Trik Mudah Menangani Anak yang Kecanduan Smartphone

Si kecil mulai kecanduan smartphone? Jangan tunggu parah! Temukan cara mudah menanganinya di sini.

Trik Mudah Menangani Anak yang Kecanduan Smartphone
Photo by Alexander Dummer from Unsplash

Penggunaan smartphone atau ponsel pintar di zaman sekarang kian meramai. Hampir setiap dari kamu tentu memiliki gadget telekomunikasi seukuran saku tersebut.

Di masyarakat luas, kamu mungkin sering melihat anak kecil yang dengan lihai menggeser layar smartphone di tangannya. Dengan kacamata orang tua, kamu dapat memaklumi itu mengingat smartphone sudah jadi bagian yang sulit terpisahkan dari kehidupan sehari-hari.

Tindakan orang tua yang dengan leluasa membiarkan anak mereka bermain smartphone seolah menjadi teladan yang kemudian dilatahkan oleh pasangan ibu dan ayah lainnya. Tidak sedikit loh, orang tua yang membiarkan anak-anaknya bermain smartphone secara bebas hanya agar si kecil tidak rewel.

Namun tahukah kamu, bahwa sejalan dengan manfaat yang dirasakan melalui penggunaan smartphone oleh anak, ada pula beberapa dampak negatif yang mengintai, sebagaimana dikutip dari Jurnal Penelitian Guru Indonesia dan Royal College of Paediatrics and Child Health berikut ini:

  • Berkurangnya kecerdasan sosial anak,
  • Kesulitan membagi waktu,
  • Risiko radiasi dari layar smartphone terhadap kesehatan anak,
  • Terhambat pertumbuhan dan perkembangan otaknya,
  • Ketidakseimbangan antara pola makan dan aktivitas anak, serta
  • Risiko pada kesehatan mental.

Jangan khawatir, Moms and Dads. Berikut ini sudah dirangkumkan beberapa trik mudah yang bisa segera diterapkan untuk menangani si kecil yang kecanduan smartphone.

1. Menjadi Role Model

Anak akan secara insting mengikuti apa yang dicontohkan orang tua kepadanya

Sejak awal, orang tua sudah menjadi role model bagi anak-anaknya. Dalam keseharian, sesungguhnya anak sedang mengobservasi segala ucapan atau tindakan yang diperbuat oleh orang tuanya.

Kalimat pertama yang diucapkan anak adalah kalimat yang diajarkan oleh orang tua. Anak juga cenderung akan bersikap sebagaimana ia dididik di rumah. Oleh karenanya, tidak salah jika rumah disebut sebagai sekolah pertama bagi anak.

Mari mengevaluasi diri kamu sebagai orang tua. Mungkin kesulitan anak untuk lepas dari gawai ponsel pintarnya awalnya karena meniru kamu yang kerap tak bisa jauh dari smartphone selama di rumah.

Sebelum melarang anak untuk mengurangi waktu bermain ponsel, akan lebih meyakinkan jika kamu sebagai orang tua memberikan contoh yang nyata pada anak.

Bukan berarti kamu harus secara total melepaskan diri dari smartphone kamu selama di rumah, ya. Sebagai orang dewasa, tentu ada banyak hal penting yang harus menguras atensi kamu terhadap layar smartphone, soal pekerjaan misalnya.

Kamu bisa mulai untuk tidak melibatkan smartphone selama sedang makan bersama keluarga atau ketika sedang bermain bersama anak, misalnya. Ingat, karena anak akan mencontoh apa yang dilakukan oleh orang tuanya.

Sebagaimana yang disebutkan oleh seorang pakar dalam hubungan keluarga, Brandon T. McDaniel dari Illinois State University, bahwa atensi terhadap smartphone yang ditunjukkan oleh orang tua sebenarnya saling memengaruhi dengan tingkah laku yang terbentuk pada anak.

2. Membuat Aturan Khusus

Membuat aturan sebagai bentuk kontrol terhadap aktivitas anak dalam menggunakan smartphone

Jangan lupa bahwa kamu sebagai orang tua tentu memiliki kekuasaan tertinggi di rumah. Oleh karenanya, kamu tentu dapat menetapkan aturan atau batasan-batasan terkait penggunaan smartphone oleh anak—dan bahkan oleh seluruh anggota di rumah.

Mulailah dengan membuat aturan-aturan sederhana yang jelas dan tentunya perlu kamu sosialisasikan terlebih dahulu dengan anggota keluarga yang lain. Anak-anak juga perlu tahu bahwa pembatasan yang kamu buat sebenarnya ditujukan untuk kebaikan mereka.

Misalnya dengan membatasi anak hanya boleh bermain ponsel di akhir pekan, sehingga anak dapat tetap fokus pada pelajaran dan tugas-tugas sekolah selama weekday. Atau dengan membatasi anak hanya boleh bermain smartphone sampai jam-jam tertentu, agar tidak mengganggu waktu tidurnya.

Di hari pertama, mungkin akan timbul protes atau kesulitan dari anak ketika mulai menerapkan aturan tersebut secara terpaksa. Namun dengan sedikit pembiasaan dan penjelasan dari orang tua, anak akan dapat beradaptasi dan menerimanya sebagai sebuah keharusan demi kebaikannya sendiri.

3. Mencari Alternatif Permainan Konvensional

Bermain balok sebagai pengganti smartphone

Anak yang kecanduan bermain ponsel, umumnya disebabkan karena merasa jenuh dan membutuhkan pengalih perhatian. Oleh karenanya, berbagai game menarik yang disediakan pada smartphone bisa menjadi alternatif menagihkan bagi anak.

Sebagai orang tua, sebisa mungkin, kenalkanlah anak-anak kamu dengan perangkat-perangkat permainan offline yang banyak tersedia di pasaran.

Daripada mendoktrin si kecil untuk memainkan game di ponsel selagi merasa bosan, permainan konvensional tentu bisa jadi pilihan yang tidak kalah menarik. Permainan-permainan konvensional juga layak dipilih, mengingat dapat turut mendukung daya pikir dan imajinasi anak.

Berbagai permainan konvensional yang tidak kalah seru dari game di smartphone, di antaranya; kelereng, bola bekel, boneka, ular tangga, monopoli, bahkan bongkar pasang. Kamu bisa menyesuaikan jenis permainan dengan gender, usia dan ketertarikan dari si anak.

Jangan lupa untuk sesekali ikut bermain bersama si kecil, ya.

4. Beraktivitas di Luar Rumah

Bermain bola bersama teman-teman sebagai salah satu aktivitas yang bisa dilakukan anak di luar rumah

Salah satu dampak buruk dari kecanduan anak pada smartphone adalah berkurangnya kecerdasan sosial anak pada lingkungan sekitar, sehingga anak akan kesulitan membangun interaksi dengan orang lain.

Dampaknya mungkin belum terlihat, jika anak masih berusia cukup kecil dan tidak membutuhkan banyak interaksi dengan lingkungan luar. Namun tidak ada salahnya mengantisipasi dampak buruk tersebut sejak usia dini kan, Moms and Dads?

Karenanya, jika peran kamu adalah sebagai orang tua, tidak ada ruginya untuk mulai mengantisipasi hal ini sejak dini, yaitu dengan lebih aktif mengajak anak melakukan aktivitas di luar rumah yang tentunya juga akan melibatkan orang lain.

Misalnya saja dengan bermain di taman, atau kumpul bersama keluarga dan kerabat besar, sehingga anak akan bertemu rekan-rekan seusianya dan dapat memulai interaksi sosial mereka.

Seringlah melibatkan anak pada berbagai aktivitas sosial yang juga melibatkan orang lain. Selain dapat melatih kecerdasan sosialnya, anak juga akan dapat mengembangkan kemampuan kognitifnya terutama yang terkait dengan lingkungan luar.

5. Membuat Rutinitas Baru

Berkebun sebagai alternatif kegiatan dengan si kecil di waktu senggang

Jika di hari Senin sampai Jumat, kamu sebagai orang tua beserta anak-anak akan lebih sibuk dengan aktivitas terkait pekerjaan dan sekolah, manfaatkanlah hari libur atau akhir pekan sebagai waktu yang dikhususkan untuk keluarga.

Family time kalau bahasanya anak zaman now.

Family time ini tidak harus selalu aktivitas bersama yang dilakukan di luar rumah. Kamu sebagai orang tua dapat mulai melibatkan anak dalam berbagai aktivitas atau kegiatan sehari-hari di dalam rumah. Misalnya dalam beberapa contoh berikut:

  • Melakukan olahraga atau peregangan di Minggu pagi,
  • Membuat kue atau camilan,
  • Berkebun,
  • Membersihkan rumah,
  • Atau sekadar mengobrol santai sambil menikmati teh dan susu hangat.

Rutinkan untuk melakukan kegiatan-kegiatan bersama anak di akhir pekan. Selain untuk mengalihkan perhatian anak dari layar smartphone, ini juga baik untuk membangun kedekatan kalian sebagai keluarga.


Pada intinya, mengatasi kecanduan anak terhadap smartphone hanya tentang menyibukkan anak dengan aktivitas-aktivitas offline, yang tentunya juga harus didampingi dengan perhatian dan ketegasan kamu sebagai orang tua.

Sebagaimana kutipan dari seorang profesor psikologi berikut ini,

Smartphone dapat merusak hubungan orang tua dan anak, baik pada level sosial maupun emosional, yakni dengan membatasi proses adaptasi yang selayaknya dibangun secara alami satu sama lain.

- Tracy A. Dennis-Tiwary

Jangan tunggu timbul masalah. Bertindaklah sekarang.

Untuk kamu yang punya masalah lain terkait pola pengasuhan anak, 7 Rekomendasi Buku Parenting bagi Orang Tua Zaman Now ini bisa sangat membantu, loh.