Tidak Ada Hubungan yang Sempurna, dan Itu Tidak Apa-apa

Seperti halnya hubungan yang tidak sempurna, perasaan juga tidak ada yang sempurna.

Tidak Ada Hubungan yang Sempurna, dan Itu Tidak Apa-apa
Photo by Helena Lopes from Unsplash

Menjadi manusia adalah sebuah peran yang yang sangat berani. Tidak ada satu pun dari kita yang diberi pilihan menjadi manusia atau tidak, atau menjadi manusia jenis apa. Ketika diterjunkan ke dunia, kita tiba-tiba disiapkan untuk bisa beradaptasi dengan segala situasi natural-biologis, dan psikis.

Menjadi manusia memang bukan hal yang mudah, kita harus berurusan dengan diri pribadi dan orang lain serta segala kepelikan yang menyertainya. Kamu mungkin sesekali pernah berpikir, kenapa dijadikan manusia. Bukannya tidak bersyukur, tapi toh setiap dari kita pasti juga pernah mempertanyakan identitas serta alasan kita di dunia.

Dan saya tahu apa lagi yang membuatmu terkadang begitu lelah untuk menghadapi dunia yang begitu rumit ini, pasti itu adalah hubungan. Entah hubungan dengan keluarga, teman, atau kekasih. Terkadang kepelikan sebuah hubungan memang membawa kita berpikir tentang hal-hal lain yang tidak lagi fokus pada solusi hubungan tersebut.

Wajar saja kok, itu bukan berarti kamu berlebihan, tapi seringkali pemikiran rumit tentang sebuah relasi memang tidak terelakkan. Untuk membuatmu lebih ringan dalam menjalani dan merenungi sebuah relasi, mungkin sekian hal ini bisa membantumu.

Semua orang berhak berubah, termasuk kita sendiri

Orang bisa berubah, people change

Sebagai manusia kita tidak mungkin menjadi orang yang sama setelah melewati berbagai situasi. Ketika kamu mendapati orang yang terdekatmu berubah, jangan lagi berpikir soal benar dan salah. Mungkin kamu perlu menihilkan pikiran terlebih dulu karena bagaimanapun sikap yang mereka ambil adalah keputusan yang melalui sebuah kronologis.

Mungkin kamu berpikir bahwa perubahan mereka tidak baik untuk hubungan kalian, tapi sekali lagi untuk meringankan dirimu, lebih baik kamu memikirkan reaksi yang lebih melegakan untuk dirimu.

Jika kamu juga meyakini bahwa manusia adalah makhluk yang berdaulat, kita tidak pernah bisa menuntut orang lain menjadi seperti apa. Begitu pula kita tidak bisa meminta secara definitif perasaan apa yang harus diberikan orang lain pada kita.

Kamu boleh menerima saran ini atau tidak, tapi demi ketenangan dirimu sendiri, kamu harus melatih seni melepaskan sesuatu. Termasuk membiarkan orang lain berubah dan hubunganmu dengan seseorang tak lagi sama. Jika memang merenggangkan hubungan atau membuat jarak bagus untuk kalian masing-masing, kenapa tidak. 

Ingat quote dari Maxim Gorky ini

Quote Maxim Gorky

Dalam sebuah karya novel Maxim Gorky yang berjudul Cinta Pertama, ada sebuah percakapan di mana kekasih Gorky berkata,

"Hidup, pada hakikatnya simpel dan kasar. Tidaklah mesti merumitkan hidup dengan pencarian-pencarian makna yang spesifik, yang ada di dalamnya, tetapi harusnya kau memang hanya belajar untuk meredakan kekasarannya. Lewat dari itu, kau tidak bakal beroleh apa-apa."

Kata-kata tersebut ada benarnya, kita memang perlu untuk berfilosofis terhadap hal-hal tertentu agar tidak hanya menajadi penumpang di hidup ini. Tapi, dalam hal tertentu kita juga tidak perlu berusaha keras berfilosofis.

Sejatinya waktu dan energi kita begitu terbatas, memfokuskan diri untuk berfilosofis terhadap semua hak juga tidak mungkin. Kita terkadang hanya perlu menyesuaikan diri pada situasi terkini dan lebih spontan dalam bertindak. 

Gaslighting

Kenali perilaku gaslighting dalam hubungan

Kamu juga perlu tahu apa itu gaslighting. Gaslighting sendiri sebenarnya adalah teknik manipulasi psikologis, tapi tidak jarang orang melakukan hal ini tanpa menyadari bahwa ia melakukan manipulasi tersebut pada orang lain.

Mungkin kamu bertanya-tanya, apa hubungannya tujuan artikel ini (kiat menjalani relasi dengan lebih ringan) dengan gaslighting. Benang merahnya adalah, belum semua orang menyadari adanya gaslighting dalam hubungan mereka, baik bersama anggota keluarga, kekasih, atau teman.

Gaslighting seringkali membuat kamu merasa menjalani sebuah relasi dengan sangat berat, penuh tekanan dan kecemasan, serta ketakutan. Gaslighting ini sendiri sangat buruk bagi kesehatan emntal karena membuat korbannya mempertanyakan kewarasannya sendiri.

Pelaku gaslighting akan melakukan manipulasi psikologis pada seseorang dengan cara berulang kali berbohong dan membuat pelakunya sendiri sebagai korban konflik. tentu saja dengan cara ini korbannya akan merasa bersalah, tapi di lain waktu gaslighter juga akan menaikkan harga diri korbannya.

Perlakuan ini akan membuat korbannya bingung dan mempertanyakan diri sendiri, kebingungan itulah yang diinginkan pelaku. Kebingungan ini lalu membuat si korban merasakan ketergantungan psikologis terhadap si pelaku. Karena korban gaslighter akan selalu membutuhkan kejelasan situasi psikologis dan memorinya dari pelaku gaslighting.

Jika kamu merasa tidak dapat mengungkapkan perasaan dalam sebuah hubungan dan selalu cemas atau trauma, barangkali kamu sedang menjalani sebuah relasi dengan seorang gaslighter. Jika memang iya, lepaskan relasi itu demi dirimu sendiri. 

Konstruk sosial menghalangi kita keluar dari hubungan toksik

Hubungan toxic dalam keluarga

Bisa diyakini 100%, lingkungan kita banyak yang tidak siap untuk membicarakan tentang hubungan keluarga yang toksik, terutama orang-tua dan anak. Oleh karena itu, di sini kamu ditantang untuk lebih sadar dan terbuka terhadap fakta bahwa hal tersebut memang nyata dan seringkali membuat hidup seseorang menjadi kacau.

Apa kamu mungkin pernah merasa muak, ketika kamu membicarakan masalahmu dengan orang tua pada seorang kerabat, lalu kerabat tersebut malah berkata "jangan gitu, bagaimanapun mereka orang tuamu". Ya, benar fakta bahwa secara biologis atau tidak mereka adalah orang tua kita adalah benar.

Tapi itu bukan berarti bahwa rasa sakit dari sikap toksik yang mereka lakukan jadi tidak valid hanya karena relasi orang tua-anak tersebut. Tidak ada pembenaran dalam sebuah kekerasan, karena itu konstruk sosial seharusnya juga tidak membuat penderitaan dan rasa sakit seseorang jadi tidak valid.

Ketika seseorang berulang-kali meremehkan perasaan orang lain dengan penyangkalan moralis seperti itu, korban kekerasan akan mempertanyakan kembali kewarasannya, dan itu membuatnya semakin buruk.

Jika kamu berada dalam hubungan yang toksik ini, yang kamu butuhkan mungkin bukan merenungi secara mendalam makna dari relasimu, tapi mungkin yang kamu butuhkan adalah memberi spasi pada hubungan tersebut.

Saya tidak memberi saran brutal seperti menjauhi orang tuamu, tapi kamu juga perlu sikap tegas, entah dengan berdialog dengan mereka, atau jika memberi jarak memang lebih baik, kenapa tidak.

Ketika kamu menjaga atau berusaha tetap dalam hubungan toksik hanya karena konstruk sosial atau dorongan norma, hal tersebut analoginya seperti mengisi sebuah balon hingga ia meledak. Dan tentu saja, yang meledak adalah dirimu sendiri. Ingat lagi kata-kata kekasih Maxim Gorky di atas, sejatinya kita hanya perlu menyederhanakan yang kasar. 


Itulah beberapa kiat yang perlu kamu ingat untuk menjalani sebuah relasi yang lebih merilekskan jiwamu. Mungkin ada satu hal lagi yang perlu kamu tahu dalam menjalin relasi dengan orang lain, yaitu jangan selalu berpikir bahwa ketika ada konflik, kesalahan terletak pada orang lain.

Sesekali kita perlu bercermin dan melihat, apakah ada yang salah dari diri kita. Jangan sampai kita mengalami banyak konflik karena ternyata diri kita sendiri yang toksik bagi orang lain, begitulah kira-kira. Kita selalu bisa mengusahakan agar sebuah relasi berjalan lancar, tapi kita juga harus lebih legowo dengan hasilnya.