Tips Agar Menjadi Pribadi yang Penuh Toleransi

Masyarakat berusaha melawan fakta mutlaknya perbedaan dengan cara mendiskriminasi dan tidak bersikap toleran. Lalu, sebenarnya apa yang dapat dilakukan agar menjadi pribadi yang penuh toleransi?

Tips Agar Menjadi Pribadi yang Penuh Toleransi
Photo by Matteo Paganelli from Unsplash

Kecemasan rupanya bukan lagi penyakit personal. Kecemasan juga memiliki bentuk yang lebih komunal, yaitu cemas terhadap kelompok dan bahkan pemikiran lain. Kecemasan tersebut adalah buntut dari sikap masyarakat yang memang suka mengelompokkan dan memberi identitas serta simbol-simbol tertentu pada tiap individu.

Pada akhirnya, mereka menderita kecemasan yang diakibatkan sikapnya sendiri. Andai saja masyarakat lebih acuh terhadap latar belakang yang berbeda, tentunya tidak perlu merasa cemas, apalagi bersikap intoleran.

Sikap tidak toleran tentu saja memandang individu atau kelompok lain tidak setara. Apa mungkin ini adalah sebuah kesombongan karena memandang secara egosentris? Terkadang kita juga tidak sadar tengah bersikap intoleran terhadap orang lain.

Dan dalam lingkup masyarakat, ini bukan lagi perkara yang bisa didiamkan hanya karena sebagian kelompok adalah mayoritas dan lainnya adalah minoritas. Ada beberapa hal yang perlu dilakukan oleh tiap individu, termasuk kamu,  agar menjadi pribadi yang penuh toleransi dan hidup dalam negara yang penuh tenggang rasa, apa saja itu?

1. Lebih rendah hati menerima pendapat dan ide lain

Percayalah, di atas semua usaha untuk bisa lebih toleran, sikap rendah hati adalah yang pertama harus didahulukan. Kenapa? Menurutmu, seorang siswa yang sudah merasa tahu pelajarannya, bakal mau belajar nggak? Nggak kan? Pasti dia sudah malas duluan untuk belajar.

Inilah pentingnya rendah hati dan keterbukaan. Untuk mengakses bacaan, diskusi, dan sebagainya, kita perlu menanamkan pikiran untuk mau mendengarkan ide dan pemikiran lain.

Dan ini bukan sikap kalah, tetapi sikap bijak seseorang yang berpikir.

2. Percayalah, membaca itu membuatmu banyak mengenal berbagai sisi

Inilah sebabnya dikatakan bahwa kebodohan dekat dengan amarah.

Seseorang yang mudah terpancing amarah adalah disebabkan ia hanya mengetahui apa yang ia ketahui. Sedangkan ketika kamu banyak membaca, kamu akan lebih mudah menerima pendapat dan kepercayaan orang lain.

Selain itu, adanya aturan-aturan yang tidak fleksibel, timpang, dan mencekik di negara kita salah satunya adalah karena kurangnya pengetahuan. Masyarakat kita sayangnya juga seringkali tidak sadar bahwa kurangnya pengetahuan membuat mereka sendiri mengalami banyak ketakutan yang tidak perlu. 

3. Banyak berinteraksi dengan orang yang berbeda latar belakang

Pepatah tak kenal maka tak sayang memang benar adanya. Tanpa memperkuat pemahaman dengan membaca dan berdialog, kita akan gagap saat menemui suatu fenomena yang tidak pernah kita temui. Ini adalah langkah kedua setelah kita membaca.

Berinteraksi langsung dengan seseorang yang memiliki pemikiran dan latar belakang berbeda akan melatih kita mengaplikasikan apa yang kita pahami dari bacaan.

4. Berdiskusi atau berdebat sehat dengan orang lain yang memiliki banyak pengetahuan

Ini adalah salah satu cara untuk menambah pengetahuan kamu, sekaligus mengkoreksi apakah ada pemahamanmu yang barangkali kurang tepat. Berdiskusi atau debat sehat adalah salah satu cara mencari titik temu sebuah fenomena. Dari kegiatan seperti ini, kamu akan mengambil manfaat dalam aspek komunikasi dan keilmuan.

Seseorang yang khazanah keilmuannya luas, maka akan semakin mudah menerima orang lain.

Ia juga tidak akan dengan mudah menjustifikasi suatu hal dikarenakan pemikiran bahwa ia bisa jadi salah dan orang lain benar.

5. Jangan menelan mentah-mentah segala informasi yang masuk bukan dari sumber kredibel

Saat ini, kita mudah sekali menerima informasi yang tidak jelas siapa sumber pertamanya. Namun, yang lebih parah lagi adalah generasi di atas kita yang juga masih sering terlibat dalam perilaku intoleran.

Ini sebenarnya juga salah satu tugas kita untuk mengarahkan (bukan menggurui) orang tua, om-tante, kakek-nenek kita agar lebih peka terhadap sumber berita kredibel serta berisi kebencian atau tidak.

Kamu pun begitu, ketika ada sebuah media yang meliput tentang kelompok tertentu, jangan lantas menjustifikasi macam-macam lewat kolom komentar, kecuali kamu mengetahui perihal mereka dengan pengetahuan yang banyak.

Jika kamu hanya sekilas tahu atau dengar, lebih baik menahan diri untuk tidak berkomentar. Mari kita menjadi pribadi yang lebih berperadaban dimulai dari bersikap bijak di kolom komentar. 


Semua tips ini pastinya bukan sebuah proses yang dihasilkan dari satu-dua latihan, namun ini adalah hal yang perlu selalu diusahakan.

Kalian tahu tidak, di negara-negara Skandinavia, walaupun orang-orangnya tidak beragama, mereka tidak memiliki kesenjangan sosial. Bahkan semua orang mampu meraih akses yang sama untuk kesejahreraan. 

Hal ini karena mereka adalah negara dengan tingkat literasi yang tinggi, dan itu berdampak pula pada tingginya toleransi.

Masyarakat Skandinavia berpikiran bahwa, walaupun mereka tidak setuju dengan suatu golongan, itu bukan alasan untuk merisak atau menghalangi seseorang mendapat akses kemakmuran dan hidup dengan tentram. 

Sepertinya, kelima langkah di atas bukan lagi dalam status perlu, melainkan urgent. Ini agar kita semua tahu bahwa manusia berhak mendapatkan akses dan kenyamanan yang sama. Walaupun kita memiliki agama, ras, atau pandangan berbeda, pada dasarnya kita adalah satu kesatuan dalam hal kemanusiaan.