Stop Lakukan Sederet Hal Ini Agar Mental Anak Tidak Terganggu

Banyak penyakit mental yang terbawa hingga dewasa disebabkan oleh sikap buruk orang tua pada anak. Apa sajakah itu?

Stop Lakukan Sederet Hal Ini Agar Mental Anak  Tidak Terganggu
Photo by Priscilla Du Preez from Unsplash

Sebelum menikah, banyak orang tua yang sebelumnya tidak banyak membekali diri dengan ilmu parenting atau psikologi keluarga. Akibatnya, banyak hubungan antara orang tua dan anak berlanjut tidak harmonis hingga anak berusia dewasa.

Faktor lain penyebab ketidak-harmonisan hubungan jenis ini adalah, orang tua memandang anak dari sudut pandang kepemilikan. Akibatnya, tidak jarang orang tua mengabaikan perasaan anaknya sendiri.

Bagi kamu yang akan memasuki fase sebagai orang tua atau berencana membesarkan anak di masa depan, kamu perlu banyak belajar tentang ilmu mendidik anak dan lebih penting lagi ilmu psikologi. Karena apa? Banyak penyakit mental yang terbawa hingga dewasa disebabkan oleh sikap buruk orang tua pada anak, ini di antaranya.

1. Orang tua memaksakan logika orang dewasa pada anak

Orang tua memaksakan logika orang dewasa pada anak

Orang tua seringkali cemas bahwa anaknya akan melakukan kesalahan. Akibatnya, mereka berusaha memastikan agar anak-anaknya berpikir melalui sudut pandang orang dewasa. Tentu hal ini sangat keliru.

Bagiamanapun, setiap orang berpikir sesuai kondisi umurnya masing-masing. Jangan membebani pikiran dan mental anak dengan sesuatu yang belum seharusnya mereka lalui.

2. Memperlihatkan kesulitan finansial di depan anak

Memperlihatkan kesulitan finansial di depan anak

Tidak jarang kita temui orang tua yang mengatakan tidak punya uang untuk bayar ini dan itu. Orang tua tidak banyak yang tahu bahwa anak-anak bisa memikirkan hal ini secara serius. Akibatnya, mereka dapat dilanda rasa bersalah atau rasa sungkan karena mengira telah membebani orang tuanya.

Dan yang lebih fatal, anak-anak jadi tidak berani bercita-cita sesuai kemampuan mereka. Ini adalah salah satu faktor kenapa ada anak yang hanya ingin lekas dewasa untuk bekerja serta banyak uang. Padahal, mereka sepatutnya berkesempatan mencoba berbagai bidang sesuai hasrat masing-masing.

3. Membuat anak merasa bersalah

Membuat anak merasa bersalah

Tidak dapat dipungkiri bahwa orang tua hanyalah manusia biasa. Orang tua juga terkadang tergiur untuk sengaja membuat anak merasa bersalah hanya agar anak mengakui kesalahannya. Ini adalah hal yang fatal. Selain menyebabkan kebiasaan, hal ini membuat anak dirundung rasa rendah diri dan menyalahkan diri sendiri.

Selain itu, anak dapat tumbuh dengan gangguan kecemasan dan menjadi pribadi yang penakut. Hal itu dikarenakan mereka menghindari momen yang dapat menyebabkan mereka disalahkan orang tuanya sendiri.

4. Tidak menghargai progress sekecil apapun

Tidak menghargai progress sekecil apapun

Sayangnya, sejak zaman dahulu kita hanya dididik untuk menjadi pintar, tetapi tidak untuk mencintai diri sendiri. Membanding-bandingkan anak dengan orang lain atau saudaranya sendiri juga termasuk bentuk tidak menghargai anak. Akibatnya, banyak yang tumbuh dewasa dengan masih berpikir bahwa dirinya tidak berharga.

Ini adalah salah satu buntut perlakuan prang tua yang suka meremehkan prestasi atau kebaikan yang dilakukan si anak. Akibatnya, anak beranjak dewasa dengan membawa kepribadian inferior, dan ini membuatnya sulit berkembang. 

5. Tidak mau minta maaf pada anak

Tidak mau minta maaf pada anak

Bagaimana anak berperilaku di luar rumah juga dipengaruhi bagaimana orang tuanya bersikap pada sesama anggota keluarga. Jangan kaget jika suatu hari anak membuat kesalahan di sekolah tanpa merasa bersalah sedikit pun.

Itu tentunya sesuatu yang dilihat anak dari orang tuanya, ini dikarenakan anak-anak belajar melalui copying orang di sekitarnya. 

6. Memberi pemahaman gender yang keliru

Memberi pemahaman gender yang keliru

Nenek moyang kita dahulu sudah terbiasa memberi tembok tentang apa yang boleh dilakukan perempuan dan apa yang boleh dilakukan laki-laki. Pembatasan gender seperti ini bisa mengganggu dalam mengeksplorasi kemampuan diri sendiri.

Selain itu, orang tua juga banyak yang masih berpikir bahwa anak harus diberikan mainan sesuai gendernya.

Padahal, setiap mainan pada dasarnya memiliki filosofis sendiri dan melatih bagian otak yang berbeda. Ekspos yang melulu pada satu jenis permainan akan membuat kemampuan kognisi dan motorik anak tidak berjalan seimbang. 

Segala bentuk kesalahan dalam mendidik gender ini juga dapat terbawa hiingga dewasa. Contoh akibatnya, anak laki-laki merasa lebih superior dibanding teman mereka yang perempuan.

Anak perempuan juga akan berpikir bahwa mereka tidak dapat melakukan banyak hal dibanding laki-laki. Padahal, pemahaman gender yang keliru dapat menimbulkan masalah dari yang skalanya hanya bersifat pribadi hingga masyarakat.

7. Menyangkal perasaannya

Menyangkal perasaan anak

Seringkali orang tua malas ketika harus berurusan dengan emosi anak. Padahal, ketika berkomitmen untuk memiliki anak, seharusnya orang tua juga berkomitmen untuk berurusan dengan segala yang berkaitan dengan anak termasuk emosinya.

Orang tua yang cenderung bersikap antipati terhadap ungkapan perasaan anak akan ikut membangun gangguan kejiwaan pada anaknya sendiri. Anak akan takut memperlihatkan emosinya sehingga ia menjadi pribadi yang sangat pasif, memiliki gangguan psikosomatis, dan tidak mampu mempercayai orang lain terutama orang tuanya.

Jika orang tuanya saja tidak mau menerima dan memahami ungkapan perasaan si anak, bagaimana anak akan mempercayai mereka?


Secara tidak langsung, orang tua yang toxic ikut membunuh kepribadian dan jiwa anak. Untuk kamu yang berencana memiliki anak, janganlah menjadi orang tua toxic. Sama dengan kita, mereka adalah jiwa merdeka yang memiliki daya pikirnya sendiri.

Yang boleh kamu berikan pada anak adalah arahan, bukan tujuan. Terlebih lagi, banyak pasangan ingin memiliki anak dengan alasan agar ada yang merawat di hari tua. Ini benar-benar mindset yang sangat buruk.

Menjadikan anak sebagai investasi masa depan sama artinya kamu pamrih dalam membesarkan mereka. Padahal, mereka tidak meminta untuk dilahirkan di dunia ini. Harusnya yang bertanggung jawab atas hidupmu ya kamu sendiri, kamu menghadirkan anak ke dunia harusnya bertujuan murni untuk memberi kasih sayang.

Bagi pasangan orang tua atau pengantin baru, ingat ya, dunia anak yg pertama adalah orang tua. Persepsi mereka tentang dunia ini ada di tanganmu.

Jika kamu memberikan suasana yang minim rasa aman dan kedamaian, mereka akan mendewasa sebagai jiwa yang resah dan penuh luka dalam batinnya. Jangan bersikap egois hanya karena kalian menghadirkan mereka di dunia. Sekian dulu, selamat belajar menjadi orang tua :)