Tiap Tahun Debat Ucapan Natal, Nggak Pengin Ada Peningkatan nih?

Daripada debat soal ucapan Natal, ngomongin solusi perubahan iklim aja gimana?

Tiap Tahun Debat Ucapan Natal, Nggak Pengin Ada Peningkatan nih?
Photo by Susanne Jutzeler from Pexels

Tiap tahun, ketika menjelang Natal wacananya selalu sama, boleh atau tidak umat Islam mengucapkan selamat Natal. Dan pasti yang ribut urusan seperti ini hanya orang Islam, belum pernah terdengar santer umat agama lain yang memperdebatkan soal ini. Kok justru para minoritas ini adem ayem dan yang mayoritas suka gupuh?

Beberapa hari yang lalu bahkan, ibu saya, mendapat sebuah kiriman video dari salah satu ustad yang melarang mengucapkan selamat Natal. Ia berpendapat bahwa hal itu sama dengan mengamini keyakinan umat Kristiani dan mengkhianati keyakinan sendiri. Pastinya beliau punya landasan sendiri dengan argumennya.

Tapi sebentar, memang keyakinan beragama serapuh itu? Paling tidak, siapa yang bisa mengukur atau benar-benar tahu keyakinan seseorang?

Memang kita juga tidak bisa serta merta menyalahkan ulama-ulama yang melarang. Tapi juga bukan berarti menyalahkan ulama-ulama yang beropini bahwa mengucapkan selamat Natal itu boleh. Toh, pendapat ulama dari jaman Nabi sudah bermacam-macam dan berbeda-beda.

Tapi, yang perlu digaris-bawahi adalah, sebelum melakukan pelarangan, ada perlunya juga melihat situasi sosiologis masyarakat dalam negeri saat ini. 

Apakah masyarakat lebih membutuhkan pelarangan atau justru perekatan antar etnis dan agama? Jangan lupa bahwa agama manapun mengupayakan kedamaian. Kalau pelarangan mengucapkan selamat Natal justru bisa semakin menjauhkan upaya perdamaian, gimana dong?

Perdebatan ucapan natal

Mayoritas yang merasa terancam

Terkadang, ketika mendengar kata toleransi, sebagian orang merasa prinsipnya sedang diancam. Sikap kompromistis adalah no. Apalagi, di negara kita, yang lucu adalah para mayoritas yang merasa terancam dengan minoritas. Secara jumlah padahal sudah ketara lebih banyak. Apalagi soal regulasi dalam masyarakat, mayoritas banyak diuntungkan. 

Pada tahun 2018, LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) melakukan sebuah penelitian dengan 1800 responden  di 9 provinsi. Studi kualitatif tersebut menemukan bahwa kecurigaan terhadap pemeluk agama lain membuat seorang menjadi intoleran.

Selain itu, faktor fanatisme terhadap agama dan aktif bermedia sosial pun  mendukung kecenderungan perilaku intoleransi. Penelitian tersebut juga menemukan bahwa para responden menganggap bahwa pemeluk agama lain tidak bisa dipercaya, termasuk dalam hal kepemimpinan. 

Sebagai mayoritas yang merasa terancam, hal itu bisa dianalogikan sebagai manusia yang belum memiliki inner peace. Seseorang yang memiliki inner peace lebih damai dan percaya diri serta kokoh di dalamnya, tanpa berupaya mengintimidasi orang lain. 

Mayoritas yang tidak memiliki inner peace, serba merasa terancam dan melakukan berbagai pelarangan mulai dari mengucapkan selamat Natal sampai pelarangan perayaan Natal oleh pemerintah setempat.

Perdebatan ucapan natal 

Ngomongin hal yang lebih urgensi seperti krisis iklim atau ketimpangan ekonomi aja gimana?

Bukankah agama hadir untuk memberikan solusi kehidupan secara fleksibel seiring zaman? Berarti harusnya sih, beragama saat ini sudah beranjak dari sikap diskriminatif ke hal yang lebih substansial dan sarat urgensi. Misalnya tentang krisis ekologi, perubahan iklim, ketimpangan gender, ketimpangan sosial, dan sebagainya.

Kalau wacana-wacana keagamaan dibawa ke hal-hal seperti itu sih niscaya akan menimbulkan perdebatan solutif yang bermanfaat ya. Bukan hanya membuat jurang antar kepercayaan semakin dalam. 

Sebaiknya, saat ini beragama disikapi secara introversi saja lah. Agree to disagree. Meskipun kita sama sekali tidak memercayai yang orang lain yakini, ya sudah. Yang kita yakini biarkan tersimpan dalam hati saja. Tidak usah pamer dan berusaha mengatakan bahwa yang dipercaya orang lain salah, dan punya kita pasti benar. Peradaban kita mana mau maju-maju kalau seperti itu.

Katanya revolusi mental tapi wacana dari tahun ke tahun tetap sama dan intoleransi jadi seperti borok yang makin membusuk. Kalau memang niat revolusi mental ya mindset-nya di-upgrade dong. Wacananya diganti ke hal yang lebih maslahat untuk semua golongan.

Kalau misalkan dialog beragama ditingkatkan ke isu-isu yang kemanusiaan, kita bahkan tidak akan kepikiran untuk saling mencurigai. 

Jangan dikira beragama itu cuma punya kepentingan relasi vertikal dengan Tuhan saja. Kita juga punya kepentingan keagamaan dalam wadah pemahaman lingkungan dan sosial. Apalagi, saat ini ancaman yang lebih nyata adalah kondisi alam yang makin lama makin mendekati tidak realistis untuk ditinggali. 

Menurut salah satu artikel The Guardian di Oktober kemarin, banyak kota-kota di Eropa utara yang mulai membidik 'carbon-zero' dan beralih ke energi terbarukan. Seoul sedang gencar menanam pepohonan setinggi 30 meter dan memperluas area teduh.

Denmark bahkan punya tujuan yang lebih menantang bagi negaranya sendiri, yaitu memotong emisi sebanyak 70% pada tahun 2030. Dan ibukotanya, Kopenhagen bermaksud netral karbon pada 2025.

Nah, negara kita yang punya letak geografis rawan bencana kok masih tidak percaya dengan bencana iklim yang jelas nyata di depan, dan masih tidak beranjak dari intoleransi. 

Soal ketimpangan sosial juga tidak kalah butuh perhatian. Seperti dalam penelitian terbaru SMERU Research yang menyebutkan kenapa anak keluarga miskin cenderung tetap miskin. Ketimpangan sosial semacam ini bahkan bukan cuma mengancam komunitas agama tertentu, tapi semua yang dikategorikan miskin. 


Sudahlah, kenapa sih kita tidak legowo menerima bahwa perbedaan itu nyata. Bahwa sesuatu yang single atau biner ini tidak selalu memungkinkan. Janganlah bersikap picik seakan kita tidak punya hari esok untuk dikhawatirkan.

Toleransi itu memang sangat perlu agar kta bisa berdiskusi untuk mencari solusi bagi kesejahteraan bersama. Kalau sama-sama toleransi dan mencari solusi demi kemakmuran bersama, kita tidak akan sibuk bertengkar untuk hal yang buang-buang tenaga, waktu, dan pikiran seperti soal perbedaan kepercayaan. 

Lihat saja, suatu saat kita akan sangat merindukan sosok-sosok seperti Gus Dur dan Quraish Shihab, yang tidak ragu mengucapkan selamat Natal demi persaudaraan. Bagaimanapun kemanusiaan tidak bisa ditukar dengan prinsip individualis. Toh, kita tahu sendiri, menistakan makhluk lain dilarang oleh Tuhan, karena Tuhan mencintai perdamaian.