Superhero dan Menyoal Rekayasa Manusia

Mungkinkah superhero menjadi nyata?

Superhero dan Menyoal Rekayasa Manusia
Photo by Hal Gatewood from Unsplash

Kamu pasti tidak asing lagi dengan karakter-karakter superhero yang biasa menjadi protagonis di film-film aksi dan sci-fi, khususnya mereka yang pada awalnya hanya manusia biasa, kemudian oleh suatu insiden tiba-tiba menjadi kuat.

Sebut saja; Hulk, Spiderman, bahkan Gundala—pahlawan super asal tanah air.

Terpapar radiasi, digigit laba-laba radioaktif, hingga tersambar petir. Berbagai insiden mengejutkan itu lah yang kemudian memicu reaksi tertentu di tubuh mereka dan entah bagaimana selanjutnya dapat membangkitkan kekuatan super dalam kisah-kisah fiksi di atas.

Fiksi. Sebuah cerita rekaan yang tidak nyata.

Masuk akal sih, jika mengaitkan insiden-insiden pemicu di atas dengan perubahan genetika yang mungkin terjadi pada tubuh superhero andalan kamu. Meskipun tentu, prosesnya tidak akan semudah dan sesederhana di film-film.

Walaupun berada pada tingkat kerumitan tertentu, nyatanya, para ilmuwan telah menemukan cara untuk mengutak-atik susunan gen di tubuh manusia.

Lalu, mungkin gak sih, superhero menjadi nyata? Yuk, simak ulasannya berikut ini.

Apa Sih Rekayasa Manusia Itu?

Manipulasi gen manusia untuk kondisi medis tertentu

Kamu mungkin sebelumnya sudah tak asing dengan istilah rekayasa genetika, yakni sebuah upaya memodifikasi atau memanipulasi susunan gen dari suatu organisme untuk menghasilkan individu baru yang lebih unggul, salah satunya adalah pada tanaman transgenik.

Sama halnya dengan rekayasa genetika umum, rekayasa manusia sebetulnya adalah proses pengubahan susunan gen yang ada pada satu individu manusia baik secara somatik maupun gametik.

Hmmm, mulai muncul istilah asing, ya?

Sederhananya begini, pada rekayasa manusia yang dilakukan secara somatik, modifikasi gen hanya dilakukan pada bagian tubuh tertentu. Misalnya kamu ingin mengubah tangan kamu berwarna kehijauan seperti Hulk, maka modifikasi gen hanya dilakukan di bagian tangan.

Adapun pada rekayasa manusia secara gametik, modifikasi dilakukan pada sel gamet atau sel-sel reproduksi seperti sel telur dan sperma, agar individu yang terlahir dari modifikasi sel gamet ini dapat memiliki karakteristik yang diinginkan dan dapat terus diwariskan.

Bayangkan seperti ini deh, jika kamu menginginkan keturunan-keturunan kamu yang berikutnya memiliki bola mata biru seperti bule-bule di Eropa sana, maka kamu harus memodifikasi gen reproduksi yang ada di tubuh kamu sedemikian rupa melalui rekayasa gametik.

Mulai terlihat bedanya, kan?

Coba kalau seperti ini. Bayangkan petir yang menyambar Gundala sebagai suatu proses yang kemudian memodifikasi sel-sel di tubuh Gundala secara paksa, sehingga mengubah susunan genetikanya dan justru membangkitkan kekuatan super tertentu.

Kira-kira modifikasi yang terjadi pada superhero Gundala itu jenis somatik atau gametik, ya? Tuliskan jawaban kamu di kolom komentar, yuk.

Lalu Bagaimana Dampak dari Rekayasa Manusia?

Kamu tentu sudah tahu kalau manusia memiliki ribuan gen di dalam tubuhnya yang bertanggung jawab atas berbagai informasi genetika. Sedikit lebih detail, gen-gen inilah yang menyimpan berbagai macam informasi untuk membuat protein.

Kenapa protein?

Pada dasarnya, untuk dapat melangsungkan fungsinya secara normal, tubuh manusia memerlukan protein-protein tertentu. Nah, untuk dapat menghasilkan protein-protein ini, tubuh akan mengandalkan serangkaian informasi yang dibawa oleh setiap gen.

Pada kasus kelainan genetika, terdapat masalah pada gen tertentu sehingga ada protein yang keliru dibentuk, atau bahkan tidak dapat dibentuk sama sekali. Misalnya pada penyakit-penyakit genetika seperti; talasemia, hemofilia, hingga distrofi otot.

Di sinilah peran rekayasa genetika manusia dimanfaatkan untuk memanipulasi susunan genetika yang bermasalah tersebut agar dapat berfungsi normal. Para peneliti meyakini bahwa jenis terapi ini akan sangat bermanfaat bagi berbagai kasus kelainan genetika.

Rekayasa genetika manusia secara somatik atau yang juga dikenal sebagai terapi genetika memungkinkan modifikasi terhadap gen-gen bermasalah yang dipastikan bukan merupakan gen reproduksi, sehingga tidak akan memengaruhi susunan gen pada keturunan selanjutnya.

Ibaratnya begini, kalau kamu hanya ingin tangan kamu yang berwarna kehijauan seperti Hulk, dan anak-anak kamu nantinya tetap memiliki tangan yang normal, rekayasa jenis somatik ini bisa kamu jadikan pertimbangan.

Di sisi lain, rekayasa genetika manusia secara gametik disimpulkan sebagai proses pengubahan susunan gen yang akan berkutat di seputar gen-gen reproduksi, sehingga hasil modifikasinya akan diwariskan kepada garis keturunan selanjutnya.

Dengan kata lain, rekayasa gametik memungkinkan kamu untuk menciptakan individu baru yang telah dimodifikasi sesuai kehendak.

Di tahun 2018 lalu, seorang ilmuwan asal Cina, He Jiankui mengklaim kelahiran sepasang bayi kembar bebas HIV yang melibatkan rekayasa genetika secara gametik, yang kemudian menimbulkan perdebatan panjang oleh para pengatur regulasi.

Sepasang bayi kembar tersebut berasal dari ayah yang positif mengidap HIV dan ibu yang normal. Sel reproduksi keduanya kemudian dibuahkan secara in vitro dan membentuk embrio yang kemudian dimodifikasi oleh He Jiankui agar anak yang terlahir nantinya terbebas dari HIV.

Ragam Risiko dan Pelanggaran Kode Etik

Rekayasa manusia masih menimbulkan perdebatan

Rekayasa genetika manusia, baik secara somatik maupun gametik belum sepenuhnya dapat diterima oleh masyarakat luas. Sedikitnya, ada 40 negara yang menentang rekayasa manusia ini, terlepas dari apapun maksud dan tujuannya.

Dikutip dari Journal of Biomedical Sciences dan Wikipedia, berbagai macam risiko yang dapat muncul dari rekayasa genetika pada manusia di antaranya:

  • Dampak pada kesehatan. Dikarenakan adanya risiko gen yang sehat ikut terlibat dalam proses rekayasa, akan memunculkan risiko mutasi yang lebih ganas seperti tumor, kanker, atau penyakit berbahaya lainnya pada individu terkait.
  • Dampak psikologi. Melalui rekayasa gametik, jika orang tua dapat dengan bebas menentukan karakteristik calon anak yang mereka inginkan, dikhawatirkan nantinya anak akan bernilai seperti barang.
  • Dampak pada lingkungan sosial. Dengan kemudahan menciptakan individu manusia sebagaimana yang dikehendaki, akan berdampak pada semakin tergerusnya diversitas dan keragaman yang ada di dunia.

Banyak pakar masih menyoal terkait aturan-aturan rekayasa manusia, khususnya sejak kelahiran bayi kembar Lulu dan Nana dipublikasikan secara luas.

Rekayasa somatik cenderung lebih dapat diterima mengingat perannya yang dapat membantu penderita kelainan genetika. Meskipun terapi ini telah banyak tersedia untuk keperluan penelitian, namun Food and Drug Administration hanya melegalkan beberapa produk terapi ini di Amerika.

Perbedaan mencolok tampak pada rumitnya regulasi yang diberikan pada rekayasa gametik. Meskipun menjanjikan terhentinya pewarisan penyakit genetik pada keturunan selanjutnya, perdebatan alot masih terus berlangsung untuk rekayasa manusia jenis yang satu ini.

Kalau mau main aman sih, mari mengikuti saran para praktisi medis untuk menghindari rekayasa genetika manusia selama masih ada metode lain yang telah terbukti secara klinis dan tidak melanggar kode etik manapun.

"Saya terpesona oleh gagasan bahwa genetika adalah digital. Gen adalah urutan panjang dari kode huruf, seperti informasi komputer. Biologi modern menjadi sangat banyak cabang bagi teknologi informasi."

- Richard Dawkins


Sampai di sini, kamu telah menyimak bahwa mengutak-atik susunan genetika di tubuh manusia memang adalah sebuah proses yang bisa dilakukan. Walaupun pada praktiknya, tentu saja ada aturan-aturan yang nantinya harus diikuti dan ditaati.

Menciptakan manusia super atau superhero semacam Spiderman dan kawan-kawan, agaknya masih cukup jauh untuk benar dapat diterapkan mengingat teknologi yang ada sekarang. Namun yang pasti, ilmu pengetahuan sedang berkembang dan terus akan meluaskan jangkauannya.

Kamu hanya perlu mempersiapkan diri. Masa depan itu dekat, loh.