Tujuan Hidup dan Arti Kebahagiaan

Tentang makna hidup dan sekelebat bahagia yang menjadi tujuannya. Benarkah hidup ini hanya untuk mengejar bahagia?

Tujuan Hidup dan Arti Kebahagiaan
Photo by Ylanite Koppens from Pexels

Bicara soal kehidupan, agaknya kurang lengkap kalau tanpa tujuan di setiap pengembaraannya. Ibarat kamu sedang naik sebuah kendaraan, tentunya ada lokasi yang hendak kamu tuju atau ada titik yang akan menjadi pemberhentian kamu nantinya.

Tujuan.

Kalau secara bahasa tujuan adalah sasaran yang hendak dicapai, maka tujuan hidup dapat dijabarkan sebagai target jangka panjang yang menjadi acuan hidup seseorang.

Tujuan adalah sesuatu yang akan mengarahkan langkah kamu. Ketika kamu dihadapkan pada persimpangan bernama pilihan hidup, tujuan adalah panah yang akan menuntun kamu untuk tetap berada di jalan yang tepat.

Sesederhana itu.

Kalau kembali ke kamu, tujuan hidup seperti apa sih yang ingin kamu capai?

Beberapa di antara kamu mungkin akan menjawab; hidup makmur, punya banyak uang, menjadi terkenal, menghabiskan waktu bersama orang-orang tersayang, dan banyak lagi lainnya.

Kebahagiaan, kamu bisa menyingkatnya seperti itu.

Siapa sih yang ingin hidup susah? Semua kisah hidup tentu inginnya berakhir bahagia, andai memang semudah itu.

Tampaknya ini cukup menjawab kenapa kamu masih bertahan di pekerjaan kamu yang mungkin terasa membosankan. Atau juga menjadi alasan kenapa kamu belum juga lelah mendapatkan pengakuan dari orang-orang yang mungkin tidak kamu senangi.

Lalu, apa itu menjadikan bahagia sebagai tujuan mutlak dari hidup?

Simpulan begitu juga tidak salah kalau berpegang pada salah satu kutipan dari Ed Victor yang melafalkan bahwasanya tujuan hidup adalah untuk membahagikan diri.

Namun sebaris target begitu agaknya cukup menggelitik juga jika belum ditelaah. Makna sebuah kata bahagia tentu akan melebar ke segala penjuru jika belum dikupas lebih teliti.

Sebelum merumuskan tujuan hidup secara buta, yuk mengonfirmasi beberapa hal ini lebih dulu.

Bahagia dan Rasa Senang

Pada hakikatnya, bahagia dan senang adalah kegembiraan

Merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia, bahagia dan senang adalah dua hal yang relatif sama. Namun jika menggali lebih jauh, dua kata itu ternyata memiliki filosofi yang cukup berlainan, loh.

Rasa senang adalah sukacita yang muncul karena adanya faktor luar. Kamu bisa sangat senang ketika makan enak, berbelanja, nonton film, berkencan, atau hal-hal sederhana lainnya.

Di situ lah poinnya. Kesenangan adalah sukacita sementara yang hanya akan muncul jika diinisiasi sesuatu dari luar. Garis bawahi kata sementara. Artinya, jika inisiator itu hilang, kesenangan kamu pun akan lenyap begitu saja.

Di lain pihak, kebahagiaan adalah bentuk lain dari sukacita yang bisa berlangsung dalam waktu lama. Bahagia pun bisa disebabkan oleh faktor luar, namun tidak sepenuhnya terikat olehnya. Sejatinya, bahagia adalah kepuasan yang muncul dari dalam diri kamu dan dapat bertahan lama.

Misalnya saja; perasaan bahagia tinggal di pedesaan, bahagia dalam kehidupan pernikahan, atau rasa bahagia yang muncul selama punya peliharaan.

Ini tidak hanya berlangsung dalam satu atau dua jam, melainkan bisa menahun, karena hakikat kebahagiaan adalah emosi yang timbul atas apresiasi terhadap suatu pengalaman yang terjadi dalam hidup.

Sebagaimana kata Dalai Lama XIV, bahwa kebahagiaan yang sesungguhnya adalah berkaitan dengan hati dan pikiran.

Sekilas Tentang Tujuan Hidup

Arah hidup yang dituju

Mari mengacu pada kutipan sebelumnya, bahwa tujuan hidup adalah menemukan kebahagiaan.

Bahagia. Jika kamu menelan ini bulat-bulat, maka tentu akan ada banyak versi bahagia bagi masing-masing orang.

Seorang budak cinta mungkin akan menjadikan si dia sebagai tujuan hidupnya. Seorang pekerja keras bisa saja mengidamkan kemakmuran sebagai target hidup. Atau seorang lain di luar sana mungkin bertujuan untuk menguasai dunia seperti para penjahat di film-film fantasi.

Ekstrem, sih. Tapi tidak salah, kan? Karena pada dasarnya, bahagia adalah sesuatu yang subjektif.

Naif.

Kalau katanya Buya Hamka,

"Kalau hidup sekadar hidup, babi di hutan juga hidup. Kalau bekerja sekadar bekerja, kera juga bekerja."

Kalau bahagia adalah sekadar bahagia, maka tentu akan menciptakan dunia yang penuh keegoisan.

Tentu bukan makna sesempit itu yang dimaksud dari menujukan hidup pada bahagia. Terlebih mengingat definisi manusia sebagai makhluk sosial yang tidak bisa lepas dari manusia lainnya. Ada sekelebat arti yang perlu dikorelasikan untuk memaknai ini lebih dalam.

Benang Merah

Menjadikan hidup lebih berarti

Mari menyimak kutipan lainnya tentang tujuan hidup. Kali ini datang dari seorang filsuf asal Jerman kelahiran abad ke-18, Albert Schweitzer, yang berujar tujuan hidup manusia adalah untuk melayani dan menunjukkan belas kasih serta kemauan untuk membantu orang lain.

Pengabdian, bisa disebut begitu. Mungkin terdengar membosankan, sama naifnya dengan definisi bahagia.

Namun sebagaimana kata seorang penulis dari Amerika,

"Orang yang paling bahagia bukan mereka yang mendapatkan lebih banyak, tetapi mereka yang bisa memberi lebih."

- H. Jackson Brown Jr.

Nah. Kamu mungkin bisa mulai menarik benang merahnya.

Tujuan hidup ternyata bukan semata untuk bahagia, melainkan juga memberikan kebermanfaatan bagi sekitar. Bukan semata tentang apa yang kamu dapatkan, melainkan juga perkara sejauh mana keterlibatan kamu untuk berguna bagi sesama.

Jangan merasa enggan dulu. Tidak berbeda dengan bahagia, kebermanfaatan juga punya banyak cara untuk dilakoni.

Bermanfaat tidak hanya berarti bahwa kamu harus lebih dulu menjadi pahlawan untuk membasmi segala bentuk kejahatan di bumi. Menjadi bermanfaat juga bisa dimulai dari hal-hal kecil yang mungkin tidak kamu sadari.

Kalau kamu masih bingung, beberapa contoh berikut mungkin bisa membantu:

  • Berdonasi ke lembaga amal,
  • Berbagi kisah inspirasi,
  • Menjadi seorang sahabat yang bisa diandalkan,
  • Membantu ibumu membereskan pekerjaan rumah, atau bahkan
  • Berpartisipasi dalam kegiatan sosial.

Melakukan hal-hal kecil seperti ini satu atau dua kali mungkin tidak akan memberikan banyak makna. Namun jika melakukannya terus-menerus, percayalah akan ada banyak kebermanfaatan yang bisa memberikan arti buat hidup kamu dan juga orang lain.

Jangan berfokus pada besarnya dampak yang bisa dibuat oleh tindakan kamu. Kamu hanya perlu melakukan sesuatu yang berguna, tidak peduli seberapa remehnya kebermanfaatan itu.

Dengan demikian, hidup kamu tidak lagi tentang apa yang ingin kamu capai, tapi juga tentang seberapa berarti keberadaan kamu buat orang-orang.

"Banyak orang yang telah meninggal, namun nama baik mereka tetap kekal. Dan banyak orang yang masih hidup, namun mereka seakan orang mati yang tak berguna."

- Imam Syafi'i