanyaan seperti ini sangat santai akan membawa ke percakapan yang lebih akrab, lalu kamu dan lawan bicara bisa saling berbagi pikiran, pengalaman, dan solusi.

Ingat ya, intinya untuk tulus bertanya soal kabar, bisa juga tukar pikiran dan memberi solusi jika memang perlu dibantu. Begitulah kira-kira beberapa kebiasaan yang bikin eneg tapi disepakati masyarakat.

Kadang tanpa kita sadari, kita juga bisa menjadi orang yang beracun bagi orang terdekat. Dan untuk berhenti bersikap demikian, kita perlu banyak belajar, merefleksi diri, serta terus menerus mengingatkan diri sendiri.

Yuk, mengganti segala kebiasaan buruk dalam berkomunikasi dengan sesama. Kita sudah berhasil bermigrasi ke dunia digital, maka sekarang saatnya kita juga bermigrasi ke mindset yang lebih baik. Pelan tapi pasti, kita perlu menuju gaya bersosial yang lebih berperadaban tinggi. Bukankah begitu? :)